<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151</id><updated>2012-02-16T10:59:11.679-08:00</updated><category term='Hotel di Malang'/><title type='text'>Info Wisata Indonesia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-4655270047647161154</id><published>2010-06-29T12:56:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:07:57.338-07:00</updated><title type='text'>Belajar Sehat dari Trawas</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="117" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/newstart.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Trawas itu sebuah dusun kecil di lembah beruntai pegunungan. Persisnya di Mojokerto, Selatan Surabaya, di dusun Slepi, desa Ketapanrame. Sebuah desa sunyi di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Ada apa di sana? Begitu istimewakah sehingga orang tertarik belajar sehat di Trawas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertetangga dengan Tretes, sentra wisata lawas yang ingar-bingar, Trawas sepi sendiri. Vila-vila kehilangan penghuni tumbuh bertebaran di sekujur dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengahnya tampak bangunan besar mirip hotel. Di bibir jalan memasuki bangunan dua lantai terpampang tulisan Newstart. Ini bukan merek biskuit atau rokok, melainkan program hidup sehat impor dari Amerika.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="172" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/newstart1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Itu menurut penuturan Angely, istri pria Manado, Torry. Angely lulusan Kanada, bidang keahliannya tak ada sangkut pautnya dengan kesehatan, putri bungsu mendiang seorang pengusaha Surabaya. Pak Ali, begitu masyarakat sekitar dusun mengenal sang ayah yang murah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jantung koroner reda tanpa operasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ali menolak operasi ketika dokter memvonis dua cabang koroner jantungnya tersumbat. "Menggendong" penyakit koronernya, Pak Ali mampu bertahan hidup selama 13 tahun berkat program hidup sehat yang diyakininya. Ia mencarinya sendiri ke Amerika, dan menemukan Newstart Weimar CA-USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Newstart membuat menu harian Pak Ali berubah total. Semua tanpa minyak dan mentega. Tidak pula mengonsumsi daging maupun ikan. Sayur-mayurnya pilihan, dan amat beraneka ragam. Sebagian organik. Begitu juga jenis bebuahannya yang ditanam sendiri di lahan seluas 10 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita rasa menu dikreasi mendekati sebagaimana aslinya perkedel, sup, tumis jamur, tanpa diimbuhi penyedap, apalagi pengawet. Gula pasir diganti gula merah. Selalu terhidang beragam kacang, umbi, susu kedelai, madu, dan roti gandum buatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, Pak Ali jadi bugar. Jantungnya tak lagi "merengek". Hidupnya berubah teratur, jadwal tidurnya tertib, kegiatan fisiknya tertata, semua serba terprogram. Keberhasilan ini kemudian melahirkan komitmen dalam diri Pak Ali, kelak ingin membagikan pengalamannya kepada banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="172" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/newstart2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Sayang&lt;/a&gt;, Pak Ali meninggal ketika bangunan Newstart yang diimpikannya baru setengah jalan. Si bungsu Angely lalu melanjutkan pesan luhur sang ayah. Sampai sekarang sudah aktif operasional lebih dua tahun. Ia menyebut kegiatannya The Lifestyle Centre of Indonesia: Newstart Healthy Living.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini program lawas asal Negeri Paman Sam yang kini sudah banyak cabang di beberapa negara bagian, selain di Filipina, Singapura, Malaysia. Di Trawas resmi cabang untuk Indonesia. Program disusun bagaimana gaya hidup diubah lewat nutrisi, latihan fisik, air sehat, cahaya matahari melimpah, udara segar, menekuni saat jeda, mengendalikan diri, dan berserah diri kepada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Trawas program itu dilakoni oleh banyak peserta paket. Sebagian datang dari Taiwan, Singapura, dan Malaysia, selain dan luar kota dan sekitar. Testimonial peserta paket hidup sehat ala Trawas mengaku lebih bugar setelah melanjutkan programnya sendiri sekembali ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Belajar memasak sehat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta sehat maupun mereka yang sedang sakit, atau pascasakit, perlu membawa pendamping. Dalam program selain dihidangkan menu sehat, diajarkan pula bagaimana memasak sendiri menu sehat tak ubahnya menu vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="184" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/newstart3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tidak semua lancar beradaptasi dengan menu tanpa minyak tak bermentega, nihil daging dan ikan. Namun, yang sudah berhasil melampauinya, merasakan badannya lebih sehat. Bukti bahwa mengubah gaya hidup, termasuk menu kembali ke alam, benar menyehatkan. Bagi yang tidak menganutnya, ini menjadi pembuktian terbalik, bahwa program seperti itu ternyata menyehatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu sehat itu tidak selezat menu jahat. Semakin gurih sebuah menu lantaran kaya lemak dan minyak. Makin berdaging dan berikan, makin nikmat sebuah menu. Sayang, justru yang gurih nikmat itu tidak menyehatkan, dan membinasakan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mata air termurni&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih Trawas bukan kebetulan. Tak jauh dari lokasi ada tiga tujuan wisata alam. Ada air terjun (Dlungdung), ada peninggalan arca dan candi Hindu dengan mata air konon termurni di dunia (Airlangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="172" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/newstart5.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bantaran sawah berundak terhampar menghijau, selain hutan tropis yang liar mengepung. Sungguh panorama yang menumbuhkan keheningan batin, khususnya bagi orang kota. Selain itu, mudah menjangkau situs di Trowulan dan aneka arkeologis lain, termasuk ke Pandaan dan Bromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket hidup sehat di Trawas bisa memilih dua minggu tinggal tak ubahnya di hotel. Bedanya, ada sejumlah program, ahli gizi, ahli pijat, dan terapi air. Selain praktik memasak sehat, ditatar hidup sehat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, empat anjing peliharaan Angely sejak bayi sudah diberi menu yang sama. Konon sehat, penyakit kulitnya sembuh sendiri, tak pernah flu seperti juga tuannya yang berjanji akan tetap memilih gaya hidup warisan sang ayah sampai ujung umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Senior&lt;br /&gt;foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.newstartindonesia.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;newstartindonesia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-4655270047647161154?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/4655270047647161154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/belajar-sehat-dari-trawas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4655270047647161154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4655270047647161154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/belajar-sehat-dari-trawas.html' title='Belajar Sehat dari Trawas'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8123526078912720</id><published>2010-06-29T12:53:00.002-07:00</published><updated>2010-07-06T00:09:19.472-07:00</updated><title type='text'>Mempelajari Sejarah Kekuatan AURI</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/aurimagetan.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Mungkin sudah biasa bagi kita untuk berlibur dan menyaksikan pemandangan indah atau mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal dengan pusat perbelanjaannya. Namun, terkadang kita tidak tertarik kepada wisata yang memiliki unsur sejarah. Padahal, kita semua mengetahui bahwa &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;bangsa yang besar&lt;/a&gt; adalah bangsa yang menghargai&amp;nbsp; sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita lebih memahami akan sejarah, sebenarnya pemikiran kita memang akan menjadi lebih terbuka dan lebih menghargai keberadaan bangsa kita. Salah satu cara agar kita lebih mengerti tentang sejarah bangsa adalah berwisata ke daerah yang memiliki unsur sejarah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="187" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/aurimagetan1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Berwisata ke tempat yang memiliki unsur sejarah tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal. Di Jawa Timur, tepatnya di Magetan, Anda bisa melihat sisa kejayaan AURI berupa pesawat MIG 17 Fresco yang masih gagah terpampang di Pasar Maospati dan Pangkalan TNI Angkatan Udara Iswahjudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat MIG 17 Fresco ini merupakan pesawat yang membuat Belanda mengurungkan niatnya mengambil kembali Irian Barat dan membawa nama Indonesia menjadi Angkatan Udara terkuat nomor empat di dunia pada tahun 1960an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat pesawat tersebut yang terpampang dengan gagah Pasar Maospati, Anda tidak perlu menempuh perjalanan yang panjang, karena Anda hanya perlu berangkat dari Solo menggunakan bis Eka dan turun di terminal Maospati, karena letak Pasar Maospati adalah di seberang terminal tersebut. Untuk melihatnya di Pangkalan TNI Angkatan&amp;nbsp;&lt;img align="left" alt="" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/aurimagetan2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Udara Iswahjudi juga tidak sulit, karena Anda cukup menggunakan bis Eka dan turun di depan Pangkalan TNI Angkatan Udara Iswahjudi. Harga yang dikeluarkan juga tidak mahal, karena biaya dari Solo ke Pasar Maospati maupun ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Iswahjudi hanya 35.000,- Rupiah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal sejarah lebih dalam memang akan membuat kita lebih menghargai bangsa kita. Menyaksikan kegagahan pesawat MIG 17 Fresco di Magetan juga akan membuat kita semakin menyadari, bahwa sesungguhnya kita adalah bangsa yang besar dan kuat. Karena itu, dengan mempelajari sejarah lebih dalam, kita akan semakin menyadari bahwa kita harus bangga dengan jati diri bangsa kita dan semakin bersemangat untuk melakukan hal-hal positif demi kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Kristo Aritonang - Fanya Jodie/FJ/BD&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://vibizlife.com/travel_details.php?pg=travel&amp;amp;id=13807" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;vibizlife&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;foto : Kristo Aritonang,&amp;nbsp;&lt;a href="http://emokidonlastevening.multiply.com/photos/album/58/MAGETAN_bukan_MANHATTAN#1" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;emokidonlastevening&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8123526078912720?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8123526078912720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/mempelajari-sejarah-kekuatan-auri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8123526078912720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8123526078912720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/mempelajari-sejarah-kekuatan-auri.html' title='Mempelajari Sejarah Kekuatan AURI'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2813204346202954510</id><published>2010-06-29T12:53:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:09:42.047-07:00</updated><title type='text'>Menari Bersama Ombak Batukaras</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batukaras.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Tepatnya minggu lalu kita berangkat dari bandung sekitar jam sepuluh malem kurang kurang dikit. Dua driver &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;jagoan&lt;/a&gt; yang memacu laju si yaris hitam membuat perjalanan terasa singkat. Sekitar tengah malam kita rehat dulu sambil menikmati ayam goreng khas rumah makan margosari di ciamis. Ayam goreng margosari emang terkenal gurihnya apalgi ditemani sambel pedas yang diberi sedikit terasi….ughh mana tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dua malam kita sampe di hotel bonsai batukaras, dapet kamar yang paling ujung. Kamar di hotel ini ada yang terdiri dari 6 tempat tidur dan ada yg terdiri dari 2 tempat tidur, kita ambil kamar yang tersisa satu-satunya yaitu kamar yang ada 6 tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batukaras1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dulunya hotel bonsai ini reot banget dan pilihan terkahir buat para pengunjung batukaras untuk memejamkan matanya di kasur. Beda dulu beda sekarang, semenjak hotel ini dibeli sama bule aussie tempat ini jadi lumayan asik. Soal tarif juga ga mahal, karena rata-rata hotel di batukaras memakai konsep backpacker hotel alias satu kamar dengan banyak tempat tidur dan di charge per kepala, tapi tetap ada minimun charge-nya yaitu 4 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semalam per kepala dikenakan biaya 50 ribu rupiah. Paginya sehabis menyantap dua helai roti dan secangkir kopi, kita langsung liat liat ombak dan ternyata ombaknya cukup bagus tapi airnya dingin banget. Dingin ga menyurutkan niat para surfer untuk merasakan liukan ombak di atas papan surf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batukaras2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Seharian penuh kita nikmati dengan berselancar di atas ombak legokpari batukaras dengan diselingi makan siang di tempat makan kang ayi yang murah meriah. Batukaras bak surga kecil buat para surfer pemula dan tingkat menengah hingga tingkat mahir buat melatih keahlian menari nari di atas ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi batukaras jika tempuh dengan kendaraan dari pantai pangandaran akan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Tidak seperti pangandaran; di batukaras hiburan satu satunya adalah ombak tapi jangan salah; turis manca negara lebih banyak berkunjung ke lokasi ini dibandingkan dengan pantai pangandaran. Memang kebanyakan dari mereka adalah turis yang berkelana untuk mencoba kemantapan kakinya untuk berdiri dan meliuk bersama ombak di atas surfboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batukaras3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Ada tiga lokasi yang sering digunakan para surfer untuk menantang ombak. Karang, begitu sering disebutnya; mungkin karena banyaknya karang di dasar lautnya; lokasi ini hanya digunakan pada saat air laut sedang pasang. Legokpari, pantai ini yang paling favorite karena disini buat pemula pun bisa mencoba keberaniannya untuk berselancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada Bulben (bulak bendak), mungkin kalau buat surfer-surfer yang udah jago tempat ini bakal jadi tempat favoritenya; di bulben kita sering mendapatkan ombak yang membentuk benteng sangat panjang bahkan barel pun bisa didapatkan di lokasi ini. Untuk menuju bulben kita haru menggunakan perahu dengan biaya sekitar 200 ribu rupiah dan kapal ini tidak merapat ke pantai jadi para surfer akan mulai mencari point ombak dengan meloncat dari perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batukaras4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Belum puas rasanya kalau jalan jalan ke pangandaran tidak menikmati hidangan lautnya. Malamnya kita berangkat dari batukaras ke lokasi yang banyak menyajikan hidangan laut segar di pangandaran. Karena takjub dengan biota laut yang segar (alesan sebenernya sih laper); kita pun mesennya ga kira kira alias kebanyakan. Dengan 200 ribu rupiah kita mendapatkan 1 kg kepiting, 1 kg udang (lupa jenisnya, pokoknya bukan yang paling mahal), 1/2 kg cumi cumi. Jenis yang dipesan sih tidak bervariasi tapi jumlahnya tetep kebanyakan buat 3 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kegiatan yang kita lakuin ga berbeda dengan hari hari sebelumnya, bangun tidur dan sarapan dilanjutkan berselancar bersama debur ombak diselingi makan siang dan kopi lalu balik ke hotel buat mandi diteruskan makan malam dengan sajian laut (seafood) di pangandaran, balik lagi ke hotel dan tidur…… huh senangnya bermalas malasan di tepi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Ricky Andrian&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://bandunglife.com/menari-bersama-ombak-batukaras.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;bandunglife.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto : Ricky Andrian,&amp;nbsp;&lt;a href="http://bandunglife.com/menari-bersama-ombak-batukaras.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;bandunglife.com&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2813204346202954510?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2813204346202954510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menari-bersama-ombak-batukaras.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2813204346202954510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2813204346202954510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menari-bersama-ombak-batukaras.html' title='Menari Bersama Ombak Batukaras'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-4191927781061426779</id><published>2010-06-29T12:52:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:09:56.118-07:00</updated><title type='text'>Pantai Pasir Putih</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="104" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pasirputihsitubondo.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pantai Pasir Putih di Kabupaten Situbondo, Jawa&amp;nbsp; Timur, dikenal karena hamparan pasirnya yang putih. Tak hanya itu, morfologi pantai inipun terbilang unik. Topografinya yang melengkung menghadap ke laut dengan latar belakang hutan membentuk gugusan panorama yang sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke arah&amp;nbsp; utara, wisatawan dapat melihat luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di&amp;nbsp; pinggir pantai. Di belakangnya, rimbunan hutan menyajikan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;kesejukan tersendir&lt;/a&gt;i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;Pasir Putih merupakan salah satu tujuan wisata&amp;nbsp; pantai andalan bagi Provinsi Jawa Timur. Hal ini karena letaknya yang&amp;nbsp; strategis, yaitu di pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Wisatawan yang&amp;nbsp; ingin menuju ke Bali (dari Surabaya), atau menuju Gunung Bromo (dari Banyuwangi),&amp;nbsp; biasanya mampir untuk beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang&amp;nbsp; disuguhkan, terutama menikmati eloknya matahari terbenam (sunset).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="171" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pasirputihsitubondo1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Berbagai macam olahraga laut seperti berenang, menyelam, maupun berselancar dapat dilakukan di pantai ini. Jika enggan&amp;nbsp; berenang, pengunjung dapat menaiki perahu untuk berlayar dan menikmati pemandangan bawah laut. Beragam hiburan seperti konser musik dan bermacam lomba seperti lomba selancar, memancing, dan lomba perahu nelayan tradisional sering&amp;nbsp; diadakan untuk memuaskan para wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pada bulan Oktober para nelayan&amp;nbsp; biasanya mengadakan upacara Petik Laut, yaitu melarung makanan, jajanan, dan&amp;nbsp; kepala lembu ke tengah laut sebagai upaya memohon berkah hasil laut dari Tuhan.&amp;nbsp; Pada upacara ini tak jarang diadakan pementasan musik ”Gandrung”, yaitu musik&amp;nbsp; tradisional yang populer di daerah Banyuwangi dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="169" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pasirputihsitubondo2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Lokasi Pantai Pasir Putih terletak di Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa&amp;nbsp; Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur menuju Pantai Pasir Putih terbilang mudah&amp;nbsp; karena posisinya di pinggir jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Arena wisata&amp;nbsp; pantai ini berjarak + 174 km dari Surabaya atau sekitar 4 jam perjalanan menggunakan bus (angkutan umum) dari terminal Bungurasih, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah Situbondo,&amp;nbsp; Pasir Putih berjarak + 21 km atau setengah jam perjalanan dari Kota&amp;nbsp; Situbondo. Dari Ibu Kota Kabupaten ini, perjalanan menuju Pasir Putih dapat ditempuh dengan angkutan umum sepert bus dan minibus. Tiap pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp&amp;nbsp; 5.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="170" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pasirputihsitubondo3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Untuk pengunjung yang belum mahir berenang, di sekitar lokasi pantai terdapat banyak penyewaan ban-pelampung untuk&amp;nbsp; bermain-main di tengah laut. Wisatawan juga dapat menyewa perahu yang dilengkapi kota-kaca untuk menyaksikan pemandangan bawah laut. Pengelola wisata juga menyediakan fasilitas kamar mandi, musholla, dan beberapa tempat untuk beristirahat berupa bangku beton yang biasanya dekat dengan para penjaja makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini juga tersedia kios-kios yang menjual souvenir seperti replika perahu serta hiasan dan aksesoris dari kerang. Bagi yang ingin menginap, di sekitar lokasi terdapat penginapan berupa hotel, motel, dan losmen. Tetapi kalau ingin berkemah, ada juga area khusus untuk&amp;nbsp; berkemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Lukman Solihin&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://wisatamelayu.com/id/object/334/453/pantai-pasir-putih-situbondo/&amp;amp;nav=geo" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;wisatamelayu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://cache.virtualtourist.com/517272-Pantai_Pasir_Putih_by_rie-Situbondo.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;rie&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/indlest/3715710517/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;indlest&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://cscoba.0fees.net/2009/08/03/pantai-pasir-putih" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;cscoba&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/harisj/2277824181/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;harisj&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-4191927781061426779?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/4191927781061426779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pantai-pasir-putih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4191927781061426779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4191927781061426779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pantai-pasir-putih.html' title='Pantai Pasir Putih'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-5545938220780952860</id><published>2010-06-29T12:51:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:10:24.027-07:00</updated><title type='text'>Berwisata ke Kampung Budaya Sindangbarang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sindangbarang.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Bosan mengisi liburan akhir pekan di Jakarta? Sebuah kompleks wisata budaya Sunda Bogor yang dikenal dengan Kampung Budaya Sindangbarang (KBS) menawarkan suasana lain. &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Kita bisa tinggal di dalam rumah-rumah&lt;/a&gt; bergaya arsitektur tradisional Sunda di lereng timur Gunung Salak, tepatnya di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan luas lahan 8.600 meter persegi, di kompleks KBS saat ini ada 28 bangunan. Dahulu, dalam sebuah kampung adat Sunda, bangunan-bangunan itu untuk dihuni dan digunakan pupuhu (kepala adat), panggiwa (pembantu ahli pupuhu), beserta kokolot (para tokoh adat).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sindangbarang1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tamu yang menginap di sana dapat berinteraksi dan mengikuti irama kegiatan penduduk setempat, sementara uang sewa dari rumah-rumah itu dikelola komunitas tersebut untuk memelihara lingkungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang dimiliki komunitas pemerhati budaya Sunda, Bogor, dan Kampung Budaya Sindangbarang, tercatat ada 78 lokasi situs sejarah Pakuan Sindangbarang di desa tersebut. Situs itu, antara lain, berupa mata air Jalatunda, Taman Sri Bagenda, punden Majusi, bukit kecil berundak,&amp;nbsp; punden Surawisesa, punden Leuweung Karamat, batu tapak, menhir, dan dolmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sindangbarang2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Situs-situs tersebut kini berada di tengah perkampungan penduduk, persawahan, atau lahan yang dikeramatkan. Ada juga kemungkinan sebagian situs rusak dan hilang. Ini adalah kampung adat ke-20 yang ada di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pupuhu (Kepala Adat) Kampung Budaya Sindangbarang Achmad Mikami Sumawijaya, setelah terputus lebih dari 32 tahun, tradisi adat yang menjadi daya tarik wisata kini mulai rutin digelar, di antaranya Seren Taun yang telah digelar untuk keempatkalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Agus Susanto&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://images.kompas.com/detail_photostory.php?id=145" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;KOMPAS IMAGES&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://kompas.co.id/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-5545938220780952860?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/5545938220780952860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/berwisata-ke-kampung-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5545938220780952860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5545938220780952860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/berwisata-ke-kampung-budaya.html' title='Berwisata ke Kampung Budaya Sindangbarang'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-7422176025262688594</id><published>2010-06-29T12:50:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:10:32.008-07:00</updated><title type='text'>Tradisi Gubyang Balong</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plered.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Warga Purwakarta, Jawa Barat mempunyai kebiasaan unik untuk kembali mempersatukan hubungan silaturahmi dan tali persaudaraan. Mereka menggelar lomba berebut menangkap itik serta gubyang balong, yakni berebut menangkap ikan dikolam hanya menggunakan tangan. Selain menyaksikan acara ini juga menjadi hiburan alternatif menghilang stress bagi warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Beginilah suasana&lt;/a&gt; berebut menangkap itik disebuah kolam yang berada di Kampung Cibogo Girang, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Acara untuk kembali memperkuat tali silaturahmi ini berjalan meriah kala puluhan orangtua dan anak - anak saling berebut mengejar sejumlah itik yang dilepaskan oleh panitia.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="163" src="http://liburan.info/images/stories/plered1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="180" /&gt;Meski tidak seluruh warga yang turun mencebur ke kolam mendapatkan itik yang mereka buru, namun kebahagiaan dan keceriaan tetap terpancar diwajah mereka. Terlebih jika itik yang diperebutkan berhasil didapatkan. Selesai dengan acara berebut menangkap itik, warga kembali berbaur kedalam kolam untuk gubyang balong atau berebut ikan di kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="152" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plered2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="180" /&gt;Ribuan ekor ikan berbagai jenis yang sebelumnya ditanam panitia, langsung diperebutkan oleh warga. Meski bebas mengambil sebanyak mungkin ikan yang ada, namun sebisa mungkin warga diharapkan hanya diperbolehkan mengambil ikan dengan menggunakan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi gubyang dan berebut menangkap itik ini sengaja dilakukan, untuk mempererat kerukunan dan tali silaturahmi warga. Diharapkan acara ini juga dapat kembali meningkatkan minat warga untuk gemar memakan ikan dan daging unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Indosiar.com&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Time+Traveller&amp;amp;y=cybertravel|2|0|3|2570" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;cbn&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://radarkarawang.blogspot.com/2009_08_03_archive.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;radarkarawang&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-7422176025262688594?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/7422176025262688594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tradisi-gubyang-balong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7422176025262688594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7422176025262688594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tradisi-gubyang-balong.html' title='Tradisi Gubyang Balong'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2613738765219775178</id><published>2010-06-29T12:50:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:11:37.484-07:00</updated><title type='text'>Tradisi Ojung, Ritual Minta Turun Hujan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ojung.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Berharap segera turun hujan dan terhindar dari akibat kekeringan musim kemarau warga Desa Klabang, Bondowoso menggelar tradisi Ojung. Selain pagelaran tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung, dalam tradisi itu juga digelar pertandingan saling pukul menggunakan sebatang rotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;menjadi pembuka&lt;/a&gt; tradisi Ojung yang digelar di Balai Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Tarian ini berlatarbelakang cerita rakyat di desa itu yakni Juk Seng. Juk Seng saat itu dipercaya menjadi demang yang dalam menjalankan tugas pemerintahan dibantu orang setia Jasiman dan murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama sahabatnya singa, Juk Seng sering bertempur mengusir penjajah. Karena tauladan itulah warga sekitar rela memberikan uang sedekah kepada para penari. Dipimpin sesepuh warga sekitar, melanjutkan prosesi ritual selamatan terbesar di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="224" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ojung1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Mereka meletakkan aneka makanan sesaji di mata air sembari membakar dupa. Mereka makan bersama di pinggir sungai, usai doa bersama mohon agar selamat dari mara bahaya akibat musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiba saatnya puncak tradisi Ojung digelar. Pertandingan adu pukul sebatang rotan. Peserta lelaki dewasa sejak usia 17 tahun hingga usia tua 50 tahunan. Saat wasit memberi aba-aba, pertandingan dimulai dua pemakin inipun adu tangkas memecutkan rotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa panas menyengat, itulah yang dirasakan pemain Ojung begitu batang rotan mendarat dibagian tubuh. Tradisi Ojung digelar warga Klabang, Bondowoso setiap tahun sekali saat musim kemarau. Selain keselamatan dengan tradisi ini warga juga berharap segera turun hujan atau tak terjadi kemarau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://indosiar.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Indosiar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://indosiar.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Indosiar&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://masjun.net/wp-content/uploads/2009/04/gerbong-maut1.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;masjun&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2613738765219775178?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2613738765219775178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tradisi-ojung-ritual-minta-turun-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2613738765219775178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2613738765219775178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tradisi-ojung-ritual-minta-turun-hujan.html' title='Tradisi Ojung, Ritual Minta Turun Hujan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6416742801945047470</id><published>2010-06-29T12:47:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:12:00.334-07:00</updated><title type='text'>Pantai Kenjeran, Keindahan yang Terabaikan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kenjeran.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Tak hanya sebagai kota industri dan perdagangan, Surabaya juga merupakan kota bahari. Sebagai kota bahari, sudah barang tentu, 'kota buaya' ini memiliki objek wisata pantai. Itulah Pantai Kenjeran. Dibanding sejumlah objek wisata pantai lain di tanah air seperti Pantai Parangtritis (Yogyakarta), Pantai Sanur dan Kuta (Bali), serta Bunaken (Sulawesi Utara), memang Pantai Kenjeran kalah kondang. Padahal, jika ditilik dari potensi panorama dan sumber daya alamnya, sebenarnya Pantai Kenjeran tak kalah dibanding pantai-pantai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;Taman Hiburan Pantai menawarkan objek wisata alami dengan fasilitas minimalis. Yang ditawarkan objek wisata ini lebih pada dunia anak-anak. Karenanya, fasilitas yang tersedia didominasi oleh permainan anak-anak seperti komedi putar, perosotan, jungkat-jungkit, tangga lingkar, dan permainan anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kenjeran1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Hal itulah yang membuat THP lebih dikenal sebagai tempat wisata anak-anak atau keluarga. THP juga mempunyai klub selancar angin bernama Camar yang beranggotakan 22 orang. Setiap Ahad dan hari libur, para anggota klub ini menunjukkan kebolehannya di tengah laut. Tentu saja, ini menjadi atraksi yang sangat menarik bagi para pengunjung THP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Kenjeran Park &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;yang dikelola pihak&lt;/a&gt; wisata. Di lokasi ini, lebih banyak lagi yang ditawarkan. Mulai dari sarana hiburan, olahraga, wisata religi, budaya, hingga edutainment. Di Water Park Kenjeran misalnya, tersedia kolam renang dengan berbagai kedalaman. Bahkan, untuk anak-anak, ada papan luncur setinggi lebih dari 10 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik dari Kenjeran Park adalah bibir pantainya yang ditata dengan arsitektur Cina. Kya-Kya Kenjeran, demikian nama tepian pantai ini. Gaya arsitekturnya yang cantik membuat Kya-Kya Kenjeran menjadi tempat rekreasi favorit keluarga di Surabaya. Bahkan wisatawan mancanegara, khususnya dari Cina, Korea, dan Thailand, tak sedikit yang melancong ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="190" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kenjeran2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Pada malam hari, Kya-Kya terlihat lebih menarik. Cahaya temaram dari lampion-lampion cantik yang bergelantungan membuat suasana pantai terasa romantis. Sembari menikmati suasana itu, pengunjung bisa menikmati aneka makanan laut di restoran sea food yang berderet di sepanjang pantai. Jika Anda ke sana, jangan lewatkan mencicipi makanan laut khas Surabaya seperti lontong kupang, satai kerang, dan kepiting rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pertengahan September, Kya-Kya Kenjeran menjadi ajang Festival Bulan Purnama. Dalam festival yang berlangsung selama sebulan ini, Kya-Kya Kenjeran tampil semarak dengan ribuan lampion. Tahun ini, Festival Bulan Purnama sepertinya akan lebih meriah menyusul dibangunnya Kya-Kya baru di sisi timur pantai.&amp;nbsp; Kenjeran Park juga menyediakan fasilitas futsal indoor dengan kapasitas lebih dari dua lapangan. Bagi yang suka perang-perangan, tersedia wahana blast. Hanya dengan membayar Rp 30 ribu, Anda bisa berperan sebagai pasukan counter terorist. Masih di objek ini, tersedia arena bagi Anda yang gemar kebut-kebutan. Park Race, arenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kenjeran3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;i tempat ini, silakan ngebut dengan mobil, sepeda motor, atau go-kart. Belakangan didirikan pula tempat ibadah umat Tri Dharma (Buddha, Kong Fu Tsu, dan Tao) yang megah. Letaknya di dalam kompleks Pantai Ria Kenjeran. Yang mencolok dari bangunan ini adalah patung Dewi Kwan Im Pou Sat setinggi 20 meter beserta pendampingnya: dua anak kecil dan dua pasang dewa. Di bawahnya, meliuk sepasang naga raksasa memperebutkan sebuah bola mustika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain patung Dewi Kwan Im, ada pula patung Buddha atau Dewa Empat Muka (Four Faced Buddha Monument) setinggi sembilan meter (36 meter termasuk kubahnya). Monumen yang diresmikan pada 9 Nopember 2004 ini masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Buddha terbesar dan tertinggi di Indonesia. Bangunan ini menempati lahan seluas 225 meter persegi diapit empat ekor gajah putih di empat penjuru mata angin. Menurut Dudi Anda, manajer PT Granting Jaya, pelaksana pembangunan monumen, bangunan tersebut hampir mirip dengan patung Four Faced Buddha di Thailand. ''Tapi total bangunan beserta patungnya di Surabaya ini lebih tinggi daripada di Thailand,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kenjeran4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Masih belum puas menikmati THP dan Kenjeran Park? Cobalah naik perahu ke tengah laut. Caranya? Tidak sulit. Sebab, ada nelayan yang menyediakan jasa perahu. Mintalah pada nelayan tersebut untuk mengantarkan Anda berperahu ke tengah laut. Biasanya, para nelayan memasang tarif Rp 50 ribu per orang untuk satu kali keliling laut. Anda juga bisa mencarter perahu sendiri. Tarifnya, Rp 250 ribu. Dari tengah laut, Anda bisa melihat panorama Pantai Kenjeran secara utuh dengan segala aktivitasnya. Selain itu, Anda bisa melihat dari dekat hiruk-pikuk kapal-kapal nasional maupun internasional yang hendak berlabuh atau bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tengah laut pula, mata Anda bisa melihat pertautan sudut Pulau Jawa dan Madura yang menawan, juga patung Jalesveva Jaya Mahe milik Armatim TNI-AL yang berdiri megah sambil berkacak pinggang dengan pedangnya. Satu hal lagi yang bisa Anda saksikan adalah jembatan Suramadu. Inilah jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. (rn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.perempuan.com/new/index.php?aid=15945&amp;amp;cid=13&amp;amp;08%2F27%2F09%2C02%3A08%3A09" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;perempuan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://mycityblogging.com/surabaya/page/4/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;mycityblogging&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://blog.chris.web.id/morning-trip-to-kenjeran/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;chris.web.id&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.travelblog.org/Photos/2827287.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;travelblog&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=20692" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;kamera-digital&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6416742801945047470?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6416742801945047470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pantai-kenjeran-keindahan-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6416742801945047470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6416742801945047470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pantai-kenjeran-keindahan-yang.html' title='Pantai Kenjeran, Keindahan yang Terabaikan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6751079390798348932</id><published>2010-06-29T12:45:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:13:03.134-07:00</updated><title type='text'>Bersahabat dengan Deru Air Terjun</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="121" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cibereum.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Berdentam-dentam rasanya hati bila melihat air terjun ini. Semburat air bertenaga, jatuh menerpa serombongan batu di bawahnya. Sekejap terselip takut, saat kita tepat berada di bawah air jatuhnya. Namun, bulir-bulir embun air yang terbawa angin ke mana saja, seperti memberitakan persahabatan sejati. Aku, sang air terjun perkasa, akan selalu menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu makna yang akan tersirat, saat kaki anda berkesempatan mengempaskan jejaknya disana kapan saja anda mau. Di lokasi yang terletak di kaki gunung Gede– Pangrango ini, kembali teringat betapa hingga puluhan tahun terakhir tak banyak yang berubah di sana.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju air terjun cibeureum masih harus melewati deretan pohon hijau. Meniti undakan-undakan bersahabat. Menikmati segar udara hasil fotosintesa, yang kualitasnya amat jauh berbeda ketika berada di perkotaan yang penuh debu dan asap kanlpot kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cibereum1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="188" /&gt;Nafas anda pasti akan sedikit tersengal, namun hal itu akan terbayar lunas ketika anda tiba di air terjun, karena anda akan dimanjakan pemandangan yang teramat indah dan eksotis. Sekadar mengingatkan bahwa kita berada di kawasan konservasi, yang telah berumur ratusan tahun sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, Tempat wisata&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt; ini juga mengalami &lt;/a&gt;pengembangan-pengembangan yang bisa memudahkan pengunjung untuk dapat lebih menikmati air terjun ini. hal itu terlihat dengan berdirinya sebuah jembatan panjang yang menuju air terjun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cibereum2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="193" /&gt;Jalan rawa tepat sebelum pos Panyangcangan yang mau tak mau harus kita lewati, telah dibuatkan jembatan kayu. Lebih horizontal, ketimbang berlelah mendaki. Ini lebih bersahabat, ketimbang mengotori kaki, karena rembesan rawa yang memang kadang mengganggu dibawahnya. Terlihat lebih cantik dan rapi, bersahabat karena memudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga kemudian ditemui, ketika makin mendekati air terjun paska pos Panyangcangan. Deretan kayu-kayu yang tersusun rapih, seperti menjadi pintu gerbang. Menuju suasana alam, air terjun "Merah" yang terdengar mengelegak di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cibeureum, kini juga terlihat beberapa bangunan baru menghias. Sebuah altar kayu, berdiri tepat diatas aliran sungai Cikundul. Ada juga sebuah bangunan mirip altar namun lengkap dengan atapnya juga menghias kini. Membuat kita lebih nyaman menikmati alam, tanpa harus kegerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="197" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cibereum3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tempat wisata alam ini tampak dibuat lebih bersahabat kini. Menjauhkan orang-orang dari bayangan sulit menikmatinya. Membuat makin dekat alam, dengan banyak orang. Yang berarti makin banyak orang yang berkesempatan mengenali alamnya. Dan memutuskan mencintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu takut tersesat saat kita memutuskan untuk menyambangi air terjun ini. Bila memulai perjalanan dari Jakarta, arahkan saja laju kendaraan menuju kawasan Puncak. Tiba di persimpangan Cibodas, masuklah ke arah daerah Taman Nasional. Parkir kendaraan di pelataran parkir, yang teramat luas di area desa Rarahan, dan kita bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="200" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cibereum4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bila memulai perjalanan dari Bandung. Arahkan mobil anda ke daerah Cianjur. Terus menuju area Puncak. Tiba di simpang Cibodas, setelah Cipanas, lakukan hal serupa seperti yang diungkapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa melapor dulu ke pos PHPA Taman Nasional Gede – Pangrango yang berada di dekat pelataran parkir. Bayar karcis tanda masuk yang tak terlalu mahal, dan setelah semuanya beres silahkan menikmati indahnya alam sepuas anda. setelah puas anda juga bisa membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang yang banyak dijual di lokasi taman wisata Cibodas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.perempuan.com/new/index.php?aid=15939&amp;amp;cid=13&amp;amp;08%2F27%2F09%2C02%3A08%3A09" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Perempuan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://zulphiandie.blogspot.com/2007/11/oke-deh-cerita-ini-sebetulnya-sudah.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;zulphiandie&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://anindito.blogspot.com/2006/07/cibeureum.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;anindito&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.perempuan.com/new/index.php?aid=15939&amp;amp;cid=13&amp;amp;08%2F27%2F09%2C02%3A08%3A09" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Perempuan&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6751079390798348932?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6751079390798348932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/bersahabat-dengan-deru-air-terjun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6751079390798348932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6751079390798348932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/bersahabat-dengan-deru-air-terjun.html' title='Bersahabat dengan Deru Air Terjun'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2585988420910890466</id><published>2010-06-29T12:44:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:14:11.774-07:00</updated><title type='text'>Keraton Sumenep di Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="128" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/keratonsumenep.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Keraton Sumenep di Jawa Timur dikenal dengan&amp;nbsp; sebutan “Potre Koneng” (Putri Kuning). Julukan ini muncul karena di bekas&amp;nbsp; Keraton Sumenep pernah hidup seorang permaisuri keraton, Ratu Ayu Tirto Negoro, yang memiliki kulit kuning bersih &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;yang berasal dar&lt;/a&gt;i negeri Cina. Untuk menghormati sang permaisuri, atap Keraton Sumenep diberi warna kuning cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Keraton Sumenep didirikan pada paruh kedua abad ke-18 atas prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau&amp;nbsp; Tumenggung Arya Nata Kusuma. Keraton ini diarsiteki oleh seorang China bernama&amp;nbsp; Liaw Piau Ngo. Melalui tangan Liaw Piau Ngo inilah lahir sebuah bangunan&amp;nbsp; keraton yang unik, yang memadukan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/keratonsumenep1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dengan mengunjungi keraton ini, wisatawan dapat&amp;nbsp; melihat langsung hasil akuturasi budaya Jawa, Eropa, dan Cina yang membentuk&amp;nbsp; bangunan Keraton Sumenep. Pada bangunan Keraton Sumenep, pengunjung dapat melihat nuansa keraton Jawa dengan pilar-pilar dan lekuk ornamennya yang bergaya&amp;nbsp; Eropa serta rangkaian atap yang menyerupai kelenteng Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum komposisi bangunan pada Keraton&amp;nbsp; Sumenep tidak berbeda dengan keraton-keraton di Jawa, misalnya sama-sama&amp;nbsp; memiliki pendopo yang cukup luas untuk menerima tamu, ruang peristirahatan&amp;nbsp; raja, serta lokasi pemandian untuk permaisuri dan putri-putri raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="184" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/keratonsumenep2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sebelum memasuki keraton, pengunjung akan&amp;nbsp; disambut gapura dengan nama “Labang Mesem”. Dalam bahasa Indonesia&amp;nbsp; “labang” berarti pintu, dan “mesem” adalah senyum. Gapura ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung. Di sisi kanan keraton,&amp;nbsp; terdapat “Kantor Koneng”, yaitu ruang kerja raja Sumenep, yang sekarang&amp;nbsp; difungsikan sebagai museum. Ruangan ini berisi koleksi peralatan rumah tangga&amp;nbsp; keraton. Di luar keraton, wisatawan juga dapat mengunjungi Masjid Jamik Sumenep&amp;nbsp; yang usianya tak jauh berbeda dengan usia Keraton Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraton Sumenep terletak di pusat kota (dekat alun-alun) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/keratonsumenep3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Untuk menuju kota Kabupaten Sumenep wisatawan&amp;nbsp; harus menyeberangi pantai utara Jawa melewati Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya&amp;nbsp; menuju Pelabuhan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura dengan memanfaatkan jasa&amp;nbsp; kapal feri. Lama perjalanan + setengah jam dengan biaya sekitar Rp.&amp;nbsp; 2.000. Pelabuhan ini terletak di ujung barat pulau Madura,&amp;nbsp; sedangkan letak Keraton Sumenep berada di ujung timur pulau yang berjarak + 90 km dari Pelabuhan Kamal. Atau anda dapat juga naik jembatan Suramadu dari Surabaya langsung menuju Madura. Perjalanan dari Pelabuhan Kamal ke kota Sumenep dapat&amp;nbsp; ditempuh dengan bus maupun minibus dengan lama perjalanan sekitar 3 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisatawan yang berkunjung ke Keraton Sumenep dapat memperoleh keterangan tambahan mengenai sejarah dan perkembangan keraton dari&amp;nbsp; pengelola keraton yang bertindak sebagai guide. Jika memerlukan menginap,&amp;nbsp; di sekitar museum terdapat penginapan berupa hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Lukman Solihin&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://wisatamelayu.com/id/object/361/470/keraton-sumenep-madura/&amp;amp;nav=geo" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;wisatamelayu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://disbudparpora.sumenep.go.id/en/gambar/keraton2.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;disbudparpora&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://yeptirani.wordpress.com/2008/11/25/pemberhentian-selanjutnya-pendopo-keraton-sumenep/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;yeptirani&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.kabarmadura.com/cerita-madura/selayang-pandang-keraton-madura/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;kabarmadura&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://pydnew.wordpress.com/2008/10/07/sumenep-pesona-wisata-pulau-garam/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;pydnew&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2585988420910890466?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2585988420910890466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/keraton-sumenep-di-jawa-timur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2585988420910890466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2585988420910890466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/keraton-sumenep-di-jawa-timur.html' title='Keraton Sumenep di Jawa Timur'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-7608486587611504338</id><published>2010-06-29T12:42:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:14:28.208-07:00</updated><title type='text'>Stupa Sumberawan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sumberawan.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Berkunjung ke Stupa Sumberawan di sore hari nampaknya "bukan waktu yang tepat". Sepanjang perjalanan menuju lokasi yang mesti dilalui dengan menyusuri tepi sungai itu, mesti berhati-hati menjaga pandangan, dikarenakan sungai yang ada menjadi tempat aktifitas mandi bagi penduduk setempat. Beberapa kali mesti menahan rasa jengah atau senyuman ketika mendengar celotehan mereka yang asik mandi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Stupa sumberawan yang memiliki tinggi 2,23 meter ini memang lebih pantas dijadikan lokasi wisata eco-tourism, lokasinya yang masih alami diantara &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pepohonan dan sawah penduduk merupakan nilai lebih tersendiri. Meskipun itu berarti bila ingin mengunjungi objek wisata ini mesti rela berjalan kaki sekitar 1,5 km menyusuri tepi sungai yang dangkal namun jernih airnya. Disisi selatan dari Stupa Sumberawan ini terdapat telaga yang jernih airnya. Sumber air yang melimpah tersebut sekarang dimanfaatkan untuk air minum oleh Pemda Kabupaten malang dan sebagian untuk mengairi sawah penduduk.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sumberawan yang diberikan kepada satu-satunya stupa yang ada didaerah tersebut diduga berasal dari nama desanya yakni Sumberawan. tetapi ada juga yang menganalisa lebih jauh, nama Sumberawan diduga berasal dari kata Sumber dan Rawan (Telaga). Karena didekat stupa tersebut banyak didapat sumber yang terkumpul kepada sumber yang paling besar dan membentuk Rawan (telaga). Penduduk setempat menyebutnya dengan nama Candi Rawan (Candi Telaga).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sumberawan1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Siapa yang menemukan bangunan stupa tersebut untuk pertamkalinya sulit diketahui. Akan tetapi yang jelas penemu pertama tentunya penduduk pribumi setempat yang kemudian melaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1904 baru disebut-sebut oleh orang Eropa (Belanda). Pada tahun 1928 dan 1935 mendapat perhatian dan ditinjau untuk diadakan pembinaan kembali. Sehingga dilakukan penggalian untuk kemudian dilakukan perencanaan dan pembangunan kembali (renovasi) yang selesai pada tahun 1937. Pembinaan kembali itu dipimpin oleh seorang ahli purbakala dari jawatan purbakala Hindia Belanda yaitu Ir. Van Romondt. Selama proses renovasi tersebut mengalami kesulitan untuk menentukan bagian puncak stupa. Bagaimana bentuk stupa itu tidak dapat diketahui secara lebih pasti dikarenakan tidak terdapat sisa-sisa disekitarnya yang berbentuk pucuk semacam payung tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak Stupa Sumberawan ini dikabarkan berada diatas sebuah mata air dibagian bawahnya. Hal ini mengingatkan pada Candi Songgoriti yang juga berada diatas sebuah sumber air, bedanya Candi Songgoriti berada diatas sumber mata air panas, sedangkan Stupa Sumberawan berada diatas mata air biasa/dingin. Kondisi bangunan suci yang didirikan diatas/dekat mata air, jika ditinjau dari sudut pandang agama Hindu dianggap meniru konsep Gunung Mandara sebagai transformator/pengantar air Amerta. Dalam mitologi Hindu, Air Amerta adalah air suci minuman para dewa yang barangsiapa meminumnya, maka akan terhindar dari kematian. Dengan adanya stupa yang merupakan benda atau lambang suci agama Budah itu yang dapat pula diibaratkan gunung suci, maka air telaga Sumberawan yang dianggap suci itu sudah berubah sifatnya sebagai Amerta. Dan itu sangat diharapkan oleh para konsumennya di masa lampau.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sumberawan2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kapan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;bangunan&lt;/a&gt; Stupa Sumberawan tersebut didirikan tidak dapat diketahui secara pasti. Menurut&amp;nbsp; para ahli diduga bangunan ini didirikan sekitar abad ke 15 Masehi. Bahkan ada yang menduga bahwa daerah ini dahulunya yang bernama Kasurangganan, yaitu daerah yang pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359, ketika ia pergi ke Singosari.&amp;nbsp; Hal ini diberitakan dalam kitab Negarakertagama karangn Empu Prapanca yang disebut pada puph 35 bait ke 4, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"...sebabnya terburu-buru berangkat, setelah dijamu bapa asrama karena ingat akan giliran menghadap di balaikota Singosari sehabis menyekar di candi makam, nafsu kesukaan bermanja-manja mengisap sari pemandangan di Kedungbiru Kasurangganan dan Bureng"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif penamaan Kasurangganan yang identik dengan daerah Sumberawan sekarang karena daerah yang disebut diatas yaitu Kedungbiru dan Bureng, masing-masing terletak diselatan daerah Sumberawan. Kedungbiru sekarang berubah menjadi dukuh Mbiru, sedangkan Bureng diduga berada&amp;nbsp; disebalah utara desa Karangploso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sumberawan3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tentunya Stupa Sumberawan saat ini tak seindah ketika Raja Majapahit Prabu Hayamwuruk berkunjung ke sana. Atau juga tak seekologis tahun-tahun 1950-an, ketika masih ada banyak lutung bergelantungan di pepohonan, ketika masih banyak burung nuri yang mematuk-matuk buah jagung, dan burung tekukur beterbangan dari pohon ke pohon. Namun, saat ini Sumberawan masih layak disebut dengan istilah taman bidadari. Masih indah, sejuk, bersih, dan asri. Persawahan di dekat-nya melapangkan pandangan. Dua aliran sungai yang bersumber dari mata air menimbulkan gemericik. Suara yang juga indah di telinga dan sejuk di hati. Hanya mungkin perlu sedikit tambahan sarana dilokasi ini yakni toilet. Tak kurang, tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Silhouette&lt;br /&gt;Lokasi : Sumberawan, Singosari, Malang&lt;br /&gt;Foto : Silhouette&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-7608486587611504338?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/7608486587611504338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/stupa-sumberawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7608486587611504338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7608486587611504338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/stupa-sumberawan.html' title='Stupa Sumberawan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-112231347147541672</id><published>2010-06-29T12:40:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:15:19.046-07:00</updated><title type='text'>Pesisir Ciamis Selatan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pantaipangandaran.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pantai berpasir terhampar luas sampai puluhan kilometer, diseling oleh tebing-tebing cadas, berpadu dengan sungai-sungai jernih berwarna hijau atau biru, "diwarnai" oleh desa asri nan hijau dan hutan yang masih lebat, menciptakan suasana keindahan luar biasa di pesisir selatan Ciamis Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapit oleh Samudra Hindia dan daerah perbukitan, pesisir Ciamis Selatan dapat dicapai dalam waktu 5 jam dengan kendaraan bermotor dari Bandung melalui jalan yang mulus. Sebuah sungai besar yaitu Citanduy bermuara di dekatnya, beserta beberapa sungai lain berukuran sedang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah subur, laut penuh ikan, teluk terlindung dan air tawar melimpah membuat kawasan pesisir Ciamis Selatan telah dihuni oleh manusia sejak dari zaman Kerajaan Galuh pada abad ke-7 sampai abad ke-16. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perkebunan kelapa di sini, diikuti dengan pengembangan infrastruktur berupa pelabuhan dan jalur kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pantaipangandaran1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="179" /&gt;Pembangunan kereta api dilakukan pada tahun 1912, menembus perbukitan melalui tiga terowongan dan beberapa jembatan. Salah satu terowongannya, bernama Wilhelmina, merupakan terowongan kereta api terpanjang di Indonesia yaitu sekitar 1,2 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah "taman buru" juga dikembangkan di sini pada tahun 1920-an untuk kegiatan wisata bagi para pengelola atau bagi karyawan perkebunan berkebangsaan Belanda atau Eropa dari daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemerdekaan kegiatan wisata terus berkembang di pesisir Ciamis Selatan sampai kini dan menghadirkan satu pantai yang begitu terkenal yaitu Pangandaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tldak terbantahkan lagi bahwa pusat pariwisata di pesisir Ciamis Selatan berada di Pangandaran dan telah tersedia berbagai fasilitas cukup lengkap di sini. Terdapat penginapan mulai dari hotel berbintang, sampai losmen atau rumah yang dapat disewa dari penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan lezat disajikan oleh berbagai rumah makan, seperti hidangan laut nan segar, ikan air tawar bakar atau jenis kuliner lainnya. Toko-toko cenderamata &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;juga tersebar&lt;/a&gt; di sini bersama dengan berbagai tempat rental peralatan untuk aktivitas wisata seperti sepeda tandem, ATV dan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pantaipangandaran2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Suatu lahan menjorok ke laut bernama Pananjung - dahulunya berasal dari suatu pulau yang kemudian terhubung dengan daratan utama melalui tanah genting - membuat Pangandaran menjadi tempat ideal untuk melihat matahari terbit dan matahari tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai sebelah barat memiliki hamparan pasir lebar dan panjang, menjadi tempat mengasyikkan untuk berbagai kegiatan, termasuk berenang, terutama di pagi dan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah Pananjung terdapat kawasan konservasi berupa taman wisata alam dan cagar alam dengan hutan yang masih rimbun, dihuni oleh rusa, monyet, lutung, biawak, kalong dan burung rangkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang sering dikunjungi wisatawan dl daerah ini adalah pantai pasir putih nan menawan dan beberapa gua alam. Pengunjung juga dapat menjelajahi hutan untuk melihat bunga Rafflesia dan air terjun. Sayangnya terumbu karang yang ada telah rusak, walaupun kini dilakukan upaya untuk memulihkannya melalui kegiatan transplantasi karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pantaipangandaran3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Waktu terbaik mengunjungi Pangandaran adalah musim kemarau, saat laut tenang, ketika ikan, cumi, udang dan kepiting melimpah. Pada musim-musim liburan, Pangandaran dapat penuh sesak oleh pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya masin cukup banyak tersedia ruang di sepanjang pesisir Ciamis Selatan untuk kegiatan wisata. Pantai-pantai tidak kalah menarik lainnya dapat dijumpai di Krapyak dengan pasir putih dan pemandangan ke arah Pulau Nusa Kambangan, Pantai Batu Hiu untuk melihat pemandangan menakjubkan dari atas karang, atau Pantai Batu Karas dengan teluk yang tenang dan aman untuk berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai terakhir ini juga terkenal sebagai tempat selancar dan kini mulai banyak berkembang penginapan dan rumah makan. Pengunjung juga dapat berperahu di sungai Cijulang yang berwarna hijau, melewati ngarai terkenal dengan nama green canyon. Selain itu, pengunjung dapat berenang di kolam-kolam alami nan jernih pada aliran sungaisungai berasal dari gunung atau dalam gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="167" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pantaipangandaran4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bagi mereka yang menyukai petualangan dapat mengikuti kegiatan jelajah pedesaan atau menelusun sisa jalur kereta api, termasuk terowongannya, dengan berjalan kaki atau memakai sepeda gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa-desa di sini sangat hijau dan asri dengan penataan rumahnya yang rapi serta bersih, menghadirkan suasana tenang dan menyenangkan. Selain itu terdapat berbagai industri rumah tangga seperti pembuatan gula kelapa, tahu, tempe, kerupuk, wayang golek atau wayang kulit yang menarik untuk dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini para wisatawan terutama dari mancanegara mulai menyukai berbagai kegiatan tersebut untuk menikmati lebih banyak keindahan pesisir Ciamis Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah ASRI&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;rockerzgalau, Majalah ASRI,&amp;nbsp;trekearth&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-112231347147541672?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/112231347147541672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pesisir-ciamis-selatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/112231347147541672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/112231347147541672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/pesisir-ciamis-selatan.html' title='Pesisir Ciamis Selatan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6516009688095647818</id><published>2010-06-29T12:38:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:16:27.123-07:00</updated><title type='text'>Candi Brahu</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="156" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/brahu.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="118" /&gt;Masih dalam komplek situs Kerajaan Majapahit di Trowulan, tak jauh dari Candi Gentong&amp;nbsp; yang masih dipugar, anda bisa berkunjung di kawasan Candi Brahu. Letaknya di dukuh jamu mente, desa bejijong, atau sekitar 2 kilometer dari jalan raya mojokerto jombang. Candi yang dibangun dari batu bata merah ini, dibangun di atas sebidang tanah menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan punya ketinggian 20 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip buku Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan oleh Drs IG Bagus Arwana, dulu di sekitar candi ini banyak terdapat candi candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti candi muteran, candi gedung, candi tengah, dan candi gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi, banyak ditemukan benda benda kuno macam alat alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca dan lain lainnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/brahu1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Candi ini dibangun dengan gaya dan kultur Budha, didirikan abad 15 Masehi. Pendapat lain, candi ini berusia jauh lebih tua ketimbang candi lain di sekitar Trowulan. Menurut buku Bagus Arwana, kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari candi brahu. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok&amp;nbsp; pada tahun 861 Saka atau 9 September 939, Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;berhasi&lt;/a&gt;l menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : ricky&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;Navigasi&lt;br /&gt;Lokasi : Bejijong, Trowulan, Mojokerto&lt;br /&gt;Fotografer : Ricky SS&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6516009688095647818?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6516009688095647818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-brahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6516009688095647818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6516009688095647818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-brahu.html' title='Candi Brahu'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6751177265408474809</id><published>2010-06-29T12:33:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:21:54.209-07:00</updated><title type='text'>Vihara Avalokitesvara</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/vihara.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Dalam catatan sejarah, keberadaan Vihara Avalokitesvara ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Syarif Hidayatullah (1450-1568 M), atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati, salah seorang wali dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Beliau terpantik mendirikan sebuah vihara di Serang karena melihat banyaknya perantau dari Tiongkok beragama Buddha yang membutuhkan tempat ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi lain, ide mendirikan vihara muncul setelah beliau menikah dengan salah seorang putri Tiongkok. Karena banyak di antara pengikut putri tersebut yang masuk Islam, Sunan Gunung Djati kemudian membangun sebuah masjid bernama Masjid Pecinan, yang kini tinggal puingnya saja. Sedangkan bagi mereka yang tetap bertahan dengan keyakinannya semula, dibuatkan sebuah vihara.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vihara yang termasuk dalam Kawasan Situs Banten Lama dan konon dibangun sekitar tahun 1652 M ini diberi nama Vihara Avalokitesvara. Nama vihara tersebut diambil dari nama salah seorang penganut Buddha, yaitu Bodhisattva Avalokitesvara, yang artinya “mendengar suara dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/vihara1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Mengunjungi Vihara Avalokitesvara tergolong istimewa. Karena dengan mengunjungi vihara ini berarti seseorang telah mengunjungi sebuah situs sejarah dan sekaligus tempat ibadah. Sebagai situs sejarah, vihara ini termasuk salah satu vihara tertua di Indonesia. Vihara ini juga menjadi bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Sebagai tempat ibadah, vihara ini merupakan salah satu tempat ibadah favorit bagi umat Buddha dari dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, vihara ini lebih dari sekadar situs sejarah dan tempat ibadah. Karena sesungguhnya, keberadaan vihara ini adalah simbol yang mencerminkan karakter masyarakat Banten yang mencintai kerukunan dan keharmonisan dengan berbagai suku, bangsa, dan agama pada masa lalu. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, namun masyarakat Banten senantiasa terbuka dengan berbagai agama yang masuk ke kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, keberadaan vihara di pusat Kota Banten Lama dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Agung Banten (masjid kesultanan), menjadi bukti lain dari fenomena kerukunan antarumat beragama di Banten pada masa lalu. Hinga kini, tradisi kerukunan antarumat beragama tersebut masih terjalin dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/vihara2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Kompleks vihara yang luas dan suasana di sekitarnya yang tenang, serta lokasinya yang dekat dengan laut, menjadikan vihara ini begitu istimewa untuk dikunjungi. Angin laut yang berhembus pelan dan pesona daun nyiur yang melambai-lambai dengan latar Selat Sunda nan biru, menambah daya tarik kawasan ini. Sehingga, tidak mengherankan jika banyak orang yang datang ke sini, baik pemeluk agama Buddha yang ingin memanjatkan doa dengan khusyuk maupun turis yang ingin bertamasya atau sekadar mencari inspirasi. Biasanya, vihara ini ramai dikunjungi oleh turis dari dalam dan luar negeri pada saat perayaan Tahun Baru Imlek dan peringatan Lakwe Cakau, hari kesempurnaan Dewi Kwan Im sebagai Ibu Suri Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam vihara, pengunjung dapat menjumpai beraneka koleksi arsip, foto, lukisan, dan patung Dewi Kwan Im peninggalan Kekaisaran Tiongkok pada masa Dinasti Ming. Di samping itu, pengunjung juga dapat mengetahui reportase dahsyatnya gempa dan tsunami yang melanda kawasan sekitar Selat Sunda akibat letusan Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883. Reportase kronologi peristiwa tersebut dikisahkan dalam tiga bahasa, dan pengunjung dapat membacanya pada sebuah papan yang menempel di salah satu dinding vihara. Meski lokasi vihara dekat dengan laut, ajaibnya, vihara ini tidak “terpengaruh” oleh gempa tektonik dan tsunami dahsyat yang menewaskan ribuan korban yang sempat menggemparkan dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas mengunjungi vihara ini, pelancong dapat mencoba suasana lain yang masih termasuk dalam Kawasan Wisata Situs Banten Lama, seperti Masjid Agung Banten, Benteng Speelwijk, bekas Keraton Surosowon dan Keraton Kaibon, serta bekas Pelabuhan Kramatwatu, sebuah pelabuhan yang sangat terkenal pada masa kegemilangan Kesultanan Banten. Obyek-obyek wisata ini lokasinya berdekatan dengan Vihara Avalokitesvara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara administratif, Vihara Avalokitesvara masuk dalam wilayah Kampung Pamarican/Kampung Kasunyatan, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jakarta, Provinsi Banten berjarak sekitar 70 kilometer. Selain dengan kendaraan pribadi, pengunjung dapat menuju provinsi termuda di Pulau Jawa tersebut dengan bus, taksi, atau kereta api. Sedangkan Vihara Avalokitesvara berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah utara Kota Serang, ibukota Provinsi Banten. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan naik taksi atau angkutan kota jurusan Serang-Kramatwatu. Pengunjung tidak dipungut biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/vihara3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Wisatawan tidak perlu cemas kelaparan bila berada di Vihara Avalokitesvara, karena di sekitar kawasan tersebut terdapat rumah makan, warung, dan pedagang asongan yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan. Di depan vihara juga terdapat penjual aneka makanan laut yang telah dikeringkan sebagai oleh-oleh, mulai dari cumi, lontar telur, telur ikan, ikan japu, sampai terasi udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar kawasan ini terdapat home stay, wisma, dan hotel dengan berbagai tipe, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir bila mengunjungi vihara ini pada malam hari. Bahkan, di dalam kompleks vihara disediakan tempat penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Berbagai fasilitas lainnya, seperti jaminan keamanan, pelayanan panduan wisata, kios wartel, serta area parkir yang luas dan aman&lt;/a&gt;, juga tersedia di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Yusriandi Pagarah&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;wisatamelayu.com&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;mahavishnu8,&amp;nbsp;aroengbinang,&amp;nbsp;flickr,&amp;nbsp;CBN&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6751177265408474809?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6751177265408474809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/vihara-avalokitesvara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6751177265408474809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6751177265408474809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/vihara-avalokitesvara.html' title='Vihara Avalokitesvara'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-7276172653040888033</id><published>2010-06-29T12:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:23:20.881-07:00</updated><title type='text'>Sunrise di Puncak Gunung</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="122" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batur.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Tak hanya Kuta, Sanur atau Ubud. Bali punya pilihan tempat wisata yang amat beragam. Karena itu, jika suatu kali anda bertandang ke Pulau Dewata, cobalah nikmati sesuatu yang lain. Bagaimana kalau mendaki Gunung Batur, cukup menantang? Kalau mendaki Gunung Batur telah dipilih sebagai tantangan terbaru anda di Pulau Bali, maka bersiaplah untuk begadang. Sebab, pendakian mesti dilakukan pada dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya tak lain, agar anda bisa sampai di puncak saat fajar sehingga bisa menikmati panorama matahari terbit (sunrise) dari puncak Gunung Batur. Seperti apa panoramanya? Sangat indah, pastinya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat promosi yang gencar, saat ini mendaki sudah menjadi maskot wisata Gunung Batur. Dan tak hanya mendaki ke puncak Gunung Batur, belakangan banyak pula wisatawan yang melakukan aktivitas tracking di kawasan itu. Tracking mereka lakukan dengan melingkari Danau Batur atau Kaldera Batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batur1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="199" /&gt;Karena itu, aktivitas ini dikenal dengan sebutan Kaldera Batur Tracking. Ini merupakan lokasi pendakian paling baru, yang jauh lebih menantang dibanding lokasi sebelumnya karena di sepanjang lokasi pendakian juga terdapat sejumlah objek wisata, seperti memanjat tebing dan pemakaman umat Hindu di Trunyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Batur terletak sekitar 64 kilometer sebelah timur laut Kota Denpasar, dan masuk dalam wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Ada beberapa versi tentang gunung itu dan kalderanya, namun beberapa sumber menyatakan bahwa Gunung Batur berasal dari gunung purba yang sangat besar dan sempat beberapa kali meletus, kemudian membentuk dua kaldera. Nah, Gunung Batur muncul di tengah kaldera itu. Gunung Batur sendiri sempat meletus pada 1849, 1888, 1904, 1927, 1963, 1968, 1974 dan 1994, dengan letusan terbesar pada 1927.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Kaldera Batur menjadi kawasan paling populer sebagai objek pendakian. Menurut catatan sejumlah pengusaha hotel di Toyabungkah, tempat dimulainya pendakian, dulu hampir semua wisatawan yang menginap di Toyabungkah melakukan pendakian ke Gunung Batur. Hanya sedikit saja (lima persen) saja yang tidak mendaki. Sementara kini, 90 persen wisatawan mendaki Kaldera Gunung Batur, hanya lima persen yang mendaki Gunung Batur, dan sisanya tidak mendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batur2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Mendaki Gunung Batur, apa sih istimewanya? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul di benak banyak orang. &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Menurut&lt;/a&gt; para turis asing yang sudah berkali-kali mendaki gunung ini, Gunung Batur punya sejumlah keistimewaan yang tak dimiliki banyak gunung lainnya, termasuk gunung yang ada di negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Batur sudah dikenal sejak lama sebagai tempat mendaki. Dulu, sekitar tahun 1980-an, para pelajar dan mahasiswa pecinta alam, kerap melakukan pendakian ke puncak gunung ini. Pada mulanya, para mahasiswa mendaki Gunung Batur di siang hari. Itu pun mereka lakukan sekadar hobi untuk mencari bunga edelweis sebagai oleh-oleh. Tapi kemudian, mereka 'ganti haluan' dengan mendaki Gunung Batur pada dini hari untuk menikmati indahnya sunrise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu wisatawan kerap merasa khawatir bakal kesulitan mendapatkan tempat menginap di Desa Toyabungkah. Kini, kekhawatiran itu tak perlu ada. Di sana, tersedia belasan hotel melati dengan fasilitas yang lumayan. Biaya sewa kamarnya lumayan murah, tak lebih dari Rp 200 ribu per malam dengan kamar yang bisa dihuni dua orang. Bagi anda yang menginginkan suasana yang 'alami', sewa saja tenda dari hotel setempat. Anda bisa mendirikan kemah di area hotel, yang memang menyediakan lokasi untuk berkemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="200" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/batur3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;''Biasanya wisatawan yang datang dengan grup, memilih menyewa tenda, karena mereka menginginkan suasana yang lebih alami,'' kata Arifin, karyawan salah satu penginapan di Toyabungkah. Menginap di Toyabungkah merupakan pilihan terbaik bagi wisatawan yang ingin mendaki puncak Gunung Batur. Setidaknya, wisatawan terlebih dahulu dapat beradaptasi dengan alam, terutama menyesuaikan diri dengan udara di kawasan Batur yang sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggan menginap di Toyabungkah? Boleh-boleh saja menginap di Denpasar atau tempat lain. Tapi, ini artinya anda akan membuang waktu, karena wisatawan harus bangun dini hari untuk menuju tempat pendakian. ''Kalau ada hambatan di jalan, kami akan terlambat mendaki dan tidak bisa melihat sunrise. Ini rugi sekali karena tidak bisa maksimal menikmati keindahan alam di Gunung Batur,'' kata Tria, karyawan Bank Indonesia Denpasar, yang belum lama ini mendaki Gunung Batur sekaligus menikmati panorama sunrise nan elok. Kapan anda menyusul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;perempuan&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;world-hotel,&amp;nbsp;perempuan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-7276172653040888033?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/7276172653040888033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/sunrise-di-puncak-gunung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7276172653040888033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7276172653040888033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/sunrise-di-puncak-gunung.html' title='Sunrise di Puncak Gunung'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1905039685073376030</id><published>2010-06-29T12:30:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:22:59.979-07:00</updated><title type='text'>Curug Cigamea</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cigamea.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Curug Cigamea berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor yang merupakan bagian dari kawasan wisata Gunung Salak Endah. Bila anda mengunjungi kawasan wisata ini dari arah Leuweliang, maka curug Cigamea merupakan air terjun pertama kali yang akan anda temui sebelum kelima air terjun lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ? memang benar, kawasan wisata Gunung Salak Endah memiliki objek wisata enam air terjun (Nangka, Luhur, Cihurang, Ngumpet, Sewu dan Cigamea), satu pemandian air panas (Gunung Picung) dan satu wisata kawah (Kawah Ratu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke lokasi air terjun, pengunjung diharuskan berjalan kaki dari areal parkir, melalui jalan menurun +/- 350 meter. Selama dalam perjalanan, setidaknya tercatat tiga air terjun tambahan berada disisi kanan jalan. Masing-masing dengan ketinggan berkisar antara 5 hingga 10 meter namun dengan debit air yang kecil dan berada dibalik rimbunnya daun pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cigamea1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="194" /&gt;Kondisi jalan menuju lokasi berupa jalan setapak yang telah terbuat dari batu dan tersusun rapi dalam bentuk susunan anak tangga. Dibeberapa bagian jalan terdapat tempat peristirahatan, untuk melepas lelah sejenak sambil menikmati air terjun dari kejauhan. Warung-warung penjual makanan juga tersedia, siap melayani dengan hidangan sederhana berupa mie rebus atau sekedar secangkir kopi susu panas. Tentunya hal yang tidak bisa kami nikmati mengingat saat itu masih didalam bulan puasa ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya dilokasi, nampak jelas bahwa Curug Cigamea terdiri dari dua buah air terjun utama dengan karakter yang berbeda. Air terjun pertama yang lebih dekat dengan jalan masuk, berupa air terjun dengan tebing curam menyerupai dinding dan didominasi bebatuan warna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe air yang jatuh lebih bersifat percikan air yang langsung melimpah jatuh dari atas cukup deras meskipun nampak jelas tidak sederas/sebesar air terjun kedua. Hal ini pula yang menjadikan alasan kolam limpahan air yang berada dibawahnya tidak luas dan dalam, sehingga tidak bisa digunakan untuk berenang. Letaknya yang terbuka, memungkinkan pengunjung untuk berada disisi kiri dan kanan dari air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cigamea2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Air terjun kedua berjarak kurang lebih 30 meter dari air terjun pertama dan berada dicelah tebing. Bebatuan tebing berwarna hitam berpadu dengan corak garis warna coklat kemerah-merahan nampak terlihat jelas dan memberi nuansa sendiri saat melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang mengalir lebih mirip dengan aliran sungai dengan ukuran lebar yang semakin kebawah semakin melebar dan debit air yang cukup tinggi. Sepintas bila dilihat dari bawah, sumber air yang berada di atas air terjun kedua ini berada sedikit dibawah air terjun pertama, padahal sebenarnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengamatan mulai dari masuk lokasi ini, terlihat jelas bahwa air terjun kedua ini memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari air terjun pertama, namun karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan adanya bagian tanah yang sedikit menjorok kemuka, praktis bagian atasnya tidak bisa dilihat saat berada dibawah lokasi. Asumsi saya, sekitar 50 persen dari tinggi sebenarnya air terjun ini, tidak bisa dinikmati dari bawah lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cigamea3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kolam limpahan air yang ada dibawah air terjun kedua ini, memiliki kedalaman dan luas yang cukup untuk sekedar bermain air maupun berenang. Warna air yang biru kehijau-hijauan dibagian tengah kolam menandakan bahwa dibagian tersebut cukup dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan salah seorang pengunjung berusaha memanjat tebing untuk kemudian melompat dari ketinggian 2 meter ke bagian tengah kolam. Cukup ramai pengunjung yang datang pada siang itu. Terkadang tak segan pengunjung pria melepas baju dan celana, hanya memakai pakaian dalam kemudian menyeburkan diri, berenang hingga ke bagian tengah kolam, sementara teman-teman lainnya bersorak-sorai dari tepian kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/cigamea4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Curug Cigamea memang menarik untuk dikunjungi baik untuk kelompok kawula muda maupun wisatawan keluarga. Dibadan sungai yang tidak dalam, tampak beberapa anak kecil sibuk bermain air sambil merendam kakinya untuk merasakan kesegaran dan dinginnya air yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derai tawa menyertai tingkah polah mereka saat sebagian tubuhnya terpecik air oleh siraman teman mainnya. Sayangnya lokasi wisata ini tidak cocok untuk berkemah karena kondisi alamnya yang berupa tebing curam, namun setidaknya menikmati dua air terjun yang berbeda dalam satu lokasi, &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;nampaknya bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjunginya.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Silhouette&lt;br /&gt;Lokasi : Gunungsari, Pamijahan, Bogor&lt;br /&gt;Fotografer : Silhouette&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;Navigasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1905039685073376030?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1905039685073376030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/curug-cigamea.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1905039685073376030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1905039685073376030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/curug-cigamea.html' title='Curug Cigamea'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-5314510523595711376</id><published>2010-06-29T12:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:27:56.417-07:00</updated><title type='text'>Berlibur Ceria di Tengah Satwa dan Fauna</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wisataalam.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pohon dan satwa bisa menjadi inspirasi menentukan tujuan liburan bersama keluarga. Anggap saja, hadiah naik kelas. Helni Apriyani, siswi SMPN 21 Jakarta meluapkan kegembiraannya setelah dinyatakan lulus ujian nasional. Hal pertama yang ada dalam benaknya adalah menagih janji ayahnya yang akan mengajaknya berlibur. Setelah sekian bulan lamanya, berkutat dengan buku dan pelajaran di sekolah, anak-anak pun perlu menyegarkan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim liburan sekolah telah tiba. Banyak alternatif tempat wisata keluarga yang bisa dikunjungi dengan kondisi dan suasana yang beraneka rupa. Sebagai orangtua, kadang lupa menentukan tempat liburan yang cocok untuk keluarga. Tidak perlu ke luar kota nanjauh dari Jakarta, cukup di Depok, Bogor, dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kampung 99 Pepohonan: Kampung Asri di Meruyung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanam adalah aktivitas wajib liburan di tempat ini. Masing-masing anak mendapatkan satu jenis pohon, ada pohon Nangka, pohon Sukun, dan mangga. "Yuk, kita tanam pohon bersama. Buka polibag-nya, lalu padatkan tanahnya, kemudian masukan pohonnya ke dalam lubang dengan hati-hati," ujar Santi, memberi instruksi kepada anak-anak yang berkerumun di depannya, beberapa waktu lalu di Kampung 99 Pepohonan yang terletak di Meruyung, Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destinasi yang sering disebut juga dengan Kampung Rusa, merupakan tempat hunian sekaligus wisata bagi keluarga. Konsepnya dibuat menyatu dengan alam, sesuai dengan namanya, beragam jenis pohon tumbuh subur di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wisataalam1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Ada Pohon Maja, Trembesi, Jati Putih, Rengas, Kemang, Karet, dan masih banyak pohon-pohon langka lainnya, karena hampir setiap hari selalu ada pohon yang ditanam. Sesuai pula dengan julukan yang kedua, Rusa jenis Timorensis hidup di sini untuk dikembangbiakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini didesain sedemikian rupa, agar pengunjung yang datang mendapatkan suasana yang benar-benar beda. Begitu pula dengan aktivitas program. Segalanya telah dirancang agar anak yang berlibur mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak mereka dapatkan di bangku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menanam, anak-anak biasanya diajak memanen di Kebun Bayam yang usianya sudah 21 hari. "Pilih yang daunnya besar-besar, ya. Cabut, terus digoyang-goyang, supaya tanahnya tidak ikut," ujar Santi kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanam dan memanen hanyalah sedikit contoh aktivitas liburan di kampung yang terletak di seberang Masjid Kubah Emas Depok ini. Pengobatan alternatif dengan sengatan lebah, juga ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wisataalam2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Nah, bagi para orang tua yang mengantar anak-anak berlibur, bisa juga mencoba pengobatan ini, atau memancing, sambil menikmati udara segar tanpa polusi dan suasana kota yang bising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang bisa di bawa pulang, Kampung 99 Pepohonan menjual yoghurt buah (sukun, kiwi, orange, strawberry, anggur), carcade (teh Arab), dan susu kambing jahe. Tidak cuma itu, semua menu dan makanan di sini semuanya alami, hasil dari kebun sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masih betah dengan suasana alamnya, menginap saja di rumah kayu, tarifnya tidak mahal, kok! Hingga saat ini terdapat tujuh rumah kayu yang dinaungi rindangnya pohon jati putih. Nyanyian jangkrik, katak, burung malam, serta hiasan kunang-kunang di kegelapan manjadikan liburan semakin tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga berkemah bersama keluarga, pasti seru. Segera ajak keluarga ke jalan Muhasan II, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Depok. Nikmati liburan dengan berbagai &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;aktivitas&lt;/a&gt; di alam yang asri.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-5314510523595711376?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/5314510523595711376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/berlibur-ceria-di-tengah-satwa-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5314510523595711376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5314510523595711376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/berlibur-ceria-di-tengah-satwa-dan.html' title='Berlibur Ceria di Tengah Satwa dan Fauna'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8223793261280437324</id><published>2010-06-29T12:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:29:13.459-07:00</updated><title type='text'>Kemang Doeloe dan Kini</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="111" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kemang.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Dulu&lt;/a&gt;, Kemang sulit dijangkau, jalannya masih tanah. Pamornya mulai terangkat lantaran dijadikan tempat mangkal para Jawara. Kini, Kemang berubah menjadi kampung modern. Penuh cafe, resto, hotel, dan tentu saja para bule ekspatriat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding kawasan sekitarnya, nama Kemang sudah jauh terkenal karena memiliki karakteristik tofografi yang berbeda dengan kawasan lain di Selatan Jakarta. Kondisi tanahnya lebih tinggi dan berbukit-bukit kecil. Udaranya lebih sejuk karena pepohonannya masih rapat dan rimbun.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya sejak jaman Belanda sudah menjadi tempat tinggal orang-orang berpengaruh. "Kemang sebenarnya sudah terkenal sejak abad 18. Ketika itu lurah beserta mandor-mandornya menetap di sini," tutur H. Ahmadi Umar salah seorang penduduk asli yang juga tokoh masyarakat Kemang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="201" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kemang1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bukan cuma orang yang berpengarauh saat itu, para jawara pun banyak yang menetap di Kemang. "Ketika itu banyak Jawara di luar Kemang bilang, kalau ingin disegani tinggallah di Kemang meskipun aktivitasnya di luar Kemang," jelas Umar sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Kemang sendiri banyak yang mengatakan diambil dari nama tumbuhan sejenis mangga yang banyak tumbuh di kawasan ini. Buah kemang (mangifera kemang caecea). Konon hingga tahun 1950-an masih banyak tumbuh di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Kemang sejak lama sudah menjadi kawasan yang dikenal orang, namun akses jalan untuk menuju Kemang terbilang masih cukup sulit. Ketika itu jalan satu-satunya menuju kemang masih tanah. "Baru setelah Jalan Raya Kemang dibuka oleh Jenderal Gatot Subroto sekitar 1958 sejak itu Kemang semakin hidup," cerita Umar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="198" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kemang2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Menurut pengakuan Umar, Kemang mulai didatangi kalangan ekspatriat sejak 1965 "Orang asing yang datang dan tinggal di Kemang berawal setelah Gestapu. Jumlahnya pun masih bisa dihitung dengan jari karena belum semua jalan yang diaspal," kenang Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun ekspatriat yang tinggal di Kemang semakin banyak. Mendekati tahun 90-an mulailah bermunculan cafe-cafe hingga kini. Sampai akhirnya Kemang ditetapkan sebagai "kampung modern" pada 1999 melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No. 140/1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SK ini mengukuhkan kawasan ini bukan semata sebagai tempat tinggal para bule ekspatriat. Melainkan juga menjadi tempat wisatawan lokal tua muda menikmati hiburan siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Majalah Travel Club&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;wartakota,&amp;nbsp;cbn&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8223793261280437324?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8223793261280437324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kemang-doeloe-dan-kini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8223793261280437324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8223793261280437324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kemang-doeloe-dan-kini.html' title='Kemang Doeloe dan Kini'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-7292062058183077785</id><published>2010-06-29T12:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:31:34.448-07:00</updated><title type='text'>Kawah Putih, Amazing!</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="117" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kawahputih.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Perjalanan wisata ke kota Bandung selalu menyenangkan di mana obyek wisata Bandung banyak yang menarik, salah satunya adalah Kawah Putih. Pesona alam dan keindahan Kawah Putih sangat menakjubkan, membuat saya hampir selalu mengunjungi Kawah Putih, jika berlibur ke Bandung. Kawah Putih terletak di lereng gunung Patuha, kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, sekitar 45 kilometer dari selatan kota Bandung, berada di antara jalur Ciwidey dan Situ Patenggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawah Putih yang berada di ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut, &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;terbentuk saat terjadi letusan gunung Patuha pada abad ke 10 sampai dengan abad ke 12, menyimpan suatu misteri pada masa lampau. Masyarakat menganggap puncak Gunung Patuha sebagai daerah angker dan menyeramkan dan mereka menganggap gunung Patuha adalah tempat bertemunya para leluhur Bandung Selatan dan saking angkernya, burung-burung yang melewati Kawah Putih pun akan binasa.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="195" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kawahputih1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Pada tahun 1837 Dr, Franz Wilheim Junghun, seorang ilmuan Belanda peranakan Jerman, yang juga pengusaha perkebunan Belanda yang mencintai kelestarian alam. Kondisi lembah Gunung Patuha pada waktu itu masih berupa hutan lebat, dipenuhi pohon-pohon kayu jenis lokal seperti rasamala, saninten, huru, samida dan lain sebagainya. Beliau tidak percaya pada cerita masyarakat dan malah penasaran, akhirnya beliau melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah kawah yang sangat indah, yang saat ini dikenal sebagai Kawah Putih. Dari dalam kawah tersebut keluar semburan lava yang berbau belerang, yang di kemudian diketahui bahwa bau belereng inilah yang menyebabkan kawanan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang baru pertama kali mengunjungi Kawah Putih, biasanya akan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;terpaku melihat genangan air yang berwarna putih disertai dengan asap putih&lt;/a&gt; yang mengepul di atasnya. Warna air di Kawah Putih selalu berubah-berubah mengikuti cuaca, bila matahari bersinar dengan teriknya, air pada Kawah Putih berwarna hijau apel dan kebiru-biruan, terkadang juga berwarna coklat susu, kuning terang dan yang sering dijumpai adalah berwarna putih disertai dengan kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi oleh warna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kawahputih2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kabarnya bila mengunjungi Kawah Putih pada malam hari, saat rembulan dan bintang-bintang menerangi malam, dari danau Kawah Putih akan terlihat pancaran cahaya berwarna terang kehijau-hijauan yang menghiasi kawah dan akan membentuk lingkaran yang menerangi seluruh lokasi kawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Kawah Putih telah ditemukan pada tahun 1837 oleh Dr. Franz Wilheim Junghun, tetapi keindahan alam Kawah Putih baru dapat dinikmati oleh masyarakat luas pada tahun 1987 setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan menjadi obyek wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kawah Putih terdapat sebuah goa buatan sedalam 5 meter yang tertutup untuk umum dan sampai sekarang masih tercium bau belereng yang sangat menyengat dan ada peringatan agar jangan terlalu lama berada di depan goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah awal mulanya berdirinya pabrik belerang Kawah Putih pada jaman Belanda yaitu Zwavel Ontgining Kawah Putih dan usaha ini dilanjutkan pula pada masa Jepang dengan sebutan Kawah Putih Kenzaka Yokoya Ciwidey di bawah pengawasan langsung militer Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="146" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kawahputih3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Cerita-cerita ini sekarang tinggal misteri dan Dr. Franz Wilheim Junghun telah tiada, namun penemuannya masih dikenal dan masih tetap mempesona sampai saat ini dan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten telah mengembangkan sebagai Ecotourism Wana Wisata pada tahun 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawah Putih memang menakjubkan dan mempesona walaupun cuaca di Kawah putih sangat tidak stabil, sebentar turun hujan deras dan berkabut dan tak lama kemudian cuaca menjadi cerah, cekungan di Kawah Putih seluas 25 hektar berair keputih-putihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung cuaca di kawasan Kawah Putih yang cukup dingin ditambah dengan hujan yang suka datang mendadak, sebaiknya membawa payung dan mengenakan jaket atau mantel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai Lokasi Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekitar 5 kilometer, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit dengan mobil dengan pemandangan rimbunnya dan hijaunya hutan tropis. Harga Tiket untuk menikmati keindahan Kawah Putih, sebesar Rp 11.000 per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="177" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kawahputih4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Setelah puas menikmati keindahan alam Kawah Pesona, pengunjung dapat membeli camilan berupa kacang rebus, jagung bakar, ketan bakar dengan bumbu tiga rasa yaitu oncom, kacang dan kelapa atau dapat membeli beberapa kotak buah strawberry yang segar atau bantal dan pernak-pernik lainnya berbentuk strawberry sebagai buah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masih ingin melanjutkan perjalanan wisata di Bandung Selatan, kita masih dapat melanjutkan ke obyek wisata lainnya seperti danau Situpatenggang, Rancaupas yang sejak lama menjadi penangkaran rusa dan tempat perkemahan, pemandian air panas Cimanggu dan sepulangnya dari lokasi wisata di atas, kita dapat juga memetik sendiri strawberry di sepanjang jalan raya Ciwidey dengan membayar sekitar Rp 25.000 – Rp. 35.000 untuk satu kilogram strawberry yang segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hujan turun begitu deras dan hari sudah menjelang senja, sehingga perjalanan wisata kali ini hanya ke Kawah Putih saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Ariana - Jakarta&lt;br /&gt;Sumber: Kompas Community&lt;br /&gt;Foto : Ariana&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-7292062058183077785?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/7292062058183077785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kawah-putih-amazing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7292062058183077785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7292062058183077785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kawah-putih-amazing.html' title='Kawah Putih, Amazing!'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-7510599212759049118</id><published>2010-06-29T12:19:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:36:48.707-07:00</updated><title type='text'>Prasasti Jambu di Leuwiliang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/prasastijambu.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Berawal dari perjalanan iseng menuju lokasi tambang emas di daerah Pongkor, sepulang dari objek wisata Gua Gedawang, penulis tanpa sengaja membaca papan penunjuk objek wisata Prasasti Batutulis Jambu. Dari literatur yang pernah penulis baca, memang ada petunjuk bahwa terdapat prasasti lain peninggalan kerajaan Tarumanegara yang berkaitan erat dengan Prasasti Ciaruteun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja lokasi dimana &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;objek prasasti &lt;/a&gt;itu sebenarnya berada masih dalam tanda tanya besar karena minimnya informasi. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Untunglah dalam perjalanan kali ini berhasil menemukan petunjuk akan keberadaan lokasi prasasti tersebut, terlebih jarak yang tercantum menyatakan angka 700 meter, suatu jarak yang tidaklah jauh.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat bingung untuk memarkirkan mobil mengingat tidak adanya areal parkir, dan jalan yang akan dilalui langsung berupa gang kecil diantara pemukiman penduduk. Akhirnya diputuskan untuk memarkirkan mobil ditepi jalan utama, dan aktivitas perjalanan menuju lokasipun segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/prasastijambu1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Awal perjalanan dimulai dari gang kecil diantara rumah penduduk, kemudian beralih ke areal perkebunan dan sawah. Sering bertanya kepada penduduk setempat akan letak prasasti perlu dilakukan, karena praktis tidak ada lagi penunjuk arah. Untungnya meskipun terkadang berjalan di antara pepohonan, signal GPS masih cukup kuat sehingga bisa dilakukan track record terhadap jalan yang telah dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terkejut pula setelah bertanya dimana lokasi prasasti tersebut, seorang ibu petani menunjukkan suatu bangunan yang cukup jauh letaknya dipuncak bukit. Kepalang basah, perjalanan sudah dilakukan maka tidak ada istilah kembali, kecuali setelah sampai ditempat tujuan. Perjalananpun dilanjutkan dan kontur jalan mulai berubah menanjak setiba dikaki bukit. Meskipun sempat tersesat di kebun rumput gajah penduduk, namun akhirnya berhasil juga mencapai tujuan dengan sedikit terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/prasastijambu2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Prasasti Jambu terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Hal yang menggembirakan adalah adanya proses renovasi yang hampir selesai dilokasi tersebut sehingga areal sekitar prasasti terlihat rapi dan tidak ada sampah seperti yang acapkali kita lihat di objek-objek wisata lainnya. Panorama perbukitan dengan hembusan angin dan udara yang sejuk, cukup menjadikan objek wisata ini terasa nyaman dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentral objek wisata ini berupa sepasang tapak kaki yang tercetak pada sebuah batu dengan dua baris huruf Palawa, mirip sekali dengan Prasasti Ciaruteun. Bedanya, batu yang digunakan pada Prassasti Ciaruteun adalah batu kali/sungai berwarna hitam sedangkan Prasasti Jambu menggunakan jenis batu yang mirip batuan andesit namun berwarna putih kecoklat-coklatan. Hali lain, asal mula Prasasti Jambu memang terletak di puncak bukit, sedangkan Prasasti Ciaruteun berada di pinggir sungai yang kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/prasastijambu3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Adapun dua baris prasasti yang tercetak di batu tersebut berbunyi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dengan terjemahan menurut Vogel :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/prasastijambu4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Jelas sekali bahwa prasasti itu berisi pemujaan terhadap kehebatan dan kesaktian Raja Purnawarman dalam peperangan-peperangan yang berlangsung pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih dari Prasasti Jambu juga terdapat batu besar yang menurut pemandu setemapt merupakan batu tempat mengasah peralatan perang/pedang dari Raja Purnawarman. Terlihat jelas pada sisi bagian atas dari batu terebut, bekas gesekan dengan benda lain, mirip seperti yang sering kita lihat pada permukaan batu untuk mengasah pisau dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya pada sisi-sisi batu ini, banyak sekali dijumpai coretan-coretan yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab akan kelestarian benda purbakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Silhouette&lt;br /&gt;Lokasi : Pasir Gintung, Leuwiliang, Bogor&lt;br /&gt;Fotografer : Silhouette&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-7510599212759049118?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/7510599212759049118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/prasasti-jambu-di-leuwiliang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7510599212759049118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/7510599212759049118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/prasasti-jambu-di-leuwiliang.html' title='Prasasti Jambu di Leuwiliang'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6112829190779678608</id><published>2010-06-29T12:18:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:43:03.708-07:00</updated><title type='text'>Candi Bangkal</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Bangkal" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/candibangka.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Berada diantara sawah/kebun milik penduduk, lokasi Candi Bangkal ini masih mudah dikunjungi dikarenakan letaknya tidak jauh berada dari jalan desa yang masih bisa dilalui kendaraan roda empat. Sebuah jalan dari semen menghubungkan antara pintu masuk objek candi Bangkal dengan jalan desa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat salah ambil jalan ketika mencoba mencari letak dari candi ini, dikarenakan peta umum yang ada/dijual di toko buku, tidak memberikan gambaran lokasinya secara tepat. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Untunglah bentuknya yang unik dan tinggi dengan dominasi warna merah menjadikannya terlihat cukup jelas diantara warna hijau sawah dan peohonan dari kejauhan.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Candi Bangkal" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/candibangka1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kondisi candi yang terletak di Desa Kambangsari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto ini sudah rusak cukup parah. Batu bata merah yang merupakan bahan utama penyusun candi ini nampak mulai banyak yang terkikis/terpotong/cuil di beberapa sudutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian secara keseluruhan bentuk candi ini masih terlihat cukup jelas hanya saja pada bagian atasnya, sepertinya tidak utuh lagi mungkin pernah runtuh sebelumnya. Relief-relief yang berada pada dinding kaki candi masih bisa terlihat cukup jelas, dan juga beberapa arca banaspati yang ada pada dinding badan candi masih terlihat menempel pada tempatnya. Total terdapat enam arca banaspati dengan 3 pada bagian pintu masuk (barat), dan masing-masing satu buah pada sisi-sisi lainnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Bangkal" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/candibangka2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="193" /&gt;Pada bagian dalam candi, yakni dibagian tengah atasnya masih terpampang relief Batara Surya yang mengendarai seekor kuda. Relief ini mengingatkan saya pada relief serupa yang pernah saya lihat pada Candi Jawi dan Candi Badut. &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Suatu hal yang menarik&lt;/a&gt; mengingat Candi Jawi dan Candi Badut tersusun dari batuan andesit, berbeda dengan Candi Bangkal yang tersusun dari bata merah, tapi kedua candi ini memiliki "tema" yang sama pada bagian atas-tengah-dalam candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelah muka atau bagian barat dari candi ini masih terdapat setumpuk batu bata yang diperkirakan dulunya merupakan bagian pintu gerbang dari Candi Bangkal. Sedangkan disisi utara dari candi ini masih terdapat sejumlah batuan andesit yang berserakan dengan bentuk-bentuk khusus. Kemungkinan batuan andesit ini diperkirakan merupakan bagian hiasan dan atas candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Bangkal diperkirakan dibangun antara abad ke 13 dan 14 Masehi, dimana pada masa tersebut terjadi pergeseran kekukasaan dari wilayah tengah jawa ke bagian timur jawa, seiring dengan dominasi kekuasaan Majapahit pada abad itu. Seperti umumnya candi-candi lain, Candi Bangkal memiliki pola simetris pada arsitekturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Candi Bangkal" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/candibangka3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bentuknya yang ramping dan menjulang tinggi merupakan ciri khas dari candi-candi di Jawa Timur, berbeda dengan candi yang di Jawa Tengah yang meskipun sama-sama memiliki pola simetris namun memiliki bentuk yang lebih tambun. Bentuk yang tinggi dan ramping ini menyebabkan candi-candi di Jawa Timur sangat rentan dari runtuh bila terjadi gempa bumi. Candi Bangkal dan juga candi-candi lain (Candi Ngetos, Sawentar dan Sumberjati) diperkirakan memiliki bagian atap yang tinggi namun telah runtuh akibat gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di antara sawah/kebun punduduk, nampak menjadikan objek arkeologi ini sepi dari kunjungan. Beberapa ekor kambing nampak asik merumput tak jauh dari sisi candi, sementara bagian dasar candi yang becek karena tergenang air semakin mengurangi keinginan untuk mencoba mendekati candi. Sebuah sarang tawon pada bagian atas pintu masuk candi ini semakin mempertegas bahwa candi ini memang relatif jarang di kunjungi oleh wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Silhouette&lt;br /&gt;Lokasi : Kambangsri, Ngoro, Mojokerto&lt;br /&gt;Fotografer : Silhouette&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;Navigasi.Net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6112829190779678608?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6112829190779678608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-bangkal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6112829190779678608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6112829190779678608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-bangkal.html' title='Candi Bangkal'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2049966478367491027</id><published>2010-06-29T12:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:43:11.069-07:00</updated><title type='text'>Menembus Kabut Malang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Malang" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/malangbatu.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Lama juga rasanya tak menapakkan kaki di jalur Jateng-Jatim, baik lewat jalur pantai utara maupun pantai selatan. Karena itu, saat saya dan rombongan tiba di Jatim dan harus melalui jalan tol Surabaya-Gempol yang begitu panjang, hati tetap bersemangat. Terlebih, jalur-jalur yang kami lalui telah tertata rapi. Dengan penataan maksimal, perkembangan sarana transportasi darat Jatim melesat semakin maju.&lt;br /&gt;Kota-kota pesisir yang kami lalui lebih tertata dan itu semua mendorong perkembangan perekonomian warga jadi semakin pesat. Inilah kesempatan pertama saya kembali bernostalgia, setelah sekian belas tahun berlalu. Banyak hal yang telah berubah. Itulah Jatim dengan semangat milenium baru.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami makin senang saat kekhawatiran bak terjebak kemacetan panjang di jalur Gempol, Porong-Malang, tak menjadi kenyataan. Saat itu, jalan dalam keadaan sepi, lepas tengah malam. Hanya satu dua armada barang yang menemani kami menembus jalur menuju ke Kota Malang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin terasa menembus tulang saat kendaraan yang kami tumpangi mulai merambah Kota Arema. Rombongan kami segera mencari penginapan beberapa saat setelah melewati gerbang kota. Tempat itulah yang kami butuhkan untuk sekadar melepas lelah, sebelum melanjutkan perjalanan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa dibendung. Itulah yang kami rasakan dini hari itu. Sebab, meski merasa beruntung bisa merasakan kesegaran udara kota di kaki Gunung Semeru tersebut, kami tak mendapatkan kamar hotel memadai. Akhir pekan itu, hampir seluruh kamar hotel telah terisi. Masih beruntung, masih ada satu kamar yang tak jauh dari Kampus Unibraw. Akhirnya, kami berlima harus berdesak-desakan di kamar itu. Meski demikian, beberapa saat kemudian, kami pun terlelap kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="tugu malang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/malangbatu1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Seperti baru sekejap, kami dibangunkan oleh kabut dan temaram sinar mentari yang menyapa. Udara dingin awal kemarau yang kami rasakan, mengembalikan kesegaran sekujur tubuh. Tentu, tak lengkap rasanya jika melalui pagi itu tanpa kenikmatan dan kehangatan secangkir kopi. Tanpa membuang waktu, kami pun berburu kopi. Ya, agak sulit memang menemukan kedai atau warung yang bersedia membukakan pintu dan mau melayani serta memenuhi hasrat hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama memutari Kota Malang, dengan melewati banyak kompleks kampus yang megah, akhirnya kopi kami dapatkan. Bercengkrama menikmati kesejukan alam sambil mengenang kembali masa-masa lalu saat banyak sahabat tinggal di sana dan biasa kami sambangi, memang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori-memori indah itulah yang coba kami gali kembali dan menjadi sebuah harta yang sangat ”mahal” dan tak mungkin kami tinggalkan. Itulah kenyamanan suasana Kota Malang yang kami dapatkan di antara desiran dingin angin pegunungan. Hari itu pun kami lalui dengan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi berikutnya, saat kabut tebal masih menyelimuti kota, roda-roda kendaraan yang kami tumpangi kembali meluncur. Perlahan tapi pasti, kami mulai membelah tabir kabut yang seolah membatasi Kota Malang dan Kota Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, Kota Batu pun tampak di pelupuk mata. Kota eksotik yang telah memisahkan diri dan menjadi kota agrobisnis mandiri, membuat kami semakin penasaran ingin mengetahui perkembangannya terkini. Hal itu menjadi salah satu keingintahuan yang harus dipenuhi. Terlebih, selain ada Jatim Park II yang masih dalam tahap pembangunan, Kota Batu juga memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik, Sarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="apel batu" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/malangbatu2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="173" /&gt;Lama tak menyambangi daerah itu membuat kami agak lupa jalan menuju ke tempat-tempat eksotik tersebut. Terlebih Kota Batu telah berkembang menjadi kota asri dengan berbagai tambahan dan ornamen di sana-sini. Tak urung, kami sempat tersesat dan harus berputar-putar dahulu untuk bisa menemukan Sarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut tebal mulai menipis. Itu semakin memudahkan kami. Meski demikian, agak siang kami baru bisa menemukan tempat wisata Sarangan. Rasa takjub mendera saat mengetahui perubahan penataan tempat wisata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarangan makin menarik, tertata rapi, dan tambah menawan. Tak sia-sia kami merogoh kocek lebih untuk masuk ke tempat tersebut. Pintu masuk di ketinggian dan jalanan menurun menuju tempat parkir, membuat panorama indah dan kontur jelas Sarangan terpampang di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat itu menyajikan berbagai pilihan hiburan bagi kami. Kolam renang, atraksi perahu, berkuda keliling kompleks, menyaksikan koleksi ikan air tawar berbagai jenis, berbelanja buah dan bunga, atau sekadar nongkrong menikmati suasana kawasan wisata pegunungan, bisa kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai segerombolan ABG narsis, kami pun tak lupa jeprat-jepret untuk &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;mengabadikan momen nostalgia &lt;/a&gt;bersama di tempat tersebut. Terlebih, suasana dan tempat yang tersedia begitu menjanjikan bagi sebuah kenangan yang begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jangan Lupakan Buah dan Bunga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="jatim park" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/malangbatu3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tak lengkap rasanya jika pergi berlibur ke suatu daerah dan pulang tanpa membawa buah tangan. Paling tidak, kekecewaan akan menghinggapi si buah hati yang sabar menanti di rumah. Karena itu, setelah puas menelanjangi keindahan alam Sarangan, pasar bunga dan buah yang ada di kompleks wisata tersebut menjadi tujuan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat langkah-langkah kaki semakin mendekati blok kios-kios penjualan bunga, hati kami semakin terpikat. Stan-stan bunga ditata sedemikian rupa menjadi semakin artistik. Atap tembus sinar dan bentuk pilar maupun plafon penyangganya yang ditata sedemikian rupa membuat bunga-bunga yang ditawarkan di tempat tersebut semakin terlihat indah. Terlebih lagi, berbagai jenis dan varietas bebungaan terdapat di sana seperti kaktus, Aglonema, Anthorium, maupun kembang hias lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga yang ditawarkan pun bervariasi dari yang paling murah dan bisa dijangkau oleh kocek seluruh pengunjung hingga yang mahal dan hanya bisa dikoleksi orang-orang tertentu. Para penjaja bunga yang ramah dan dengan sabar melayani dan mau menjawab untuk memenuhi keingintahuan pengunjung, membuat kami semakin betah. Beberapa bunga pun kami pilih. Lumayan sebagai penghias halaman rumah. Apalagi, bunga-bunga itu sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anggapan yang mengatakan, kita belum ke Malang jika tidak mencicipi kelezatan apel malang. Karena itu, setelah berbelanja bunga, kaki kami pun melangkah ke kios-kios yang menyediakan apel hasil perkebunan setempat. Tidak hanya varietas asli setempat, melainkan juga varietas luar yang ditanam di tempat tersebut. Kembali kami bertemu dengan para penjaja apel yang bersahabat. Mereka tak segan untuk menyediakan sampel dagangannya sehingga pengunjung tidak akan kecewa saat membeli nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="payung batu" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/malangbatu4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Begitu juga dengan kami. Beberapa apel berbagai macam pun bisa kami cicipi. Akhirnya pilihan kami pun tertambat pada apel Malang yang berwarna hijau kekuningkuningan pertanda buah ranum agak masak. Saat harus membayar pun kami pun bertambah senang. Sebab harga apel yang dijajakan di tempat wisata tersebut, benar-benar jauh lebih murah daripada jika kita membeli di tempat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas berbelanja, tak lupa kami singgah ke kafe-kafe yang tersedia di pinggir kolam renang. Kehangatan kopi yang kami teguk, benar-benar bisa mengusir udara dingin Sarangan yang mulai menyergap. Bincang-bincang dengan rekan di sana sungguh sangat mengasyikkan. Hampir lupa waktu. Saat itu, hari pun beranjak sore. Karena itu, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menyusuri jalanan pada jalur Jatim-Jateng. Namun jalur yang kami pilih bukan lagi jalur pantai utura melainkan jalur tengah, Batu Malang via Kediri, Sragen dan kembali ke pulang dengan hati riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SuaraMerdeka&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;c0c0latte,&amp;nbsp;kotawisatabatu,&amp;nbsp;photobucket,&amp;nbsp;cbn&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2049966478367491027?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2049966478367491027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menembus-kabut-malang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2049966478367491027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2049966478367491027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menembus-kabut-malang.html' title='Menembus Kabut Malang'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-5279501728217103522</id><published>2010-06-29T12:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:43:18.272-07:00</updated><title type='text'>Di Manakah Gang Scott?</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Jalan Budi Kemuliaan" height="118" src="http://liburan.info/images/stories/budikemulyaan.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Sampai tahun 1950-an, di Jakarta ada jalan bernama Gang Scott. Anak Betawi jadul yang sudah lahir dan suka keluyuran pada masa itu mungkin ada yang masih ingat di mana lokasi jalan di wilayah Jakarta Pusat itu. Sekarang, pasti tak banyak yang tahu lagi bahwa Gang Scott sebetulnya nama lama Jalan Budi Kemuliaan, jalan penghubung antara daerah Monumen Nasional (Monas) dan Tanah Abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang tak terlalu panjang itu berpangkal di barat daya Lapangan Merdeka. Di sana Jalan Budi Kemuliaan bertemu dengan tiga jalan utama Jakarta, yakni Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, dan Jalan MH Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat foto yang menyertai tulisan ini, sulit dipercaya bahwa itu adalah Jalan Budi Kemuliaan. Maklum, ini adalah foto Gang Scott yang dibuat pada sekitar tahun 1860 oleh Woodburry and Page, studio foto paling sohor di Batavia waktu itu. Meski belum dilapis aspal, Gang Scott adalah jalan yang bersih dan nyaman karena ada pohon-pohon besar yang berderet di sisi kiri-kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="171" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/budikemulyaan1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Pohon-pohon itu sebetulnya tumbuh di dalam pekarangan rumah-rumah atau bangunan lain yang ada di kawasan ini, tetapi dahan-dahannya dibiarkan menjuntai sampai ke luar pagar sehingga kerimbunan daunnya ikut meneduhi badan jalan pada siang hari yang terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Gang Scott diambil dari nama Robert Scott, pedagang bangsa Skotlandia yang kemudian menjadi inspektur opiumpacht, pejabat pengawas tata niaga candu atau opium pada zaman Hindia Belanda. Tuan Robert Scott ini masih terhitung sepupu jauh Sir Walter Scott, &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;sastrawan dan penyai&lt;/a&gt;r ternama Skotlandia, yang antara lain menulis buku cerita Ivanhoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, di salah satu rumah kebun di Gang Scott juga pernah tinggal sastrawan Belanda, Arthur van Schendel, penulis novel Een Zwerver Verliefd atau Cinta Seorang Gelandangan. Dalam buku catatan pribadinya, sastrawan kelahiran Batavia itu pernah menulis kenangan masa remajanya: ”Kami berjalan di padang rumput, di bawah pohon-pohon rindang, Koningsplein… Kami tinggal di Gang Scott”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;img align="left" alt="Jalan Budi Kemuliaan" height="199" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/budikemulyaan2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Gereja Armenia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bangunan bersejarah unik yang pernah berdiri di Gang Scott adalah Gereja Armenia, yang dibangun tahun 1852-1854. Gereja ini berdiri di sisi selatan mulut jalan itu, di lokasi sekarang berdiri gedung lama Bank Indonesia. Sayang, saat usianya sudah mencapai lebih dari seabad, bangunan itu dibongkar pada 1964. Mungkin tergusur proyek pembangunan Gedung Bank Indonesia yang sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja ini dibangun oleh warga Batavia asal Armenia, negeri di kawasan Asia Kecil, di sisi selatan Pegunungan Kaukasus, di tengah-tengah antara Iran, Turki, Georgia, dan Azerbaijan. Orang Armenia di Batavia, yang konon jumlahnya lumayan banyak ketika itu, adalah penganut agama Kristen Ortodoks. Seperti warga keturunan Yahudi yang ketika itu juga banyak tinggal di Batavia, mereka umumnya adalah pengusaha dan industrialis kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan-bangunan lain dari masa awal keberadaan Gang Scott, yang resminya disebut Scottweg, kini juga tak ada lagi sisanya. Termasuk gedung bekas milik Perhimpunan Ilmu Pengetahuan Alam Kerajaan (Koninklijke Natuurkundig Vereeniging), yang juga pernah menjadi gedung rapat Dewan Kota (Gemeenteraad, sekarang DPRD); serta rumah dinas residen Batavia. Demikian pula nasib bangunan bekas rumah Robert Scott di pojok utara mulut Gang Scott. Di sana kini berdiri pencakar langit, gedung kantor perusahaan raksasa telekomunikasi Indosat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Jalan Budi Kemuliaan" height="185" src="http://liburan.info/images/stories/budikemulyaan3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sebagai gantinya, kini berdiri gedung-gedung baru yang dibangun setelah Indonesia merdeka. Gedung tertua barangkali Rumah Sakit Budi Kemuliaan yang dibangun pada tahun 1950-an, yang namanya diambil sebagai pengganti Gang Scott.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jalan yang teduh, Gang Scott alias Jalan Budi Kemuliaan kini sudah menjadi jalan yang gerah karena tak banyak lagi pepohonan. Jalan yang dulu juga sepi kini selalu ramai dengan lintas aneka jenis kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah jalan itu setiap hari dijadikan rute alternatif menuju kawasan Jakarta Selatan oleh para pengendara mobil yang ingin menghindari jalur lalu lintas three in one, yang setiap pagi dan sore juga diberlakukan di ruas Jalan Medan Merdeka Barat dan Jalan MH Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Kompas Cetak&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;Kompas Cetak,&amp;nbsp;detikinet,&amp;nbsp;weblog,&amp;nbsp;streetdirectory&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-5279501728217103522?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/5279501728217103522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/di-manakah-gang-scott.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5279501728217103522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/5279501728217103522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/di-manakah-gang-scott.html' title='Di Manakah Gang Scott?'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2373851571036283810</id><published>2010-06-29T12:12:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:43:28.769-07:00</updated><title type='text'>Wajah Baru Pantai Alam Indah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pantai Alam Indah (PAI), salah satu lokawisata Kota Tegal terus berbenah. Kini penambahan sarana dan prasarana di objek wisata tersebut terus dilakukan Pemkot Tegal. Kalau selama ini sarana wisata yang ada itu berupa taman bermain, anjungan, waterboom, dan Monumen Bahari, maka mulai awal Ramadan sarananya dilengkapi dengan anjungan yang panjangnya mencapai 250 meter dan kapal restorasi bernama&amp;nbsp; Lor ing Margi. Jenis restoran apung tersebut bisa dibilang satu- satunya di Jateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu semua bertujuan untuk meningkatkan &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Keberadaan restoran apung Lor Ing Margi dan anjungan baru dapat menjadi magnet untuk menggaet wisatawan lokal maupun dari luar daerah untuk berkunjung ke PAI. Dengan demikian, pendapatan asli daerah Kota Tegal meningkat.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebuda ya an dan Pariwisata (Disporbudpar), Ir HM Wah yudi MM, mengatakan, kapal Lor Ing Margi resmi beroperasi, Minggu (9/8). Laun ching dilakukan Wali Kota Tegal H Ikmal Jaya SE Ak. Kapal tersebut merupakan kapal kargo yang biasa digunakan untuk mengangkut kayu dari Kalimantan. Namun sejak tahun 2007, oleh PT Tegal Shipyard Utama, kapal yang memiliki panjang 45 meter dan lebar 12,5 meter itu disulap menjadi sebuah kapal restorasi (restoran terapung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Menurut Wahyudi, Kapal Lor Ing Margi tak hanya berfungsi sebagai restoran, namun juga dapat digunakan sebagai kegiatan rapat, acara pernikahan dan pesta ulang tahun atau acara syukuran. Sebab, kapal tersebut juga menyediakan restoran dengan daya tampung lebih dari 150 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ruang rapat di bagian ba wah berkapasitas 100 orang. Selain itu ada empat buah kamar yang di bagian paling atas dekat ruang kemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyudi mengemukakan, pihaknya selama bulan Ramadan juga meningkatkan pengawasan terhadap objek wisata PAI. Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya sejumlah orang yang memanfaatkan untuk tempat berbuat maksiat.&lt;br /&gt;Dia mengatakan, jumlah petugas yang melakukan pengawasan sebanyak 8 personel, terdiri atas polisi, Satpol PP, TNI AL dan petugas dari Disporbudpar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dalam rang ka meningkatkan kenyamanan pengunjung pihaknya dalam waktu dekat ini akan melakukan penataan parkir kendaraan. Pasalnya, selama ini kondisi parkir kendaraan masih semra wut. Bahkan, sering dijumpai pengunjung me markir mobil maupun motor hingga di dekat pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian, menyebabkan suasana PAI tidak teratur. Oleh karena itu, perlu dila ku kan penataan terhadap kendaraan pengunjung. Sesuai rencana, akan ada areal parkir di depan masjid di komplek PAI. Selain itu, akan ada peningkatan jalan yang mengelilingi taman kura-kura. Upaya tersebut untuk mengatasi ge nangan rob yang biasa terjadi saat musim angin timuran dan musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dengan adanya langkah-langkah tersebut, ketertiban dan kenyamanan pengunjung semakin meningkat. Para pengunjung ketika akan menuju pantai berjalan kaki, sehingga lingkungan pantai terlihat bersih dan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, seiring dengan kelengkapan sarana dan prasarana wisata, seperti adanya penambahan anjungan dan restoran terapung Lor Ing Margi jumlah pengunjung PAI semakin meningkat. Pihaknya, optimistis target Rp 1 miliar per tahun bisa terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini objek wisata alam satu-satunya di Kota Bahari itu akan diperlebar sekitar tujuh hektare. Adapun jumlah anggaran yang disiapkan mencapai Rp 3 ,3 miliar. Dana tersebut antara lain untuk pengurugan wahana permainan anak, pembangunan jalan di taman kura-kura, pembangunan saluran air, pembangunan mandi bilas dan WC umum, pembangunan Monumen Bahari tahap kedua, pembangunan area parkir serta pembangunan tembok keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wahyudi, pengembangan PAI akan memberikan dampak multiefek yang baik kepada masyarakat di sekitarnya. Pasalnya, dengan semakin ramainya pengunjung ekonomi masyarakat juga bisa meningkat. Mereka bisa berdagang berbagai makanan sehingga memperoleh penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengembangan sarana dana prasa ra na pihaknya bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga melakukan perbaikan terhadap se jumlah akses jalan yang menunju ke PAI. Wu jud nya antara lain peningkatan Jl Sangir, Jl Hal mahera, pembangunan saluran air Jl Hal ma hera dan saluran samping Universitas Pan ca sakti (UPS) Tegal. Untuk kegiatan tersebut telah dianggarkan dana mencapai Rp 1,6 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan kelengkapan seperti yang ada sekarang, PAI yang sekian lama selalu menjadi magnet pada saat Lebaran, bakal semakin ramai. Beberapa hari ini memang belum bisa dihitung. Tapi pihak pengelola memprediksi jumlah kunjungan bakal mencapai 6 ribu orang setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Apalagi semuanya telah dipersiapkan benar menjelang Lebaran. Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar), Ir HM Wahyudi MM mengatakan, berdasarkan yang sudah-sudah, lonjakan jumlah pengunjung terjadi pada H+2 dan H+3. Karena itu, pihaknya kini terus melakukan perbaikan sarana dan prasarana yang kurang mema­dai, antara lain pembangunan area pakir di de pan Masjid PAI dan Waterboom dengan luas men capai 600 meter persegi. Selain itu, pening katan jalan yang mengelilingi taman kura-kura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengemukakan, pihaknya telah menyiagakan sejumlah petugas untuk pengamanan, menjaga kebersihan dan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;keselamatan&lt;/a&gt; pengunjung. Tak hanya itu, sejumlah personel Tim SAR dari Polairud juga dilibatkan untuk pemantauan di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasi Pengembangan Produk dan Usaha Pariwisata, Sudibyo menambahkan, pihaknya juga telah melayangkan surat kepada para pengelola perahu wisata untuk mempersiapkan alat-alat keselamatan bagi para pengunjung yang menggunakan jasa perahu wisata. Selain itu, seluruh pedagang dan tukang parkir diminta menjaga ketertiban dan kebersihan. ”Mereka dilarang memanfaatkan situasi dengan menaikan harga yang memberatkan para pengunjung,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, wajah baru PAI bisa menjadi magnet menarik untuk pewisata. Tentu tak hanya ketika liburan Lebaran, magnet itu bakal terus menarik di waktu-waktu selanjutnya. Yang lebih mengasyikkan lagi, lokasinya tak jauh dari pusat Kota Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sini Bermula Angkatan Laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari sejarah bangsa, tidak selalu harus dilakukan di bangku sekolah. Belajar sejarah dapat dilakukan dengan melihat benda-benda dan lokasi peninggalan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Kota Tegal memiliki sebuah objek wisata, yang dapat memberikan gambaran kepada generasi muda mengenai sejarah berdirinya TNI Angkatan Laut. Objek wisata tersebut bernama Monumen Bahari, terletak di kawasan obyek wisata Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi wisata tersebut sangat mudah dijangkau, karena terletak di jalur pantura, tepatnya sekitar 500 meter utara Jalan Yos Sudarso Kota Tegal. Monumen Bahari terletak di kiri jalan, sekitar 20 meter setelah pintu masuk kawasan PAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Bahari Kota Tegal diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, Sabtu 20 Desember 2008. Pada bagian tengah, terdapat bangunan induk, yang digunakan sebagai ruang pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tidak terpakai, menghiasi sekeliling bangunan induk. Alat-alat tersebut merupakan sumbangan dari TNI Angkatan Laut, di antaranya kendaraan tempur tank PT 76, kendaraan tempur Pintam BRDM, pesawat udara Nomad N-22, meriam darat, bouyance, lampu navigasi, jangkar dan rantai, ranjau tanduk, serta terpedo MK 44.&lt;br /&gt;Pengunjung dapat masuk dan melihat dari dekat, pesawat maupun senjata yang dipamerkan. Mereka tidak perlu berdesak-desakkan, karena Monumen Bahari dibangun di atas lahan yang cukup luas, sekutat 12.000 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Bahari di Kota Tegal merupakan monumen yang ke-35. Dari 34 monumen sebelumnya, 21 dikelola pemerintah daerah, sedangkan 13 dikelola TNI Angkatan Laut. Selain menjadi sarana rekreasi, keberadaan monumen tersebut diharapkan dapat mengembalikan jiwa bahari masyarakat Tegal, karena Angkatan Laut muncul dari Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Kota Tegal dalam sejarah berdirinya TNI Angkatan Laut, dapat dilihat dari brosur yang dapat diperoleh di sana. Kota Tegal menjadi cikal bakal terbentuknya Korps Mari nir TNI Angkatan Laut, pada 15 No vem ber 1945, dengan nama Corps Ma riniers. Selanjutnya, tanggal tersebut dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Kota Tegal juga menjadi kota awal berdirinya Sekolah Angkatan Laut (SAL). Beberapa bangunan bersejarah lainnya yang dapat meyakinkan pengunjung mengenai peranan Tegal dalam sejarah berdirinya TNI Angkatan Laut, yaitu Gedung Pangkalan Angkatan Laut dan Monumen Kalibakung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Kalibakung merupakan monumen yang menandai tempat itu pernah dipakai oleh Angkatan Laut RI sebagai tempat penyelenggaraan latihan opsir. Selain itu, terdapat sejumlah lokasi penyelenggaraan SAL, yang saat ini digunakan untuk asrama susteran PIUS dan SMKN 1 Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/pai5.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bangunan-bangunan tersebut memang tidak berada dalam satu kawasan dengan Monumen Bahari. Meskipun demikian, pengunjung dapat menemukannya dengan berkeliling Kota Tegal dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pengunjung masih dapat menikmati objek wisata tersebut, de ngan biaya yang murah. Tiket masuk Monumen Bahari masih menjadi satu dengan tiket masuk PAI. Padahal, harga tiket masuk objek wisata PAI cukup murah. Untuk orang dewasa hanya Rp 1.500 per orang, sedangkan untuk anak-anak Rp 1.000 per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Monumen Bahari, kawasan PAI juga dilengkapi waterboom dan anjungan wisata. Waterboom dibangun di atas lahan seluas 3.600 meter persegi, dengan kapasitas tempat luncuran maksimal 10 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan monumen tersebut diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, sehingga membantu mengatasi krisis yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SuaraMerdeka&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;eurico at skyscrapercity&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2373851571036283810?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2373851571036283810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/wajah-baru-pantai-alam-indah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2373851571036283810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2373851571036283810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/wajah-baru-pantai-alam-indah.html' title='Wajah Baru Pantai Alam Indah'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8858202917660952753</id><published>2010-06-29T12:09:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:43:36.072-07:00</updated><title type='text'>Ubud</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Ubud" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ubud.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Ubud adalah salah satu tempat yang “wajib” dikunjungi, paling tidak saya mengatakan begitu. Wilayah Ubud diapit diantara dua kabupaten besar yakni Gianyar dan Tampaksiring adalah wilayah pedesaan yang asri dan teduh. Alamnya nan elok diketinggian pegunungan adalah tempat ribuan seniman bali menetap disini. Jadi, tidak heran bila selain tenang, Ubud juga disebut sebagai kampung seniman Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena karakter desa Ubud yang disebut “nyeni” dan “teduh-tenang” inilah lantas membuatnya berbeda dengan Kuta yang hiruk pikuk dengan kehidupan hura hura siang malam. Ubud adalah desa dalam arti sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisatawan yang datang kemaripun tampak berbeda dengan apa yang kita lihat disepanjang Kuta-Legian. Mereka menetap di Ubud karena ingin mendapatkan suasana tenang pedesaan Bali, sembari menikmati cita rasa seni Bali di ratusan sanggar sanggar seni yang bertebaran merata dipelosok desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Ubud" height="190" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ubud1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Jika&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt; anda memang suka ketenangan&lt;/a&gt;, mendengar derik jengkerik dimalam hari, kamar tanpa AC dan TV, suara kodok berdengkung nyaring tanpa putus sepanjang malam, atau belajar melukis dan menari, maka Ubud adalah tempat yang cocok buat anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penginapan di Ubud adalah tipe hunian yang digabung dengan konsep alam sekitarnya. Banyak hotel yang non AC dan tanpa TV set, letaknya bersebelahan dengan persawahan Ubud. Bahkan ada juga yang kamar mandinya “open space”. Kita bisa mandi sambil menatap langit terbuka diatas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak terbiasa dengan cara ini, mungkin akan menimbulkan kekawatiran diintip oleh mata nakal dari luar kamar mandi J . Jadi bayangkan saja, berendam air panas didalam bath tub, dan diatas kepala melihat tebaran bintang langit malam, sambil sesekali menyeruput kopi hangat. Sungguh menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Ubud" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ubud2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Ubud juga menawarkan kesempatan melihat kunang-kunang yang berkelip indah dimalam hari. Jika kesana dengan kekasih anda, sempatkan mampir di area Tegal Lalang. Malam hari disitu biasanya akan dijumpai sekelompok kunang kunang berkelip indah dimalam gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan bergandengan tangan sambil melihat kunang-kunang adalah pengalaman romantis yang tak terlupakan. Turis Jepang termasuk yang suka dengan kunang kunang ini. Mereka khusus datang ke Ubud juga untuk melihat kunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pagi menjelang, Ubud juga menyediakan banyak aktifitas menarik Diantaranya rafting disungai Ayung atau jika mau jauh pergilah ke Klungkung. Ada beberapa operator arung jeram yang menyediakan jasa disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Ubud" height="186" src="http://liburan.info/images/stories/ubud3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Harganya memang mahal, tapi masih bisa tawar menawar jika mau. Biasanya, petugas hotel merangkap menjadi broker dari paket paket wisata yang ditawarkan, dan dia akan mendapatkan komisi dari pengelola jasa wisata. Disinilah kita bisa melakukan tawar menawar harga. Jangan percaya begitu saja dengan harga brosur yang dicantumkan dengan nominal dollar atau yen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata lain disekitar Ubud yang bisa didatangi diantara: Pasar Ubud, Monkey Forest, desa Penestanan (desa pemukiman pelukis Bali), desa Nyuh Kuning (pemukiman seniman patung), desa Sayan, museum Lukis Bonet, museum Blanco, Musium Neka, Bedulu (pusat kerajaan Dinasti Pejeng), Goa Gajah, Yeh Palu (pertapaan dari abad 14), Pasar Sukawati, desa Celuk (industri perak Bali) dan masih banyak lagi tempat menarik untuk didatangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : hantulaut(hsg)&lt;br /&gt;Lokasi : Ubud, Gianyar&lt;br /&gt;Fotografer : hantulaut&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;Navigasi.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8858202917660952753?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8858202917660952753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ubud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8858202917660952753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8858202917660952753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ubud.html' title='Ubud'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1619260817140008562</id><published>2010-06-29T12:00:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:44:29.627-07:00</updated><title type='text'>Taman Nasional Meru Betiri</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="105" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/meru(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Perjalanan ke-Taman Nasional Meru Betiri dari arah barat, Jember menuju keselatan kearah Bandealit, tidak dapat dilakukan karena ada jembatan yang runtuh. Perjalanan hanya bisa dilakukan melalui bagian timur, dari kota Jember menuju kearah timur (Banyuwangi) dan sampai dikota Genteng, menuju arah selatan, kekota Jajag, kemudian Pasanggrahan dan Sarongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada jalan pintas, melalui kota Glenmore, turun kebawah, tetapi kasusnya sama, yaitu, jembatannya runtuh. Untuk mencapai Maru Betiri-Sukamade, kita harus melalui area perkebunan Sungai Lembu dan perkebunan Sukamade Baru.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="172" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/meru1(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sampai dipusat &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;informasi&lt;/a&gt; Taman Nasional Meru Betiri, yang sangat typical, atau sangat tidak informative, kita dihadapkan pada satu-satunya jalur untuk menuju Meru Beitri (afdeling) Sukamade yang hanya ada satu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi jalan tersebut, yaitu: beyond comprehension.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kondisi jalan yang rusak parah, kita terhibur oleh pemandangan yang cukup cantik dari celah-celah pepohonan, kearah tebing-tebing pantai yang curam, tetapi airnya berwarna hijau zamrud.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Problem jauh dari pada usai, karena setelah melalui jalan terjal yang penuh dengan batu, kita masih dihadapkan pada pilihan, apakah akan menyebrangi 3 anak sungai yang relative kecil-kecil dengan harus melingkar sepanjang 10 kilometer, atau menyebrangi induk sungainya yangsedalam ban mobil SUV (dengan catatan, kalau tidak banjir) yang hanya sekitar 3 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil melalui jalan-jalan yang sulit untuk digambarkan itu, sampailah kita ditaman Nasional Meru Betiri-Sukamade bagian timur (S8.558667 - E113.886850).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="170" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/meru2(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dihutan lindung/taman nasional Meru Betiri ini, sampai saat ini, masih ada kontroversi masalah Harimau Jawa yang konon dinyatakan sudah punah beberapa tahun yang lalu, tetapi beberapa naturalist muda Indonesia, sepenuhnya percaya bahwa Harimau Jawa belum melegenda, atau belum punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini masih harus dibuktikan dengan mengirimkan contoh rambut yang mereka yakini milik Harimau Jawa, untuk ditest DNA-nya dinegara Amerika.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Sampai disana, yang ada hanya kekecewaan, karena berlainan dengan Taman Nasional Baluran yang merupakan padang savanah, Meru Betiri merupakan hutan balantara. Menurut Bapak Sugiyono, jaga-wana yang bertugas disana, cara yang terbaik untuk menjelajah balantara Meru Betiri, adalah dengan cara tracking menembus hutan balantara, dari arah pintu timur Sukamade menuju pintu barat Bandealit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/meru3(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Perjalanan memakan waktu 3 hari 2 malam: malam pertama berkemah diteluk Meru, malam kedua diteluk Bandealit, yang konon luar biasa cantiknya. Dengan mempertimbangkan usia dan berat badan, saya memutuskan untuk berbijaksana dan tunduk pada realitas! Kekecewaan saya ditebus oleh kebaikan sdr. Wayan (Field Supervisor WWF) dan sdri. Asti (Volunteer WWF) dari Fakuktas Study Kelautan Universitas Diponegoro yang sedang melakukan penangkaran (turtle nursery) penyu hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diundang untuk melepas tukik-tukik kelaut dan malamnya menyaksikan ibu-ibu penyu hijau (dengan ukuran panjang sekitar 1 meter dan lebar 80 centimeter) yang sedang bertelur. Proses bertelur, sekitar 3.5 jam, dari naik kedarat sampai melaut kembali dari jam 11.00 malam sampai 02.30 dini hari. It cannot be better than that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih dikota Kali Baru sebagai “base-camp” atau pusat logistik, dihotel Margo Utomo, suatu resort yang asri dan rasanya kita berada dinegeri Belanda, karena tamu-tamunya hanya orang-orang Belanda yang sedang transit menuju Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="172" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/meru4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Menurut para pemandu wisata, turis-turis Belanda sudah nggak mau lagi mengunjungi Meru Betiri-Sukamade, karena kondisi jalan menuju kesana yang sangat parah. Dalam perjalanan kesana, saya hanya berpapasan dengan seorang enthusiast naturalist dari Swedia dan 2 orang researchers dari German. Kita memiliki banyak “nature wonder” tetapi kayaknya nggak pandai mengelola, apalagi memeliharanya secara komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keadaan jalan dan hari sudah larut, maka saya memutuskan untuk menginap ditaman nasional Meru Betiri-Sukamade. Sarana penginapan sangat basic tetapi cukup bersih. Listrik hanya dinyalakan pada malam hari, tetapi dipenginapan, tidak diketemukan satupun “colokan listrik” untuk bisa dipakai charging. Jangan terlalu berharap masalah sarana makan, meskipun para ibu pengawas hutan sanggup menyediakan, sebaiknya membawa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : mfda&lt;br /&gt;Referensi : mfda.web.id, navigasi.net&lt;br /&gt;Fotografer : mfda&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1619260817140008562?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1619260817140008562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/taman-nasional-meru-betiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1619260817140008562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1619260817140008562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/taman-nasional-meru-betiri.html' title='Taman Nasional Meru Betiri'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1853335916231240985</id><published>2010-06-29T11:59:00.002-07:00</published><updated>2010-07-06T00:44:32.624-07:00</updated><title type='text'>Ikan Dewa</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="109" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ikandewa.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Ikan Dewa adalah sejenis ikan yang dikeramatkan oleh penduduk di sekitar wilayah Desa Maniskidul dan sekitarnya. Bahkan di sekitar wilayah Kuningan-Jawa Barat, ikan ini dipercaya sebagai ikan istimewa yang membawa berkah bagi siapapun yang dapat menyentuh badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, legenda tersebut terus tersebar dari mulut ke mulut- hingga masyarakat sekitar Cirebon bahkan dari luar Cirebon, datang ke Kuningan ingin melihat ikan dewa, baik hanya sekedar melihat ataupun mempunyai tujuan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;legenda tentang asal-muasal &lt;/a&gt;ikan ini, seperti dikatakan oleh Pak Mamat, salah satu petugas penyewaan ban yang sudah bertahun-tahun ada di Cibulan," Dahulu kala ketika Prabu Siliwangi masih hidup, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga hampir semua prajurit dan kawulanya tunduk dan hormat pada Sang Prabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan Prabu Siliwangi, walaupun sudah memerintah dengan adil, masih ada saja prajurit yang tidak suka dan tidak puas terhadap Prabu Siliwangi. Singkat cerita, dikutuklah prajurit-prajurit yang membangkang tersebut sehingga menjadi ikan, yang keberadaannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang di kolam Cibulan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="181" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ikandewa1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dan anehnya tak ada satu orangpun yang berani mengambil ikan ini, baik hanya sekedar dipelihara, atau bahkan dimasak untuk dimakan. Karena, menurut kepercayaan masyarakat sekitar, barangsiapapun yang berani menganggu ikan-ikan tersebut, terhadap dirinya akan terjadi sesuatu bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita yang bisa kita dengar dari masyarakat sekitar, boleh percaya atau tidak. Bahkan menurut cerita yang berkembang, jumlah ikan yang ada di kolam ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah atau berkurang, tetap segitu-gitu saja. Pernah juga tiba-tiba, ikan-ikan Dewa yang berada dalam kolam tersebut hilang entah kemana, kemudian esok harinya kembali seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan potensi wisata tentang keberadaan ikan Dewa, maka desa setempat membangun tempat ini, sehingga selain para pengunjung bisa melihat ikan Dewa yang terlihat cantik dan seksi, juga para pengunjung bisa berenang bersamanya. Jangan khawatir, ikan Dewa atau ikan Kancra Putih, karena bersisik putih mengkilap, tidak akan menganggu manusia yang ingin berenang bersamanya, malah seakan-akan mereka merasa senang, karena kadang-kadang sambil berenang mereka mengikuti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam yang dibangun secara permanen pada tahun 1939 ini cukup luas juga, kurang lebih dengan panjang kurang lebih 70 meter dan lebar kurang lebih 30 meter. Masing-masing mempunyai kedalaman yang berbeda, sesuai dengan kategori, yaitu kolam untuk anak-anak dan kolam untuk dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang sejuk, langsung diperoleh dari lereng Gunung Ciremai, terlihat bening dan menggoda kita untuk berenang bersama ikan Dewa yang berada dalam kolam tersebut. Untuk menjaga kebersihan kolam Cibulan, kolam dikuras sekali dalam dua minggu, atau bisa lebih, jika dirasa air sudah sangat kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="174" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/ikandewa2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Begitupun dengan fasilitas yang ada di tempat ini, yaitu ruang bilas mandi, ruang ganti pakaian, penyewaan ban, penyewaan baju, semuanya sudah lengkap, rupanya pengelola memang sudah berniat untuk menggabungkan tempat ini sebagai tempat wisata air dan wisata legenda ikan Dewa. Apalagi dengan biaya masuk yang relatif murah, hanya Rp 2,000 per orang, tentu tidak akan memberatkan para pengunjung yang ingin berkunjung ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relatif mudah untuk menjangkau tempat ini, karena terletak di tepi jalan propinsi, antara Kuningan - Cirebon di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Jarak dari Kota Kabupaten Kuningan kurang lebih 7 km ke arah utara, dan terletak pada ketinggian 550 m diatas permukaan air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas keseluruhan areal ini sekitar 5 ha, dimana selain kolam Cibulan juga terdapat Situs Petilasan Prabu Siliwangi ( Raja Pajajaran ), dalam petilasan tersebut terdapat tujuh sumber mata air, yang masing-masing memiliki khasiat bagi orang-orang yang mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke tujuh mata air tersebut adalah; mata air kejayaan; mata air Cisadane; mata air kemulyaan; mata air kemudaan; mata air pengabulan; mata air keselamatan dan mata air Cirancana. Pada waktu-waktu tertentu tempat petilasan tersebut banyak diziarahi oleh penduduk setempat ataupun orang-orang dari luar daerah Kuningan dan Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cibulan yang mengandung nilai sejarah, legenda dan tempat wisata dapat dijadikan rangkaian tujuan wisata jika kita berkunjung ke wilayah kuningan. Udara khas pegunungan nan bersih, jauh dari polusi ditambah dengan pemandangan yang indah Gunung Ciremai, selalu menawarkan keindahan wisata Cibulan dan sekitar kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Lokasi : Maniskidul, Jalaksana, Kuningan&lt;br /&gt;Fotografer : AMGD&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://navigasi.net/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Navigasi.Net&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1853335916231240985?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1853335916231240985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ikan-dewa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1853335916231240985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1853335916231240985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ikan-dewa.html' title='Ikan Dewa'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1630760238361121686</id><published>2010-06-29T11:59:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:44:37.055-07:00</updated><title type='text'>Taman Balekambang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Taman Balekambang" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tamanbalekambang.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Habis gelap terbitlah terang&lt;/a&gt;. Ungkapan itulah yang cocok untuk menyebut Taman Balekambang di Surakarta. Taman yang sekarang terlihat indah, cantik, berseri dan asri ini dulunya sempat "ditinggalkan" orang karena kondisinya menyedihkan. Setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot), taman seluas 9.8 ha ini kembali menjadi asri dan banyak dikunjungi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2008 Pemkot melakukan revitalisasi Taman Balekambang ini untuk memfungsikan kembali hutan kota ini sebagai kawasan seni dan budaya, ruang terbuka publik dan daerah resapan air.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Balekambang, adalah sebuah taman kota yang dikembalikan keasliannya sesuai dengan maksud dari pembangunan taman tersebut yaitu menjadikannya paru-paru kota Solo. Keinginan dan kebutuhan masyarakat sekarang dan masa yang akan datang untuk mengatur lingkungannya sendiri haruslah diakomodasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Taman Balekambang" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tamanbalekambang1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di samping itu ada hubungan antara yang lama dan baru yang merupakan tujuan perancangan berkesinambungan. Demikian komentar Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) terhadap revitalisasi Taman Balekambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasrian Taman Balekambang ini tidak terlepas dari partisipasi dan tangan dingin Jokowi. Demikianlah Taman Balekambang akhirnya menjadi sebuah tata ruang yang dikelola dengan baik dan berfungsi ganda yaitu selain sebagai tempat rekreasi juga berfungsi sebagai daerah resapan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Balekambang yang memiliki nama asli Partini Tuin dan Partinah Bosch, dibangun oleh Kanjeng Gusti Adipati Mangkunegoro VII pada tahun 1921 sebagai tanda kasih kepada dua orang putrinya. Itulah sebabnya taman ini pada awalnya dibagi menjadi dua area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Taman Balekambang" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tamanbalekambang2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Area pertama diberi nama Partini Tuin yang berarti Taman Partini (putri tertua). Area kedua dinamakan Partina Bosch yang berarti Taman Air Partinah. Kedua taman inilah yang dikemudian hari dikenal sebagai Taman Balekambang oleh masyarakat Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balekambang (rumah terapung) adalah sebuah taman terbuka yang berlokasi di jalan Ahmad Yani, Solo. Dulunya tempat ini menjadi tempat beristirahat keluarga kerajaan. Sekarang di taman kota ini pengunjung dapat menyusuri jalan setapak yang dibuat melingkari taman. Kursi-kursi santai berjejer di pinggir jalan untuk beristirahat tatkala pengunjung lelah jalan berkeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil beristirahat di kursi-kursi tersebut kita dapat mendengarkan kicauan aneka burung yang berkeliaran serta gemericik air mancur dari kolam. Di taman ini pengunjung juga dapat menikmati berbagai pertunjukan kesenian, baik berupa musik, ketoprak, wayang kulit maupun beragam kegiatan budaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Taman Balekambang" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tamanbalekambang3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di taman ini banyak ditanam pepohonan langka yang sengaja ditanam dengan tujuan untuk pelestarian. Selain itu, di taman ini juga terdapat berbagai bangunan seperti Bale Apung yang biasa dipergunakan untuk pertemuan keluarga Mangkunegaran, Bale Tirtayasa tempat Raja Mangkunegoro menyendiri, amphiteater, gedung kesenian dan gedung teater terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri Taman Balekambang membuat kita merasakan kesejukan seperti yang dialami keluarga kerajaan Mangkunegaran pada zaman dulu. Balekambang menurut rencana akan dikembangkan menjadi taman botani. Bermacam-macam tumbuhan langka ditanam disana, yang merupakan sumbangan dari berbagai pihak termasuk para pejabat diplomatik negara sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Travel Club&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;pasarklewer,&amp;nbsp;skyscrapercity,&amp;nbsp;kabaresolo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1630760238361121686?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1630760238361121686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/taman-balekambang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1630760238361121686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1630760238361121686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/taman-balekambang.html' title='Taman Balekambang'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2191819864219798893</id><published>2010-06-29T11:39:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:44:45.898-07:00</updated><title type='text'>Semalam di Baduy Dalam</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Semalam di Baduy Dalam" height="127" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/baduidalam.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Tak sembarang orang bisa bertandang di tengah orang Baduy Dalam. Hidup di tengah &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;harmonisasi alam dan kebijakan tentang nilai luhur&lt;/a&gt; yang terus dijaga, seakan menjalar dalam nadi. Sebuah jembatan bambu dengan bentuknya yang unik, menyambut kedatangan setiap tamu yang mengunjungi Baduy Dalam. Inilah perbatasan yang memisahkan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Setelah melewati bagian ini, semua larangan yang diberlakukan di daerah ini harus ditaati setiap pendatang, termasuk saya tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan barang-barang elektronik, tidak mengotori sungai dengan sabun atau odol, berkata dan berbuat tak senonoh, serta sederet pantangan lainnya.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, wilayah yang dihuni oleh orang Kanekes ini juga terlarang bagi orang asing (non-WNI). Konon beberapa wartawan asing sampai sekarang belum berhasil masuk ke wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang mengaku sampai Baduy, nyaris dipastikan sesungguhnya mereka berada di lingkungan Baduy Luar, yang lebih terbuka terhadap orang luar dan sudah "terkontaminasi" modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Semalam di Baduy Dalam" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/baduidalam1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Nama Baduy ini diambil dari nama sungai yang melewati wilayah ini, sungai Cibaduy. Secara geografis terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketinggian 300-600 m di atas permukaan laut (DPL), membuat wilayah ini memiliki topografi dengan berbukit dan bergelombang, dengan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang saya tempuh dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam sekitar tiga jam. Bila melalui Desa Nangrang, atau desa yang dianggap bagian belakang dari Desa Baduy Dalam (Cibeo, Cikertawarna, dan Cikeusik). Desa Nangrang ini merupakan kawasan terakhir bagi kendaraan roda empat dan dua, kemudian bisa dititipkan pada penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya dan rombongan memang mencoba rute baru, untuk mengambil jalan pintas langsung menuju Baduy Dalam tanpa menginap di Baduy Luar. Dengan catatan, medan yang akan kami lalui lebih terjal dan menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur lainnya yang harus menginap melalui Ciboleger, menginap semalam di sana, sebelum masuk ke Baduy Dalam. Meskipun jarak tempuhnya bisa sekitar enam jam jalan kaki, yang tak sebanding dengan orang Baduy yang hanya perlu waktu satu jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk wilayah ini, pengunjung harus melapor dulu kepada pemangku adat setempat yang disebut Jaro Pulung, seorang pimpinan adat yang tugasnya membina hubungan dengan kebudayaan luar. Setelah mengisi buku tamu dan mengutarakan maksud rombongan kami, perjalanan dimulai dari sebuah titik yang bertuliskan "Selamat Datang di Baduy".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Baduy Dalam, di mana mereka tinggal ada di pedalaman hutan, masih terisolir, dan belum terusik dengan kebudayaan luar. Kebudayaan mereka masih asli, sehingga sulit bagi masyarakat lainnya untuk bisa masuk apalagi tinggal bersama suku Baduy Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan yang tetap dipegang teguh hingga kini diantaranya bagi warganya adalah tidak menggunakan kendaraan jenis apapun untuk sarana transportasi, tidak memakai alas kaki, tidak menggunakan alat elektronik (teknologi), hanya mengenakan pakaian berwarna hitam/ putih yang ditenun dan dijahit sendiri, dan semua hal yang berkaitan dengan "kembali ke alam". Karenanya selama ini tidak bisa sembarangan orang masuk ke wilayah suku Baduy Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati perbukitan yang cukup terjal, keluar masuk beberapa kampung Baduy Luar, sampailah kami di perkampungan Baduy Dalam yang pertama, Cikertawarna. Matahari sudah tak tampak, jalanan pun mulai terlihat samar-samar. Kampung yang konon dihuni tak lebih dari 50 kepala keluarga ini amat sepi, sama sekali tak terdengar suara kehidupan. Hanya ada seorang bapak tua yang menyapa kami dalam bahasa Indonesia campur Sunda dialek Banten. Setelah tahu tujuan kami untuk mengunjungi kampung Cibeo, ia langsung memandu kami hingga ke ujung kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Semalam di Baduy Dalam" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/baduidalam2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="213" /&gt;Dua puluh menit kemudian kami telah sampai di Cibeo, tempat kami bermalam hari itu. Sekelompok anak-anak masih tampak berlarian di lorong-lorong antar rumah meski hari sudah mulai gelap. Kami disambut dengan penuh keakraban, salah seorang warga langsung menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap. "Di tempat kami saja," ujar Syarif, lelaki berusia 25 tahun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pertemuan pertama saya. Lima tahun lalu saya pernah juga menginap di rumahnya. Dan, tampaknya tak ada satu pun perubahan terjadi disini. Semua tetap sama, mulai dari perabotan hingga ruang-ruang dalam rumahnya. Yang berbeda, kini Syarif telah punya tiga anak, sulungnya pun telah meningkat remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istirahat sejenak, kami telah disuguhi kopi dan teh hangat, berikut makan malam nasi dengan lauk mie instant campur kornet. Wah, meski hanya menu sederhana, namun beberapa teman setuju bahwa Baduy Dalam berhasil membuat "mie instant" jadi makanan terlezat di dunia - saat itu -. Begitu juga dengan kopinya yang terasa legit. Benar-benar menjadi makan malam penuh kesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas makan kami duduk-duduk di teras sambil ngobrol dengan sang pemilik rumah. Hebatnya, kami tak dapat melihat wajah lawan bicara karena malam yang amat pekat. Justru disinilah uniknya, hanya mendengar suaranya tanpa bisa membayangkan ekspresi wajahnya. Tak lama kemudian datang teman-teman Syarif lainnya, jadilah malam itu kami mengobrol layaknya sebuah pertemuan keluarga yang penuh canda tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masyarakat Baduy Dalam tidak mengenal budaya baca-tulis, namun ternyata mereka dapat mengikuti perkembangan dunia luar. Bahkan kami pun dibuat terkaget-kaget dengan berbagai pertanyaan atau jawaban mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, dibalik kebersahajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari mereka dengan fasih menjelaskan asal-usul moyangnya dengan lengkap, bahkan mampu juga bicara tantangan yang harus mereka hadapi dalam era modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa malam terus merambat. Sayup-sayup terdengar suara alat musik tradisional yang dipetik dengan penuh perasaan. Lilin, satu-satunya yang menjadi alat penerang rumah Sarif pun makin kecil nyalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Semalam di Baduy Dalam" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/baduidalam4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="194" /&gt;Setelah rombongan warga setempat pulang, saatnya menikmati "malam" yang sesungguhnya. Udara super dingin di malam yang pekat serta suara lolongan anjing, benar-benar "pas" untuk mereka yang butuh intropeksi diri. Kesunyian yang membeku inilah yang membuat saya tak kuasa memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak terasa hari telah berganti. Suara celoteh anak-anak kecil membangunkan saya. Rumah mereka yang didirikan diatas batu (ini kepercayaan mereka bahwa rumah supaya kokoh harus berdiri di atas batu) serta berbilik bambu, membuat udara masuk dengan leluasa. Tak salah bila sebagian besar dari rombongan kami menggigil semalaman. Sementara anak-anak kecil di Baduy Dalam ini tidur tanpa selembar kain di badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermalam di tempat terpencil ini tak hanya dapat belajar banyak soal kearifan hidup, tetapi kembali menyadarkan bahwa alam benar-benar bisa menjadi sahabat manusia untuk kembali menjadi manusia yang "membumi". Setelah menikmati dinginnya air kali saat mandi, kami pun bergegas pulang kembali ke Jakarta. Tak lupa membawa air bambu hitam untuk obat batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada begitu banyak kesan tertinggal di sana. Meski lelah meraja, dan kaki pegal tak ketulungan, rasanya sebanding dengan pengalaman ini. Belum lagi mobil yang kami tumpangi meluncur kembali ke Jakarta, seorang teman langsung nyeletuk," Kapan balik lagi ke Cibeo ya?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Orang Kanekes&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat baduy dikenal dengan sebutan Orang Kanekes. Sehari-hari pemerintahan adatnya dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi kedalam empat jabatan, yaitu Jaro Tangtu, Jaro Dangka, Jaro Tanggungan, dan Jaro Pamarentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka yang jumlahnya 9 orang bertugas menjaga, mengurus dan memelihara tanah titipan leluhur mereka. Jaro tanggungan adalah pemimpin bagi Jaro Dangka dan Jaro Tangtu (Jaro Duabelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jaro Pamarentah bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung. Dan, pimpinan tertinggi bagi mereka disebut "Puun", sebuah jabatan yang diemban secara turun-temurun. Namun jabatan ini tak selalu turun dari bapak ke anak, bisa juga kerabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani (huma). Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual hasil hutan seperti buah durian, asam, dan madu. Saat tak ada pekerjaan di ladang, ada beberapa orang Baduy yang berkelana ke kota besar dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Semalam di Baduy Dalam" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/baduidalam3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="194" /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cenderamata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasa lalu perdagangan di tempat ini dilakukan secara barter. Namun sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian lain yang dimiliki warga Baduy Dalam adalah membuat kerajinan tangan, berupa manik-manik, anyaman, serta menenun kain, seperti kerajinan tangan tas koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang dianyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, biasanya saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, mereka senang berkelana ke kota besar di sekitarnya menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Jakarta termasuk tempat tujuan favorit mereka, meski harus berjalan kaki beberapa dengan rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Travel Club&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;indoflyer,&amp;nbsp;&lt;a href="http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Time+Traveller&amp;amp;y=cybertravel|2|0|3|2594" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;cbn&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2191819864219798893?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2191819864219798893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/semalam-di-baduy-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2191819864219798893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2191819864219798893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/semalam-di-baduy-dalam.html' title='Semalam di Baduy Dalam'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-3401857724456652060</id><published>2010-06-29T11:37:00.002-07:00</published><updated>2010-07-06T00:45:02.074-07:00</updated><title type='text'>Gedung Linggarjati</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;Desa&amp;nbsp;&lt;img align="left" alt="Linggarjati" height="115" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/linggarjati.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Linggarjati merupakan sebuah Desa kecil yang berada di salah satu wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Praktis desa kecil ini dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan dunia, pada saat dilaksanakannya Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 10-13 November 1946. Perjanjian ini dianggap sebagai&amp;nbsp; perjanjian yang sangat penting, karena berhubungan erat dengan eksistensi Pemerintah Indonesia dimata dunia pada waktu itu, baik secara De Facto dan De Jure dipertaruhkan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Ibarat sungai, Linggarjati merupakan salah &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;satu mata air yang mengaliri &lt;/a&gt;sungai tersebut, sehingga air mengalir terus sampai ke hilir dan akhirnya bermuara di laut membentuk lautan yang luas dengan segala kekayaaan alamnya. Begitupun dengan Linggarjati, merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, sehingga sampai sekarang bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.&lt;br /&gt;Diantara isi pokok persetujuan Linggarjati adalah : (1) Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; (2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia;(3) Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Linggarjati" height="210" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/linggarjati1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati sendiri berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan air laut, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Desa Linggasana, sebelah timur berbatasan dengan Desa Linggamekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Linggarjati" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/linggarjati2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Hawa sejuk dan damai akan kita rasakan ketika mulai memasuki pelataran Gedung Linggarjati. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Luas komplek Linggarjati kurang lebih 2,4 hektare, dimana sepertiga dari luas tersebut merupakan bangunan gedung yang dipergunakan untuk perundingan.&lt;br /&gt;Bangunan ini sendiri tadinya dibangun oleh warga negara Belanda, sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dipilih sebagai tempat perundingan dan akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebagai salah satu bangunan cagar budaya Pemerintah Indonesia. Walaupun berupa bangunan lama, tapi secara keseluruhan kebersihan gedung ini nampak terjaga sekali. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Ternyata posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari : 1.Sutan Sjahrir, 2.Mr.Soesanto Tirtoprodjo, 3.Dr.A.K.Gani, 4.Mr.Muhammad Roem. delegasi Belanda terdiri dari: 1.Prof.Ir. Schermerhorn, 2.Mr.Van Poll, 3.Dr.F.DeBoer,&amp;nbsp; 4.Dr.Van Mook. Dan sebagai notulensi adalah; 1.Dr.J.Leimena, 2.Dr.Soedarsono 3.Mr.Amir Sjarifuddin, 3.Mr.Ali Budiardjo. Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Linggarjati" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/linggarjati3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Hari-hari biasa tempat ini biasanya sepi pengunjung, paling-paling kalau ada kunjungan biasanya kunjungan nostalgia dari para wisman Belanda yang ingin. Baru pada hari libur, tempat ini ramai dikunjungi oleh pengunjung yang hampir sebagian besar adalah anak-anak sekolah, yang tidak hanya berasal dari daerah sekitar, namun juga berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Biaya operasional tempat ini, selain diberi subsidi oleh Pemerintah, juga sedikit terbantu oleh kehadiran pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung yang datang diharapkan bisa mengisi uang kas dengan jumlah seikhlasnya, kemudian uang tersebut digunakan untuk membantu biaya perawatan gedung. Menurut Pak Judi, salah satu petugas museum mengatakan,"Peranan pemerintah untuk menjaga kelestarian gedung ini sangat diharapkan, terutama dalam hal pendanaan,". Selama ini banyak sekali para Pejabat Pemerintah yang memberikan sumbang saran, namun lebih dari itu adalah bukti konkret berupa pendanaan untuk terus menjaga kelestarian Gedung Linggarjati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Linggarjati" height="187" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/linggarjati4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tidak jauh dari Museum Linggarjati, tersedia juga obyek wisata alam sebagai pelengkap wisata Museum Linggarjati. Tempat tersebut terdiri dari taman-taman dengan pohon-pohon yang rindang dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang lain. Seperti kolam renang, kemudian danau buatan-dimana kita bisa melintasi danau tersebut dengan perahu karet dan tersedia juga pondok-pondok penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap ditempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pengelolaan tempat tersebut kurang diperhatikan, sehingga terlihat agak kotor, banyak sampah yang berserakan dan pengaturan taman-taman yang kurang rapi, sehingga banyak rumput yang tumbuh disana-sini. Untuk menjaring pengunjung yang lebih banyak, pemda setempat harus lebih peduli, baik dalam hal pengelolaan maupun dalam hal promosi. Karena lokasi yang mudah dijangkau, serta udara yang cukup sejuk, wisata ini kalau dikelola secara profesional tentu kedepan akan semakin menarik banyak wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Lokasi : Linggarjati, Cilimus, Kuningan&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi&lt;br /&gt;Foto : AMGD,&amp;nbsp;museumindonesia&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-3401857724456652060?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/3401857724456652060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/gedung-linggarjati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3401857724456652060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3401857724456652060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/gedung-linggarjati.html' title='Gedung Linggarjati'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2877251633474884384</id><published>2010-06-29T11:37:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T11:37:06.236-07:00</updated><title type='text'>Tugu Pahlawan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Tugu Pahlawan Surabaya" height="119" hspace="6" src="http://liburan.info/images/stories/tugupahlawan.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Sejarah membuktikan bahwa &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Surabaya&lt;/a&gt; punya andil yang besar terhadap berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa yang tak pernah terlupakan oleh bangsa Indonesia adalah Pertempuran 10 Nopember 1945.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Jika anda ke surabaya pastilah belum lengkap tanpa mengunjungi Areal Tugu Pahlawan yang bersejarah ini, di areal Monumen Tugu Pahlawan diceritakan tentang pertempuran 10 november 1945, di monumen yang juga dijadikan simbol kebanggaan arek suroboyo inilah banyak kisah haru dan heroik menghias suasana diareal monumen ini.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tugupahlawan1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Terutama di museumnya yang banyak menceritakan tentang pertempuran heroik arek suroboyo pada 10 Nopember 1945 melawan tentara Sekutu yang diboncengi NICA, juga ada cerita seputar peristiwa terbunuhnya Jenderal Mallaby dan penurunan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo di Hotel Yamato sekarang Hotel Majapahit Oriental, sayang saya tidak bisa memotret untuk di areal museum ini, tapi untuk ukuran sebuah museum yang pernah saya kunjungi, museum diareal Tugu ini terawat dengan baik, dengan fasilitas yang cukup bagus untuk sebuah museum di Indonesia, dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dilengkapi eskalator dan lift sebagai penunjung ramp tangga menurun menuju ruang museum.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/tugupahlawan2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Saya sendiri merupakan pendatang di kota surabaya ini, namun dari cerita cerita tentang persahabatan dan perjuangan heroik di museum inilah yang membuat saya menarik kesimpulan kalau orang Surabaya asli atau yang pernah menetap di Surabaya bangga dengan panggilan “arek suroboyo”.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;O ya Tugu Pahlawan bisa kita kunjungi dari sudut mana saja di kota surabaya karena didirikan di jantung kota Surabaya. Dan dari Tugu inilah kita juga bisa melihat kantor Gubernur Propinsi Jawa Timur, terus berjalan ke Bank Indonesia bahkan mungkin ke Kantor Pos Besar atau ke pusat perkulakan terbesar untuk Indonesia Timur yaitu Pasar Turi.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Ok Saya tunggu anda di Tugu Pahlawan, MERDEKA !&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Penulis : ricky&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Lokasi : Bubutan, Surabaya&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Fotografer : NavMan&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Sumber: Navigasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2877251633474884384?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2877251633474884384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tugu-pahlawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2877251633474884384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2877251633474884384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/tugu-pahlawan.html' title='Tugu Pahlawan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8089765548337483864</id><published>2010-06-29T11:36:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:47:21.264-07:00</updated><title type='text'>Situs Karangkamulyan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Situs Karangkamulyan" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Karangkamulyan.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati ajal tiba Sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama ( Dewi Naganingrum ).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, dalam memerintah raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi peenrus kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;memiliki nama dan kisah&lt;/a&gt;, begitu pula beberapa lokasi lain yang terdapat di dalamnya yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh seperti ; pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Situs Karangkamulyan" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Karangkamulyan1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr Tony Jubiantoro pada tahun 1997. Bahwasannya di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah utara adalah jalan raya Ciamis-Banjar, sebelah selatan sungai Citanduy, sebelah barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk tanggul kuno, dan batas sebelah timur adalah sungai Cimuntur. Karena merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga, akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Udara yang cukup sejuk terasa ketika kita memasuki gerbang utama situs ini. Tempat parkir yang luas dengan pohon-pohon besar disekitar semakin menambah sejuk Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan kita lewati adalah Pelinggih ( Pangcalikan ). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni ( tempat pemujaan ) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen ( kubur batu ). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sahyang Bedil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Situs Karangkamulyan" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Karangkamulyan2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Penyabungan Ayam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lambang Peribadatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Panyandaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Cikahuripan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dipati Panaekan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Situs Karangkamulyan" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Karangkamulyan3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas mengelilingi Situs ini, puluhan warung makan dengan menu khasnya pepes ayam dan pepes ikan mas merupakan pelengkap ketika kita berkunjung ke tempat ini. Apalagi minumannya air kelapa alami langsung dari buahnya semakin menambah asyiknya suasana. Walaupun hanya berupa situs-situs purbakala tampaknya tempat ini dikelola dengan cukup bagus, terbukti dengan kebersihan yang cukup terjaga di sekitar lokasi.&amp;nbsp; ( By AMGD )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Lokasi : Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis&lt;br /&gt;Fotografer : AMGD&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8089765548337483864?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8089765548337483864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/situs-karangkamulyan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8089765548337483864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8089765548337483864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/situs-karangkamulyan.html' title='Situs Karangkamulyan'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-4235702729356335964</id><published>2010-06-29T11:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:47:26.981-07:00</updated><title type='text'>Monumen Four Faced Budha</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Monumen Four Faced Budha" height="119" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/fourfacedbudha.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Ternyata kota Surabaya punya salah satu obyek wisata yang sangat spektakuler di Asia tenggara, Patung Dewa Empat Muka atau Four Faced Buddha monument. Mengutip dari majalah MOSSAIK edisi Februari 2005, Four Faced Buddha &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Monument&lt;/a&gt;&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; mendapatkan penghargaan MURI sebagai Patung Dewa Empat Muka tertinggi dan terbesar di Indonesia. Patung setinggi sembilan meter yang memiliki luas 225 meter persegi ini masih belum ditandingi patung serupa yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four Faced Buddha monument , memiliki tinggi total 36 meter (termasuk kubah) diresmikan 9 November 2004, dan menghabiskan dana hampir 4 milyar rupiah. Dibangun di lahan seluas 1,5 hektar, di bagian tengah lahan, ditempatkan bangunan dengan panjang 9 meter, lebar 9 meter dan tinggi 36 meter. Kalau kita lihat semuanya mengandung angka 9, kenapa bisa angka 9 ? karena mengambil referensi monumen serupa di Thailand, dan angka 9 juga memiliki arti tersendiri bagi umat budha.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Monumen Four Faced Budha" height="256" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/fourfacedbudha1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="194" /&gt;Bangunan Stupa tempat Four faced Budha ini bernaung, dikelilingi 4 soko guru atau pilar berwarna hijau keemasan, yang terdiri 3 bagian, yaitu stupa, patung budha, dan singasana budha. Pada puncak stupa telah dilengkapi dengan penangkal petir, sedangkan patung budha dan singasana memiliki tinggi masing masing 9 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat model bangunan ini, memang hampir mirip dengan Four Faced Buddha Monument di Thailand, cuma perbedaannya patung yang di Thailand lebih tinggi tapi bangunannya stupanya masih lebih tinggi yang ada di Surabaya ini. Selain kemiripan ukuran yang sangat besar, patung yang memiliki emapt wajah dan empat pasang tangan ini, dilapisi emas diseluruh bagian tubuhnya. Konon untuk menyempurnakan proses pelapisan emas ini, sengaja didatangkan bahan kampoh atau kertas emas asli Thailand (ada juga yang menyebut kertas kimpo). Lengkap dengan tukangnya, dengan biaya pelapisan atau ritual pemberian jubah ini mencapai 1,5 Milyar rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Monumen Four Faced Budha" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/fourfacedbudha2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tentang makna patung Dewa Empat Muka atau ada juga yang menyebutnya Dewa Catur Muka, membawa filosofi empat kebaikan yang dimiliki Budha, yaitu welas asih, murah hati, adil (tidak memihak), dan meditasi. Empat kebaikan ini bermakna, budha adalah wujud kasih sayang sesama Manusia, membantu siapapun tanpa diskriminasi, dan setia dalam doa atau permohonan yang disampaikan dalam prosesi ritual. Sementara pada delapan tangan budha ada kitab suci, air suci, senjata pertahanan, senjata melawan kejahatan, buku kitab suci, tasbih, dada, dan cupu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Selain filosofi itu, tempat ini juga menawarkan gagasan menjadi sentra peribadatan umat budha, hingga nantinya akan banyak pengunjung yang datang ke tempat ini. Selain melihat patung dewa empat muka ini, ditempat ini juga kita akan melihat empat patung gajah putih bertinggi sekitar 4 meter disetiap sudut, tiga kolam yang dihias bunga teratai, dan sebuah ruang meditasi. Komplek ini juga dihiasi 12 lampu yang terbuat dari perunggu dan tembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Monumen Four Faced Budha" height="198" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/fourfacedbudha3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Dibagian depan akan kita jumpai tempat jual alat sembahyang seperti lilin dan dupa, ditempat ini juga nantinya pengunjung bisa mendapatkan souvenir khas patung budha empat muka, tapi waktu saya kemarin kesana…ternyata barangnya belum tersedia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut anda, apa ingin menjadikan obyek wisata kali ini sebagai tujuan wisata anda ? atau mungkin ingin berangan angan memiliki foto dengan latar belakang Four Faced Buddha Monument, seakan berada di Thailand, atau mungkin anda ingin bersembahyang..semuanya terserah anda, karena tempat ini terbuka untuk umum, dan bebas biaya masuk, cuman bayar ongkos masuk ke wilayah Pantai Ria Kenjeran aja sih…kalo mobil isi 2 orang penumpang, cuman bayar 3000 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : ricky&lt;br /&gt;Lokasi : Bulak, Surabaya&lt;br /&gt;Fotografer : NavMan&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-4235702729356335964?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/4235702729356335964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/monumen-four-faced-budha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4235702729356335964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/4235702729356335964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/monumen-four-faced-budha.html' title='Monumen Four Faced Budha'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-3755500423906603987</id><published>2010-06-29T11:34:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:47:33.022-07:00</updated><title type='text'>Menyusuri Pantai dengan 'Sandal Besar'</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bandengan(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Memasuki jantung Kota Jepara yang dikenal dengan sebutan Kota Ukir rasanya kurang afdol jika tak mengunjungi pantai-pantainya yang indah dan jauh dari polusi udara. Ya, kota kelahiran Raden Ajeng Kartini itu banyak memiliki objek wisata pantai, antara lain Pantai Kartini serta Pantai Tirta Samudra atau yang lebih dikenal dengan nama Pantai Bandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua pantai yang telah terkenal itu, pada garis pantai sepanjang 72 km lebih yang dimiliki Jepara, berbagai embrio baru objek wisata pantai bermunculan. Sebut saja Pantai Prawean, Teluk Awur, Ombak Mati, dan masih banyak objek wisata mengandalkan keindahan pantai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Bandengan inilah salah satu yang memesona, karena berpasir putih, berair jernih, serta ombaknya cukup tenang, sehingga sangat bersahabat bagi siapa pun yang ingin bermain dan bersantai, bahkan untuk mandi. Apalagi, lokasi objek wisata itu tak jauh dari pusat Kota Jepara, yakni sekitar 7 km ke arah barat daya. Yang membedakan dengan pantai-pantai lainnya, selain hamparan pasir putih dan airnya yang masih jernih adalah kerimbunan pohon pandan berduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan itu pula sudah dibangun jalan beraspal beberapa meter dari bibir pantai, sehingga memberi akses bagi pengunjung untuk menembus dan mengitari objek tersebut dengan menggunakan motor atau pun mobilnya. Bagi para pengunjung yang tidak ingin berbasah-basah di pantai, disediakan tempat duduk untuk bersantai di bawah rimbunnya pohon pandan, serta bagi anak-anak ada taman bermain berupa ayunan atau slunturan. Tambahan fasilitas berupa gasebo juga bisa untuk tempat berteduh. Salah satu gasebo ini dibangun Pemkab Jepara medio tahun lalu dan sekarang melengkapi beberapa gasebo yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Bandengan dengan airnya yang jernih dan berpasir putih tersebut memang bisa menggoda siapa saja untuk datang. Banyak wisatawan yang datang memang untuk mandi di laut karena kadar garamnya yang tinggi dan dipercaya dapat mengurangi pegal-pegal dan capai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kondisi pantai yang landai memungkinkan anak-anak tak takut menceburkan diri ke laut. Ada juga yang menyewa kano per jamnya Rp 20.000 untuk ukuran kecil dan yang besar Rp 30.000/jam. Bagi yang menyukai becak air juga ada persewaan. Sementara bagi mereka yang ingin merasakan naik perahu, terdapat 15 perahu wisata yang siap mengantar mereka berputar-putar di sekitar pantai dengan tarif Rp 5.000, atau Rp 10,000 bagi mereka yang ingin diantarkan sampai ke Pulau Panjang (sekitar 15 menit perjalanan dengan perahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan rasa aman bagi pengunjung, lokawisata ini menyediakan tim keamanan, termasuk tim SAR. Tim SAR ini juga melibatkan sebagian besar pemilik perahu wisata. Salah satu hal yang mendapat perhatian bagian keamanan adalah memantau aktivitas pengunjung di laut, baik yang sedang mandi, naik kano maupun yang naik perahu. Yang sedang mandi diingatkan untuk tidak melebihi batas yang telah ditentukan, begitu pula yang sedang naik kano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahana yang sangat baru bagi para pengunjung adalah banana boat dan persewaan kano. Menurut Supriyadi, penyedia jasa kano, alat-alat dayung untuk wisatwan itu didatangkan dari Bali. Dia menyewakan sembilan kanonya, enam berukuran besar dan sisanya berukuran kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bandengan1(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;’’Penyediaan kano, banana boat, atau kami menyebutnya ’sandal besar’ hanya saat akhir pekan dan musim liburan. Kalau tidak hari libur, pantai ini tergolong sepi. Ini merupakan wahana baru untuk menarik minat wisatawan. Dan respons wisatawan pun sangat positif dengan tambahan persewaan kano, banana boat, dan sandal besar ini. Untuk banana boat ini sewanya Rp 30.000/orang,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas lain Pantai Bandengan adalah gardu pandang yang digunakan oleh anggota tim SAR dalam memantau pengunjung. Mereka mengingatkan pengunjung dengan menggunakan megafon manakala ada pengunjung yang mandi melebihi batas yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya para wisatawan yang berkunjung tak akan melewatkan waktu senja begitu saja. Seusai menikmati berbagai permainan yang menyenangkan di lokasi pantai hingga menjelang senja, tibalah saatnya menikmati sang surya yang tenggelam di ujung pantai. Panorama sunset inilah yang sangat mengagumkan. Pantulan cahaya matahari yang meredup terlihat di air laut dengan ombak yang tenang. Momentum seperti ini sering diabadikan para fotografer yang kebetulan mampir di Pantai Bandengan Jepara hanya untuk koleksi pribadi atau untuk foto prewedding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah, Pantai Bandengan berkaitan dengan kisah RA Kartini. Pantai tersebut merupakan tempat yang menjadi kenangan manis buat putri Bupati Jepara pada masa itu. Ketika kecil, dia sering sekali berwisata ke pantai ini bersama Nyonya Ovink Soer (Istri asisten residen) dan suaminya. Pada saat liburan pertama menjelang kenaikan kelas, mereka mengajak Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah untuk menikmati keindahan pantai tersebut. Mereka mencari kerang sambil berkejaran menghindari ombak yang menggapai kaki mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut. Dijawab dengan singkat ’’Pantai Bandengan’’. Selanjutnya Ovink Soer mengatakan, di Holland pun ada pantai yang hampir sama dengan Pantai Bandengan, namanya Scheveningen yang airnya sedikit dingin. Secara spontan Kartini menyela, ’’Kalau begitu kita sebut saja Pantai Bandengan ini dengan Klein Scheveningen.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bandengan2(1).jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Pantai Bandengan juga merupakan tempat yang pernah mengukir sejarah perjalanan cita-cita Kartini. Di pantai itulah Kartini dan Mr Abendanon mengadakan pembicaraan empat mata yang berhubungan dengan permohonannya untuk belajar ke negeri Belanda, meskipun akhirnya secara resmi permohonannya kepada pemerintah Hindia Belanda ditarik kembali dan biaya yang sudah disediakan diberikan kepada pemuda berasal dari Sumatera yaitu Agus Salim (KH Agus Salim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga legenda yang menyebutkan bahwa objek wisata Pantai Bandengan berkaitan dengan asal usul Karimunjawa. Dalam legenda itu disebutkan, karena terdorong rasa prihatin akan perilaku anaknya yang bandel, maka Sunan Muria memerintahkan puteranya yaitu Amir Hasan pergi ke utara menuju sebuah pulau yang nampak ’’kremun-kremun’’ dari puncak Gunung Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian ini dengan tujuan untuk memperdalam sekaligus mengembangkan ilmu agama. Kelak pulau yang dituju itu dinamakan Pulau Karimunjawa. Dalam perjalanan itu sampailah mereka di pantai yang banyak terdapat paya-paya dan ikan bandeng. Sampai sekarang tempat itu dinamakan Desa Bandengan dan pantai yang terletak di desa itu dinamakan Pantai Bandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu Lautnya Bikin Ketagihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berwisata di pantai semakin mengasyikkan dengan menikmati dengan kuliner yang berhubungan dengan hasil laut. Jadi setelah beraktivitas mengelilingi pantai dengan panorama yang indah, kurang puas rasanya kalau tidak mencicipi hasil laut yang diolah dengan berbagai macam masakan seperti pindang serani, ikan bakar, kerang rebus, kepiting, dan lainnya. Tak usah jauh-jauh mencari makanan tersebut, sebab di sekitar pantai berjajar warung makan yang menyediakan makanan tersebut lengkap dengan minuman khas kelapa muda yang segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu warung yang cukup terkenal menyediakan menu seafood adalah ikan bakar ’’Bu Sri’’. Di warung milik Hj Sri Astuti (68) itu, semua menu laut disediakannya: kepiting, kerang, ikan patikoli, kakap, cumi-cumi dan tentu saja hidangan khas Jepara, pindang serani. Menu yang terakhir itu lezat disantap saat masakan sedang panas. Kuahnya yang mengundang selera tentu saja menjadi daya pikat tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bandengan3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;’’Resep kami merupakan resep keluarga turun-temurun. Saya bisa memasak dengan permintaan pelanggan. Mereka ingin bumbu seperti apa, saya siap,’’ ujar sang pemilik yang dalam mengelola usahanya dibantu kedua putranya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain telah melegenda karena berdiri sejak 30 tahun silam, pelanggannya banyak, termasuk Bupati Jepara Hendro Martojo. Harganya pun boleh dikatakan murah, dari Rp 45.000/kg hingga yang paling mahal 75.000/kg. Untuk kepiting yang bertelur, harganya mencapai Rp 75.000/kg. ’’Kalau ikan, paling mahal ya patikoli dan kakap merah,’’ imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penulis mencicipi ikan bakar dan pindang serani bikinan langsung warung tersebut, memang benar, rasanya begitu sedap dan pasti bikin ketagihan untuk kembali menikmatinya. Kepedasan sambalnya begitu ’’menyayat’’ lidah dan memeras keringat tubuh ini untuk keluar saking nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi keistimewaan warung itu adalah cara mengolah masakannya. Sang pemilik tetap mempertahankan ciri khas warungnya dengan memasak menggunakan kayu bakar, meskipun kayu bakar lebih mahal dibanding gas elpiji. Menurut pelanggan setianya, kalau dibakar dengan kayu, hasil racikan bumbunya lebih meresap dan lebih sedap. Sedangkan untuk membakar, menggunakan batok kelapa bukan arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bandengan4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di objek wisata ini, deretan pedagang kaki lima yang telah ditata sedemikian rapi berjejer. Para pedagang itu sebagian besar warga sekitar Desa Bandengan. Selain masakan segar, ada banyak yang menjual ikan asin. Banyak wisatawan yang membawanya sebagai oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, Pantai Bandengan akan padat dikunjungi pada saat puncak perayaan syawalan atau orang Jepara menyebutnya saatnya Pesta Lomban. Puluhan ribu wisatawan tumpek blek di pantai untuk sekadar menikmati semilirnya angin laut atau mandi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertamasya di pantai memang menyegarkan, memiliki keeksotisan tersendiri. Dengan gambaran ini, semoga Pantai Bandengan menjadi salah satu objek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Anda selain Karimunjawa tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SuaraMerdeka&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;hianoto,&amp;nbsp;aliefatul,&amp;nbsp;cityguide&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-3755500423906603987?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/3755500423906603987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menyusuri-pantai-dengan-sandal-besar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3755500423906603987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3755500423906603987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menyusuri-pantai-dengan-sandal-besar.html' title='Menyusuri Pantai dengan &apos;Sandal Besar&apos;'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-9204445421862728976</id><published>2010-06-29T11:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:47:39.616-07:00</updated><title type='text'>Plangon</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Plangon" height="117" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plangon.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pagi itu beberapa ekor monyet bergelantungan di atas pohon, bahkan beberapa diantara mereka duduk-duduk dengan santai di lokasi parkir kendaraan, seakan-akan ingin mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung obyek wisata Plangon.&amp;nbsp; Tak jauh dari Kota Cirebon, kurang lebih 5 kilometer sebelah barat kota Cirebon, kita bisa singgah di obyek wisata yang berbeda dari obyek-obyek wisata lainnya di kota Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata ini merupakan&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;perpaduan antara nilai-nila&lt;/a&gt;i sejarah, kesejukan alam dan adanya komunitas monyet dengan jumlah lumayan banyak di tempat tersebut. Dengan potensi tersebut, tempat ini sangat layak untuk dijadikan salah satu tujuan wisata di Cirebon.Tepatnya, lokasi ini berada di desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Plangon" height="174" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plangon1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Plangon sendiri berasal dari kata tegal klangenan yang berarti sebuah tempat atau bukit untuk menenangkan diri. Alkisah sekitar 4 abad yang silam ada dua orang pangeran yang bernama Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan mencari tempat yang tenang untuk memecahkan permasalahan-permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi. Akhirnya kedua orang tersebut menemukan sebuah bukit yang terletak di sebelah barat kota Cirebon yang dianggap sebagai tempat yang paling cocok untuk melaksanakan maksud tersebut. Kedua orang pangeran yang konon masih keturunan dari Bagdad naik ke atas bukit. Dalam perjalanan ke atas bukit, kedua Pangeran itu dihadang oleh penjaga hutan Plangon yang bernama Pangeran Arya Jumeneng. Kedua pangeran dari Bagdad itu&amp;nbsp; dapat memenangkan pertarungan, dan akhirnya ketika sampai di atas bukit kedua Pangeran itu&amp;nbsp; membuat tempat peristirahatan, yang akhirnya sampai sekarang menjadi tempat makam kedua Pangeran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bagi para pengunjung yang baru berkunjung ke sini, kesan seram memang terasa. Selain karena memang hutannya yang cukup lebat, juga setiap gerak kita akan diikuti oleh monyet-monyet yang terkadang sedikit jahil. Untuk itu, ketika naik bukit , pawang setempat setidaknya menyertai kita untuk membantu jikalau monyet-monyet tersebut menjadi nakal terhadap para pengunjung. Untuk sampai ke puncak bukit Plangon kita harus menaiki banyak tangga , tidak ada yang tahu tentang jumlah tangga tersebut, bahkan pawangnya sendiri. Tapi dengan berjalan santai kita memerlukan waktu setengah jam untuk sampai puncak Plangon.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Plangon" height="176" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plangon2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Memasuki tangga-tangga pertama, puluhan monyet sudah mulai mengikuti kita, ada yang sekedar mengikuti dan ada yang meminta makanan. Untuk itu para pengunjung disarankan membawa makanan, seperti kacang-kacangan, yang akan kita berikan kepada monyet-monyet tersebut. Setelah beberapa puluh tangga, pawang Plangon memberikan penjelasan,"bahwa di hutan ini ada 6 kerajaan monyet, dimana masing-masing wilayah dipimpin oleh satu jawara monyet". Wilayah satu adalah wilayah paling bawah, yang dipimpin oleh si Jefri, wilayah dua sampai enam adalah semakin ke atas sampai puncak, yang dipimpin oleh masing-masing jawara monyet yaitu, Si Acing, Si Bondol, Si Werman, Si Mandor dan Si Swing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu pasti, darimana asal monyet tersebut, apakah memang sudah ada dari dulunya, atau hewan peliharaan Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan. Yang jelas, monyet tersebut berada di hutan Plangon dan berkembang biak dengan baik. Tapi memang ada beberapa hal, yang menurut penduduk sekitar adalah aneh. anehnya, ada hari-hari tertentu dimana monyet-monyet tersebut tidak turun ke bawah, tapi terus bersembunyi di pohon. hari-hari tersebut diantaranya jatuh pada tanggal satu muharam. Pernah suatu kali dicoba, disepanjang tangga naik ke puncak ditebarkan ratusan makanan pada tanggal satu Muharram, ternyata tidak ada satupun monyet yang mengambil makanan tersebut. Bandingkan dengan hari-hari lain, jangankan ditaruh ditanah, masih dipegang ditangan saja, makanan yang dibawa bisa diserobot oleh monyet-monyet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Plangon" height="171" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/plangon3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Akhirnya setelah sampai di puncak bukit, kita bisa melihat makam kedua Pangeran tersebut, dengan tanah sekitar makam yang datar. Bangunan dengan luas kurang lebih 100 meter persegi tersebut, terlihat banyak ditumbuhi lumut karena umurnya yang sudah sangat tua. Makam tersebut terkunci, karena pada hari-hari tertentu saja dibuka. Ditengarai, tanah datar sekitar makam adalah tempat berkumpulnya para murid kedua Pangeran tersebut, dimana Sang Pangeran memberikan wejangan-wejangannya. Sembari melepas lelah, kita bisa duduk-duduk didepan makam, sambil menikmati kesejukan dan keasrian alam sekitar, sambil terus ditemani oleh monyet-monyet yang terus menguntiti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Lokasi : Babakan, Sumber, Cirebon&lt;br /&gt;Fotografer : AMGD,&amp;nbsp;beritacerbon&lt;br /&gt;Sumber : Navigasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-9204445421862728976?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/9204445421862728976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/plangon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/9204445421862728976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/9204445421862728976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/plangon.html' title='Plangon'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8109783851522726596</id><published>2010-06-29T11:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:47:49.507-07:00</updated><title type='text'>Hijaunya Wonosari, Birunya Arjuno</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="gro Wisata Wonosari Lawang" height="132" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kawasan&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt; Malang&lt;/a&gt; dan sekitarnya merupakan daerah yang kaya objek wisata di Jawa Timur. Sebut saja Candi Singosari, Pulau Sempu, Peziarahan Gunung Kawi, Air Terjun Pujon, dan Waduk Karangkates. Itu belum termasuk objek wisata di kota Batu yang hanya 15 km dari pusat Kota Malang. Kota Malang sendiri merupakan kota tua yang sangat nyaman untuk dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua itu ada satu destinasi cukup berkesan di hati, mes ki belum sepopuler objek wisata lain. Tempat itu ialah Agrowisata Kebun Teh Wonosari. Letaknya &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;di kaki Gunung Arjuno yang bisa dicapai dari Lawang, Malang sebelah utara. Lokasinya sejuk, tenang, dan relatif tidak seramai destinasi lain, misalnya jika dibandingkan dengan Pemandian Selekta, Batu.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkunjung ke Malang belum lama ini, saya bersama rombongan memulai perjalanan dari Kepanjen yang berada di selatan Kabupaten &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Malang&lt;/a&gt;. Kami mesti melewati Kota Malang untuk mencapai Lawang. Tapi kami tak mampir di kota sejuk itu, sebab sudah siang, dan kami pun sudah menyusun rencana untuk mampir saat pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="gro Wisata Wonosari Lawang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Sekitar satu jam menyusuri jalan Malang-Surabaya, kami sampai di Singosari. Dari sana, ada jalan bersimpang ke kiri, tepatnya ke pebukitan Lawang. Jalanannya berliku, sempit dan bertanjakan tajam. Tak jarang kami berpapasan dengan bus pariwisata berukuran besar. Alhasil, perjalanan sepanjang 8 km itu cukup mendebarkan. Oya, bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri, tersedia jalur angkutan umum Lawang-Wonosari dengan tarifnya Rp 3.000/orang. Jika datang berombongan, bisa mencarter mikrolet dari Terminal Lawang, sekitar Rp 25.000 sekali jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Perjalanan&lt;/a&gt; terasa berbeda ketika makin ke atas, udara terasa makin dingin menerpa kulit. Kami membuka kaca mobil lebar-lebar dan mengisi paru-paru dengan udara gunung yang bersih. Kebun buah naga milik penduduk tampak mulai berbuah dan sebagian sudah dipanen. Betapa menggembirakan: di daerah sejuk begini, villa-villa dan rumah mewah tak mencolok mata, untuk mengatakannya sedikit. Setidaknya jika saya banding-bandingkan misalnya dengan daerah pebukitan sekitar Bandung yang diserbu para pengembang yang membangun villa-villa mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke gerbang utama Agrowisata Wonosari, kami dipungut restribusi jalan sebesar Rp 1.000 oleh petugas LPMD Desa Ketindan. Barulah ketika hendak memasuki kawasan PTPN XII kami membayar karcis Rp 7.500/orang. Begitu mobil parkir, kami segera berhamburan ke luar menikmati kesegaran alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesegaran pertama jelas dari cuacanya yang sejuk (19-26 derajat Celsius), maklum terletak antara 950-1.250 di atas permukaan laut (dpl). Kesejukan berikutnya berasal dari kehijauan pohon-pohon, aneka bunga, bahkan rumput di tepi jalan. Ada juga deretan cemara yang pucuknya runcing menusuk langit. Semuanya hijau berseri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Agro Wisata Wonosari Lawang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Kami tidak langsung menuju kebun teh, melainkan mampir di pabrik pengolahannya terlebih dulu, takut sudah tutup kalau kesorean. Sayang, kami tetap tidak diizinkan masuk dengan alasan waktu berkunjung ke pabrik sudah habis. Biasanya, setiap rombongan yang masuk dipungut Rp 50.000 dengan anggota rombongan sekitar 10-12 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami harus puas menikmati aktivitas penimbangan daun teh yang dilakukan sejumlah karyawan di pintu gudang pabrik. Daun teh yang berada dalam karung nilon itu, dicatat jumlah beratnya, lalu ditaruh di atas lori gantung yang berputar membawanya masuk ke dalam pabrik untuk selanjutnya diproduksi menjadi teh kemasan dengan merk dagang ”Teh Rolas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menikmati aktivitas penimbangan daun teh, kami menuju areal perkebunan teh. Kami melewati rumah-rumah dinas karyawan perkebunan Persero milik negara yang berkesan damai itu. Tidak jauh dari situ, terdapat taman yang luas, dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam pemandian air panas dan permainan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula penyewaan kendaraan berupa trailer antik, untuk mengelilingi perkebunan. Ongkosnya Rp 20.000 sekali jalan. Pilihan lainnya adalah naik kuda dengan ongkos Rp 15.000 sekali jalan. Atau bisa pilih angkutan massal, yakni kereta kelinci, yang memutari kawasan perkebunan dengan sirinenya yang khas. Kami berjalan kaki saja, sebab dalam cuaca dingin begini lumayan memperlancar aliran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 100 meter berjalan, akhirnya kami disambut tanaman teh yang tingginya sama rata. Menghampar luas seolah karpet hijau menyelimuti perbukitan. ”Karpet hijau” itu tampak mengikuti kontur tanah yang bergelombang, membuat pemandangan tidak monoton. Mata diajak mengembara mengikuti lekak-lekuknya, sehingga imajinasi terasa ikut naik-turun diayun ”gelombang hijau” yang lembut. Imajinasi kian melambung saat mata tanpa terasa masuk ke ”gelombang biru” berupa lereng dan puncak gunung. Ya, Gunung Arjuno setinggi 3339 M-dpl itu memang menjadi latar yang anggun bagi Kebun Teh Wonosari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Agro Wisata Wonosari Lawang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Belum habis rasa takjub diaduk kehijauan tanaman teh, kami sudah pula dipukau birunya puncak Arjuno. Puncak itu terasa dekat, seolah dapat digapai, meski tentu saja tidak dapat kami sentuh. Sayang, awan putih-kelabu cukup tebal menyelimuti sebagian pundak gunung, pertanda mendung. Hujan memang sering turun di sana, karenanya beberapa di antara kami sudah sejak tadi mengepit payung. Tapi, sebelum hujan benar-benar turun, masih cukup waktu menikmati puncak Arjuno yang tetap terbuka, menantang. Puncak biru dan pundak yang diselimuti awan kelabu memberi gradasi unik bagi warna hijau kebun teh Wonosari. Jadilah saya merapal kata-kata,”Hijaunya Wonosari, birunya Arjuno, menyatu sejodoh menenteramkan hati, hmm...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama kami larut dalam kedamaian, diiringi kicau burung dari atas pepohonan, sebelum akhirnya kami melanjutkan penyusuran. Kami ikuti sebuah jalan aspal yang cukup lebar membelah hamparan kebun. Di kiri-kanannya tumbuh subur pohon sengon dan lamtoro. Beberapa jenis bunga tumbuh teratur di tepi jalan, menambah asri suasana. Tak jarang kami berpapasan dengan pengunjung yang memilih naik kuda dan sebagian naik kereta kelinci. Rombongan anak-anak, juga orang tua mereka serta pasangan remaja, tampak ceria di atas kereta mini itu. Saya mencari-cari perempuan pemetik teh, sayang tak seorang pun yang terlihat. Kepada seorang petugas yang sedang membersihkan kandang kuda, saya bertanya kenapa. Ternyata karena hari sudah sore. Jadwal memetik teh, katanya, dimulai pukul 7 pagi dan selesai pukul 2 siang. ”Hari Minggu libur,” jelasnya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia malah mengajak kami melihat tandon penampung air hujan cukup besar di bawah tanah. Airnya dipakai untuk berbagai keperluan. Lumayan, hati jadi sedikit terhibur. Akhirnya kami duduk-duduk di atas sebuah batu besar di tepi jurang yang sekaligus melempangkan panorama cantik ke arah kota dan perkampungan di bawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas bercengkerama, kami berangsur turun ke tempat parkir. Namun tunggu dulu! ”Perut sudah pegal nih!” seru seorang teman serombongan. Kami bergerak cepat ke kompleks kedai, dekat taman bermain. Kopi, mie rebus, dan jagung bakar, cukuplah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minim Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI tengah hamparan kebun teh, ada sebuah plang dari papan, dengan tiga permukaan dilapisi seng bercat biru-putih. Setiap permukaan ditulisi keterangan tentang riwayat singkat kebun teh dalam sejumlah bahasa. Ada bahasa Inggris, Belanda, Indonesia, bahkan bahasa Jawa, lengkap dengan aksaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Agro Wisata Wonosari Lawang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Dalam bahasa Belanda tertulis,”De aahplanting thee het berste begin op deplantage Wonosari in 1910 door N.V. Cultuur Matschapy Lawang". Yang tak bisa berbahasa Belanda, cukuplah membaca tulisan bahasa Indonesia nya: ”Teh ini pertama kali ditanam pa da tahun 1910 oleh N.V. Cultur Masca pay Lawang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, cukup tua dan pastilah me nyim pan banyak sejarah. Dari seorang pengelola warung di sekitar situ, saya mendapat cerita bahwa pada zaman Jepang (1942-1943), kebun itu pernah ditanami singkong untuk kebutuhan pangan militer. Bahkan jauh sebelum itu, tanaman teh pernah diganti dengan kina. Saya pun membayangkan para pemetik teh, buruh pabrik serta hubungannya dengan mandor dan kekuasaan. Sayang, tidak ada brosur penjelas kesejarahan itu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ”sayang” memang berulang kali terlontar dari mulut kami saat berbicara mengenai Kebun Teh Wono sari ini. Salah satunya karena tak ada aktivitas perkebunan pada hari Minggu, baik aktivitas memetik teh mau pun kegiatan pabrik. Padahal, Minggu merupakan puncak kunjungan wisatawan (kebanyakan lokal) yang datang berombongan dengan keluarga. Akibatnya, banyak yang kecewa karena tak bersua aktivitas memetik teh, apalagi melihat proses mengolah daun ajaib itu menjadi produk konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tempat yang sudah secara sadar menjadi pusat agrowisata, keluhan tersebut tentu wajar. Artinya, pengunjung ke sana tidak hanya untuk menikmati keelokan perkebunan, namun juga untuk menambah pengetahuan, khususnya mengenai seluk-beluk produksi teh. Apakah mungkin mengganti hari libur? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berkunjung, hari itu bukanlah hari Minggu. Meski begitu, kami tetap kecewa karena tak bisa langsung menyaksikan aktivitas pabrik. Alasannya, kedatangan kami setelah jam yang dijadwalkan untuk berkunjung. Sistem yang berkesan ”kaku” itu mungkin perlu diimbangi dengan sedikit kompromi, sebab di samping pengumuman soal jadwal tidak terlalu jelas, belum tentu juga kami datang dalam waktu dekat lagi. Begitu pula saat ingin membeli atau sekadar melihat-lihat produk teh di sebuah bangunan khusus, kami hanya bisa menyaksikan bungkus-bungkus teh dari balik kaca etalase. Sebab pintunya terkunci dan penjaganya entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Agro Wisata Wonosari Lawang" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/wonosari5.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Kata ”sayang” yang lain mungkin dapat ditujukan pada kekurangan informasi soal fasilitas dan potensi wisata kawasan ini. Tidak ada pemandu, brosur atau papan petunjuk. Saya sempat penasaran ingin tahu, apakah dari sini ada jalur pendakian ke Gunung Arjuno. Informasi yang lumayan banyak baru bisa diperoleh kalau seseorang mau browsing di internet. Ternyata, kawasan seluas 1.144,31 hektare itu kaya potensi dan fasilitas. Selain memiliki taman bermain anak dan kolam air panas, juga tersedia ada lokasi outbond, tempat berkemah, penginapan (homestay), minimarket, kebun binatang mini, kebun ceri, jalur sepeda gunung, dan jalur pendakian ke Arjuno serta aula pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat itu pun berpotensi jadi ajang praktik dan penelitian mahasiswa atau para peminat teh. Bisa pula mengembangkan wisata satwa dan flora, seperti pengamatan burung atau aneka bunga. Bahkan beberapa jurang saya bayangkan sangat menantang untuk wisata terbang layang (gantole). Tantangan itu sekaligus tertuju kepada pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII sebagai pengelola Agrowisata Kebun Teh Wonosari. Dan saya percaya, mereka bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SuaraMerdeka&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;pbase,&amp;nbsp;eastjava,&amp;nbsp;bahterafoto,&amp;nbsp;dipity,&amp;nbsp;tempatwisataindonesia,&amp;nbsp;toyomarto&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8109783851522726596?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8109783851522726596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/hijaunya-wonosari-birunya-arjuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8109783851522726596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8109783851522726596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/hijaunya-wonosari-birunya-arjuno.html' title='Hijaunya Wonosari, Birunya Arjuno'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1005725047261166180</id><published>2010-06-29T11:23:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:52:38.868-07:00</updated><title type='text'>Ngalap Berkah Para Dewa</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;Gotong Toa Pe Khong&amp;nbsp;&lt;img align="left" alt="Toa Pe Khong" height="156" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Toa.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="122" /&gt;tahun ini menjadi pergelaran padupadan budaya suku-suku bangsa di Tanah Air. Lagu "Tak Gendong" pun menyeruak. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Suasana di Jalan Kemenangan, kawasan Glodok, Jakarta Barat, sesak di penuhi warga. Diantara orang yang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan, nampak beberapa petugas berkaos merah sibuk bahu membahu mengatur agar badan jalan bisa tetap kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian kawasan tidak seperti biasanya, orang berjejal bukan sekadar datang untuk berbelanja. Mereka ada di sana ingin menyaksikan iring-iringan para pembawa miniatur dewa, sebuah tradisi masyarakat keturunan Tionghoa sebagai tanda terimakasih dan memohon keberkahan kepada para dewa. Acara ini biasa dikenal dengan Gotong Toa Pe Khong, yang biasanya dilaksanakan 10 hari setelah perayaan Cap Gomeh.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut wajah penasaran sempat terlihat dari beberapa penonton ketika rombongan yang di tunggu tak kunjung terlihat. Tidak lama berselang, rasa penasaran seketika berubah menjadi senyum saat meluncur dua mobil jenis jip membelah jalan. Tak lama iring-iringan pun mulai nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Toa Pe Khong" height="247" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Toa1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Barisan itu diawali dengan rombongan pasukan pengibar bendera (Paskibra) yang berseragam putih dan bertopi hitam. Dilanjutkan dengan iring-iringan kelompok drum band, kemudian disambung sekelompok gadis-gadis berpakaian tradisional Bali berjalan melenggak-lenggok. Usai rombongan berbusana Bali, secara berturut-turut barongsai dan liong silih berganti beraksi meliuk-liuk menari atraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Nuansa keberagaman&lt;/a&gt; terasa kental mengiringi rombongan itu. Banyak pemain liong dan barongsai bukan warga keturunan Tionghoa. Masyarakat tumpah ruah dalam kemeriahan, tak ada lagi siapa pribumi asli atau keturunan, semuanya menyatu, menjadi bangsa Indonesia dalam keindahan dan paduan keragaman budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna merah dan kuning mendominasi arakar-akan Tao Pe Khong yang ada di rombongan terakhir. Terdapat sekitar 42 patung dewa dari berbagai Vihara di Indonesia turut meramaikan acara yang berlangsung 17-18 Oktober 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penonton makin riuh menyambut. Tak kalah sibuk para fotografer mengabadikan setiap momen. Iring-iringan yang panjangnya mencapai lima kilometer ini berawal dari Jalan Kemenangan menuju Kawasan Kota Tua berputar menuju arah Mangga besar dan berputar kembali ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Toa Pe Khong" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Toa2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Setiap rombongan patung diiringi juga dengan seperangkat alat musik. Menariknya lagu yang dimainkan beragam dan bahkan ada yang memainkan lagu-lagu tradisional bahkan lagu Tak Gendong-nya mbah Surip yang beraliran Reggae pun dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap beberapa meter, patung dewa digoyang-goyangkan. Tak hanya kaum lelaki yang ambil bagian untuk menggotongnya, kaum wanita dan anak-anak pun tak mau kalah. Ketika rombongan melintas di Kawasan Kota Tua, kontan membuat pengunjung di area wisata sejarah itu berlarian. Kamera di tangan mereka pun sibuk mengabadikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa riang dan decak kagum penonton mengiringi liukan para barongsai dan liong. Kawasan Kota Tua semakin terasa meriah. "Saya sangat senang dan mendukung even seperti ini bisa tampil di Kota Tua. Kegiatan seperti ini tentunya juga akan diliput kalangan media. Ini sangat baik bagi Kota tua agar makin banyak orang yang tahu," kata Jacky Setiono Ketua Paguyuban Kota Tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Toa Pe Khong" height="159" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Toa3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kegiatan yang melibatkan peserta mencapai 5.000 orang ini dilaksanakan sebagai peringatan ulang tahun Vihara Fat Cu Kung. Rencananya even ini akan masuk dalam agenda nasional tahunan. Selain sebagai acara tahunan, acara ini juga mengenalkan budaya Gotong Tao Pe Khong kepada masyarakat luas, utamanya generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemeriahan acara ini memang bisa menjadi daya tarik bagi banyak orang. Tinggal bagaimana membuat kemasan acara ini makin menarik dan dengan dukungan promosi agar setiap masyarakat bisa mengetahui. Sebuah khasanah budaya sarat makna telah dipergelarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Travel Club&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.rakyatmerdeka.co.id/foto/hal/5/view/3424" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;rakyat merdeka&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://foto.detik.com/images/content/2009/10/18/157/Fatcukungbio02.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;detik&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://matanews.com/2009/10/19/permainan-liong/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;matanews&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1005725047261166180?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1005725047261166180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ngalap-berkah-para-dewa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1005725047261166180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1005725047261166180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ngalap-berkah-para-dewa.html' title='Ngalap Berkah Para Dewa'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2330711444774559744</id><published>2010-06-29T11:19:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:52:45.106-07:00</updated><title type='text'>Gua Sunyaragi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="gua sunyaragi" height="109" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sunyaragi.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Jika kita ingin melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu keraton Cirebon, mampirlah ke Taman Sunyaragi, atau biasa disebut dengan Gua Sunyaragi..! Aroma kemegahan langsung terasa, begitu kita menjejakkan kaki di pintu masuk Taman Sunyaragi. Susunan batu-batu yang tidak teratur, namum menampakkan kegagahan dan kepongahan taman sari ini, yang merupakan salah satu bagian bangunan kerajaan di masa lalu. Tamansari Sunyaragi adalah salah satu peninggalan sejarah di Kota Cirebon, setelah Keraton-Keraton, seperti Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Masjid Walisangan Ciptarasa.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya yang berada ditengah-tengah kota Cirebon, yaitu di Jl.Brigjend. A.R.Dharsono, menjadikan bangunan bersejarah ini sangat mudah sekali dijangkau. Barangkali kalau mau bertanya, niscaya hampir seluruh masyarakat kota Cirebon akan mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="gua sunyaragi" height="172" src="http://liburan.info/images/stories/sunyaragi1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Luas situs ini kurang lebih 1,5 Ha, dan merupakan peninggalan para Sultan Cirebon. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh oleh Pangeran Kararangen. Sedang Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon sendiri. Tamansari Sunyaragi telah beberapa kali mengalami perbaikan, yang pertama adalah; pada tahun 1852 M yaitu zaman pemerintahan Sultan Syamsudin IV, setelah dilanda kerusakan oleh serangan Belanda pada tahun 1787 M, bangunan ini direnovasi untuk yang pertama kali. Yang kedua adalah pada tahun 1937 - 1938 M pernah dipugar oleh Pemerintahan Belanda yang pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan di Semarang, Krisjnan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Orde Baru, dimana tengah dilaksanakan pembangunan nasional, maka Pemerintah dalam hal ini Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direkorat Jenderal Kebudayaan, memugar taman ini secara keseluruhannya sejak tahun 1976 sampai tahun 1984. Setelah selesai pemugarannya, pengunjung Tamansari Sunyaragi semakin meningkat, baik kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, maupun wisatawan asing. Dan kondisi sekarang ini, keadaannya cukup memprihatinkan, selain kebersihannya kurang terjaga, rumput ilalang banyak tumbuh disana-sini, juga bangunan-bangunan yang ada mulai terlihat tergerus oleh panas dan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="gua sunyaragi" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sunyaragi2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Seperti layaknya sebuah keraton, begitupun dengan Tamansari Sunyaragi, terdiri dari bagian-bagian yang sangat luas dengan fungsinya masing-masing. Bagian pertama adalah Gua Pengawal, gua ini adalah sebagai pusat para prajurit yang bertugas mengawasi keadaan Tamansari. Bagian kedua adalah Bangsal Jinem, tempat ini biasanya dipergunakan sebagai tempat pertemuan tamu-tamu keraton yang mengunjungi tamansari. Bagian ketiga adalah Gua Peteng, gua ini memang keadaannya sangat gelap sekali, makanya dinamakan gua peteng. Dulu, para pangeran dan para sultan banyak lelaku, dan lelaku-lelaku itu biasanya dilakukan di Gua Peteng. Bagian keempat adalah Gedung Penembahan, yang terdiri dari ruang kaputran-tempat bersoleknya para Pangeran, dan ruang Kaputren-tempat bersoleknya para Putri Keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian selanjutnya adalah Balai Kambang, adalah suatu bangunan dengan luas 25 meter persegi, yang menurut ceritanya, bangunan ini zaman dulu dikelilingi oleh air. Sehingga para tamu bisa langsung masuk dari pintu pertama langsung menuju Balai Kambang dengan menggunakan perahu. Kemudian para abdi keraton menyambut tamu yang hadir dengan menabuh gamelan diatas Balai Kambang. Terus menyusuri gua, kemudian kita akan sampai di Gua Padang Ati, adalah tempat semedinya para Pangeran mencari petunjuk Sang Ilahi, terutama jika sedang ada suatu permasalahan. Di sebelahnya adalah Gua kelanggengan, gua ini dipercaya sebagai tempat yang dapat melanggengkan pernikahan keluarga, atau seseorang yang ingin segera mendapat jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="gua sunyaragi" height="164" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sunyaragi3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Selain gua-gua tersebut di atas, juga terdapat taman-taman yang dipercaya sebagai taman-taman yang sangat indah pada waktu zamannya. Indah karena taman-taman tersebut, nampak dari petilasannya, tersusun sangat rapi dan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;bernuansa romantis&lt;/a&gt;. Terbuka, bisa memandang langit dengan leluasa dan disertai dengan tempat duduk dari batu sebagai tempat bersantai. Taman-taman tersebut adalah; Taman Bajenggi Obahing Bumi; Taman Puteri Bucu dan Perawan Sunti dan Taman Kaputren. Sayangnya ada beberapa bagian yang sudah mulai rusak bahkan lapuk ditelan masa. Seperti sisi utara tamansari ini dinding-dindingnya retak-retak, bahkan bisa membahayakan para pengunjung kalau kerikil-kerikil yang menempel pada temboknya jatuh dan mengenai salah satu anggota tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sudut gua juga banyak sekali sarang nyamuk, menunjukkan bahwa tempat ini jarang dibersihkan. Namun dari segala kekurangan tempat ini, Tamansari tetap mempunyai daya tarik untuk dikunjungi, mengingat bangunan ini mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia untuk generasi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;Navigasi&lt;br /&gt;Lokasi : Lemahwungkuk, Kota Cirebon&lt;br /&gt;Foto : AMGD,&amp;nbsp;202.146.5.33&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2330711444774559744?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2330711444774559744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/gua-sunyaragi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2330711444774559744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2330711444774559744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/gua-sunyaragi.html' title='Gua Sunyaragi'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1415553910443687810</id><published>2010-06-29T11:18:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:52:49.684-07:00</updated><title type='text'>Candi Sambisari</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Sambisari" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sambisari.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Candi Sambisari ditemukan secara kebetulan ketika seorang petani yang sedang menggarap tanah milik Karyoinangun, tiba-tiba cangkulnya membentur pada batu berukir, yang ternyata merupakan batu reruntuhan candi. Penemuan ini terjadi pada bulan Juni 1966, dan segera berita penemuan tersebut sampai ke kantor Cabang Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Prambanan (sekarang Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninjauan dan penelitian lebih lanjut di tempat tersebut diperoleh kepastian bahwa temuan tersebut merupakan sebuah situs candi dan dinyatakan sebagai daerah suaka budaya. Posisi candi yang berada 6,5 meter dari permukaan tanah sekitar itu, diperkirakan terjadi karena tertimbun letusan gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Candi Sambisari" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sambisari1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kompleks Candi Sambisari berlokasi berdekatan dengan bangunan candi yang lain misal Prambanan, Kalasan, Sari dan lainnya. Lokasi Candi Sambisari berjarak sekitar 5 km dari kompleks candi Prambanan kearah barat atau sekitar 14 km dari pusat kota Yogyakarta ke arah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Syiwaistis dari abad ke-X dari keluarga Syailendra ini berada di wilayah kabupaten Sleman propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat penggalian kompleks candi Sambisari juga ditemukan benda-benda bersejarah lainnya, misalnya perhiasan, tembikar, prasasti lempengan emas.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Dari penemuan tersebut didapat perkiraan bahwa candi Sambisari dibangun tahun 812-838 M saat pemerintahan Raja Rakai Garung dari Kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno). Kondisi kompleks candi Sambisari sangat terawat dan bersih dan banyak wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara banyak berdatangan mengunjunginya dan menjadi satu paket kunjungan wisata budaya dengan kompleks candi lain di sekitarnya khususnya candi Prambanan yang sudah lebih terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Sambisari" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sambisari2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Candi Sambisari merupakan percandian yang terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara pada bagian depannya. Candi induk menghadap ke arah Barat denahnya berupa bujur sangkar dengan ukuran 13,65m x 13,65m dengan ketinggian 7,5m. Hal yang menarik dari Cadi Smabisari yaitu tidak terdapat kaki candi yang sebenarnya, sehingga bagian las sekaligus berfungsi sebagai kaki candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi luar dinding tubuh candi terdapat relung-relung yang diatasnya terdapat hiasan kala. Setiap relung ditempati oleh Dewi Durga (utara), Ganesa (timur) dan Agastya (selatan). Sedangkan pada kanan-kiri pintu masuk bilik candi terdapat dua relung untuk dewa-dewa penjaga pintu yakni, yaitu Mahakala dan Nandiswara, sayangnya kedua arca tersebut kini sudah tidak berada lagi ditempatnya. Pada bagian dalam bilik candi terdapat Yoni dengan hiasan seekor naga pada bagian ceratnya dan sebuah lingga pada bagian atasnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Candi Sambisari" height="193" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sambisari3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tiga buah candi perwara yang berada didepan Candi Sambisari berukuran 4,9m x 4,8m untuk bagian tengahnya, sedangkan perwara utara dan selatan berukuran 4,8m x 4,8m. Ketiga candi perwara tersebut tidak mempunyai tubuh dan atap, yang ada hanya kaki dan pagar langkan pada bagian atasnya. Kompleks Candi Sambisari secara keseluruhan dikelilingi oleh pagar dari batu putih yang berukuran 50m x 48m. Pada masing-masing sisi pagar terdapat pintu masuk akan tetapi disisi utara ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju ke lokasi kompleks candi dapat dilalui oleh segala jenis kendaraan, namun belum ada kendaraan umum yang melewati tempat ini sehingga ditempuh dengan ojek atau dokar/delman sekitar 2 km dari tepi jalan&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt; Yogya-Solo&lt;/a&gt;. Untuk mencapai lokasi candi, dapat ditempuh dengan naik bus jurusan Yogya-Solo sampai kilometer 10 dimana terdapat papan penunjuk jalan menuju candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Agung&lt;br /&gt;Lokasi : Purwomartani, Kalasan, Sleman&lt;br /&gt;Fotografer : Agung Pambudi&lt;br /&gt;Sumber : Navigasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1415553910443687810?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1415553910443687810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-sambisari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1415553910443687810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1415553910443687810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-sambisari.html' title='Candi Sambisari'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8779808945208217094</id><published>2010-06-29T11:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:52:54.399-07:00</updated><title type='text'>Liburan Komplit di Anyer</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Sanghyang Indah Spa Resort" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sanghyang.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Hanya sekiitar dua jam dari Jakarta, liburan seru yang komplet bisa didapat di Sanghyang. Ada olahraga air, rileksasi di spa, berkapal ke Pulau Sanghyang, hingga piknik ke Gunung Krakatau. Mengasikkan untuk seluruh keluarga. Dalam angan-angan banyak orang, gambaran liburan ideal adalah bersantai di tepi pantai yang disinari matahari cerah. Bahkan, dari kamar penginapan, pemandangan pantai dan laut terlihat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gambaran liburan seperti ini bisa lho didapat di Sanghyang Indah Spa Resort," kata Shanti Setyaningrum, Residence Manager. Resor yang terletak di tepi Pantai Anyer itu memiliki cottage Krakatau Beach View yang menjanjikan pemandangan pantai. Dari jendela kamar terhampar pemandangan laut, pohon kelapa, dan hijaunya lapangan yang terawat rapi. Di lapangan hijau yang diteduhi pohon, tetamu bisa mengadakan pesta barbecue.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cottage ini dilengkapi fasilitas dua kamar, ruang tamu, dapur, dan Internet modem. Restoran dan lobi hotel ini juga diperlengkapi dengan hot spot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Sanghyang Indah Spa Resort" height="176" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sanghyang1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;"Jadi urusan kerja sambil berlibur di tempat kami dijamin pasti lancar. Tempat kami juga punya fasilitas ATM," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang sudah lama malang melintang di industri perhotelan ini menjamin pantai resornya aman. Pantainya memiliki pasir putih, sehingga aman buat anak-anak yang ingin main pasir sambil cari kerang, saat orangtuanya harus meeting misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Layanan fleksibel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resor butik yang dibangun sejak tahun 1985 ini dilengkapi dengan fasilitas olahraga seperti kolam renang, lapangan tenis, dan penyewaan sepeda. Sejak berdiri, resor ini digemari ekspatriat yang ingin sejenak melepaskan diri dan sumpeknya Jakarta. Di tahun 1998 bahkan menjadi tempat "mengungsi" para ekspatriat saat kerusuhan Mei. "Waktu itu tamu kami kebanyakan tamu domestik dari Jakarta dan Bandung," kata Shanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang ingin tantangan dan fun, tersedia fasilitas jetski dan banana boat. Mau sewa kapal juga bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Sanghyang Indah Spa Resort" height="163" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sanghyang2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sewa kapal ini bisa untuk memancing atau memandang keindahan matahari terbenam atau memandang keindahan Krakatau yang mengeluarkan lahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewa kapal juga bisa dilakukan untuk pergi ke Pulau Sanghyang yang letaknya tak jauh dari resor. Sewa kapal juga melayani rute ke Gunung Krakatau, Legondi, dan Ujung Kulon. Rata-rata wisatawan asing menyukai petualangan ke gunung Krakatau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piknik ke Pulau Sanghyang dijamin bakal merupakan pengalaman menyenangkan. Soalnya pulau ini masih perawan dan bersih. Pantainya indah. Di sana ada juga penduduk yang tinggal, tetapi tidak ada toko yang menjual makanan. Jadi disarankan untuk membawa kotak makan siang dari resor. Usai piknik di Pulau Sanghyang bisa dilanjutkan dengan piknik ke Gunung Krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;One day trip&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Sanghyang Indah Spa Resort" height="188" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sanghyang3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di musim liburan tahun ini, Sanghyang punya paket menarik untuk piknik naik kapal ke Pulau Sanghyang. Tersedia paket one day trip buat orang yang tak menginap di resor tersebut. "Paket itu namanya family holiday dengan peserta minimal lima orang. Masing-masing peserta akan mendapat kaus dan kotak makan siang untuk bekal piknik," tutur Shanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin pergi ramai-ramai, ada paket school holiday. Minimal peserta paket ini 12 orang. Namun, paket ini mengharuskan peserta siap di dermaga pukul tujuh pagi. Jadi mau tak mau peserta harus menginap di resor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski punya paket-paket liburan yang sudah dirancang, Shanti mengatakan resor itu fleksibel dalam memenuhi keinginan para tetamu. "Kami fleksibel untuk melayani grup pertemanan yang ingin melakukan aktivitas di tempat kami, misalnya untuk arisan, makan-makan, dan rileksasi spa bersama seperti kegiatan sejumlah artis Ibu Kota. Atau untuk orang yang ingin mencoba kolam terapi balneo kami," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="184" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/sanghyang4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Air kolam terapi balneo di resor ini berasal dari mata air panas alami, yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Baron Indrajaya, pemilik resor. "Resor kami ini satu-satunya resor di Anyer yang punya kolam air panas alami," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air panas yang tampak keruh karena mengandung mineral ini kemudian dimanfaatkan untuk terapi. Ada terapis yang akan memandu saat terapi dengan pancuran air kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;Manfaat&lt;/a&gt; terapi ini adalah melancarkan pencernaan dan peredaran darah. "Banyak pelanggan kami yang merasa lebih segar dan sehat setelah diterapi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai terapi di kolam, ada layanan lanjutan perawatan spa, bekerja sama dengan Spa Taman Sari. Tersedia banyak paket perawatan spa di sana, dalam suasana tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Senior&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;Sanghyang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8779808945208217094?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8779808945208217094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/liburan-komplit-di-anyer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8779808945208217094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8779808945208217094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/liburan-komplit-di-anyer.html' title='Liburan Komplit di Anyer'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-6717891207230405617</id><published>2010-06-29T11:11:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:00.162-07:00</updated><title type='text'>Candi Bojongmenje</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Bojongmenje" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bojongmenje.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Kabupaten Bandung memiliki situs purbakala dalam bentuk candi ? Tidak semua orang tahu tentang hal ini. Umumnya candi-candi yang ada di pulau Jawa ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belakangan, baru ditemui pula beberapa candi di wilayah Jawa Barat seperti apa yang terdapat di Batujaya (Karawang) dan Cangkuang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Baru pada bulan Agustus 2002, secara tidak sengaja seorang warga di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek yang hendak mencari tanah guna menguruk gang yang tidak rata tanahnya, menemukan sebuah rongga tanah yang di sekelilingnya terdapat tumpukan batu yang tertata rapi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Penemuan tumpukan batu tersebut akhirnya diputuskan sebagai bagian dari suatu candi oleh para arkeologi, semenjak saat itu dilokasi tersebut dilakukan ekskavasi untuk penemuan dan penelitian lebih lanjut.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan awal oleh para ahli arkeologi Candi Bojongmenje merupakan peninggalan dari abad ke 7. Bila hal itu benar, maka Candi Bojongmenje memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan Candi di situs Batujaya yang merupakan peninggalan abad ke 2, namun memiliki umur hampir yang sama dengan Candi Dieng - Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bojongmenje1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bahkan menurut Timbul Haryono, umur Candi Bojongmenje bisa jadi lebih tua dibandingkan dengan Candi Dieng. Sambil menunjuk sejumlah bebatuan yang ditemukan oleh tim ekskavasi, Timbul Haryono mengungkapkan, indikasinya adalah tidak ditemukannya halfround atau bebatuan dengan profil yang setengah lingkaran. Tapi yang ada hanyalah bebatuan dengan profil segi panjang dan bingkai padma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari style, teknik pembuatan candi, dan ukuran bebatuan candinya cenderung mencerminkan sebagai candi tua seperti Dieng di Jawa Tengah," ujar Timbul.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Dikemukakannya, Candi Bojongmenje yang diduga luasnya sekitar enam kali enam meter ini merupakan petunjuk di daerah tersebut pernah ada perkampungan masyarakat tertentu. Artinya, masyarakat tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah struktur kerajaan pusat yang besar yang ditandai antara lain dengan berdirinya candi-candi berukuran besar sebagai tempat suci ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, diduga kuat selain di Bojongmenje, ada pula candi-candi sejenis yang didirikan oleh masyarakat tersebut sebagai tempat ibadahnya. Indikasi tersebut kian kuat dengan adanya aliran sungai Cimande dan sungai Citarik yang letaknya tak jauh dari lokasi Candi Bojongmenje. Bahkan ada informasi, sekitar dua kilometer dari lokasi Candi Bojongmenje ada pula mata air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Candi Bojongmenje" height="189" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bojongmenje2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Menyinggung soal adanya batu ambang dengan corak dua lobang, Timbul memperkirakan batu ambang tersebut merupakan bagian dari relung candi. Begitu pula batu ambang dengan corak satu lobang, disebutkannya sebagai pecahan dari relung candi. Adapun soal temuan berupa batu bata, Timbul menilai, batu bata tersebut berusia tua dan merupakan bagian dari dalam "tubuh" candi yang bebatuannya tak terstruktur&lt;a href="http://adib.web.id/"&gt; secara baik&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penemuan Candi Bojongmenje ini bisa jadi akan mengubah fakta sejarah. Fakta tersebut antara lain tentang arah penyebaran budaya di Pulau Jawa dari timur ke barat, menjadi sebaliknya yaitu dari barat ke timur. Hal itu berdasarkan temuan-temuan arkeologi yang menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje lebih tua dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau paling tidak setara dengan candi tua di Dieng Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Penemuan Candi Bojongmenje tentu sangat membanggakan urang Sunda yang selama ini perannya dalam panggung sejarah percandian kurang terperhatikan. Bernert Kempers seorang pakar arkeologi dari Belanda juga hanya membagi masa klasik di Jawa menjadi masa klasik Jawa Tengah dan masa klasik Jawa Timur. Berdasarkan pembabakan itu, dikatakan bahwa masa klasik di Indonesia terbagi menjadi klasik tua untuk periode Jawa Tengah dan masa klasik muda untuk periode Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;img align="right" alt="Candi Bojongmenje" height="190" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/bojongmenje3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;&lt;/b&gt;Pendapat itu perlu ditinjau ulang karena tidak menyebut peran orang Sunda dalam sejarah bangnunan percandian. Padahal, bukti-bukti epigrafis menunjukkan bahwa di wilayah Tatar Sunda telah ada pusat kerajaan Hindu yaitu Tarumanagara. Di samping itu, perkembangan penelitian arkeologi di wilayah Tatar Sunda mulai muncul penemuan candi. Oleh karena itu, penemuan Candi Bojongmenje diharapkan akan membuka tabir percandian di Tatar Sunda menjadi lebih terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melongok lokasi dimana Candi Bojongmenje berada, memang cukup memperhatikan. Untuk menuju lokasi candi ini mesti melewati sebuah gang sempit dengan tembok pagar pabrik yang menjulang tinggi. Tempat ditemukannya candi ini sendiri menempel dengan tembok pagar pembatas pabrik. Sehingga masih terdapat kendala jika ingin menggali lebih ke utara lagi, yang hal tersebut berarti butuh melakukan penggalian dihalaman area pabrik. Konon harga tanah disekitar candi ikut mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Nampaknya proses ekskavasi dan pembangunan kembali bangungan candi bakal masih jauh dari selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Silhouette&lt;br /&gt;Lokasi : Cangkuang, Rancaekek, Bandung&lt;br /&gt;Fotografer : Silhouette&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://navigasi.net/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Navigasi.net&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-6717891207230405617?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/6717891207230405617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-bojongmenje.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6717891207230405617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/6717891207230405617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/candi-bojongmenje.html' title='Candi Bojongmenje'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8665958371626356581</id><published>2010-06-29T11:09:00.002-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:05.115-07:00</updated><title type='text'>Goa Selarong</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Goa Selarong" height="117" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/selarong.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Sampai ketemu perempatan Masjid Agung, belok ke arah Barat, lurus saja terus, di sana sudah ada banyak plang penunjuk jalan sampai ke Selarong," kata seorang bapak saat saya tersesat kala mencari Goa Selarong, petilasan Pangeran Diponegoro di Bantul, Yogyakarta, Minggu. Kami ingin merenungkan betapa agungnya Pangeran Diponegoro pada waktu itu yang membebaskan masyarakat dari penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor langsung saya pacu menekuri jalan sesuai &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;informasi.&lt;/a&gt; Jalan aspal menuju goa cukup lebar dan kondisinya baik. Di kiri kanan. jalan terhampar sawah hijau diselingi pepohonan dan rumah-rumah penduduk yang tampak bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki gapura utama goa dengan jalan yang melandai turun, seorang petugas di pos retribusi telah siap menyambut. Dengan harga tiket yang relatif murah, yaitu Rp 2.000 per orang, pengunjung diberi kebebasan untuk mengeksplorasi kawasan obyek wisata Goa Selarong yang cukup luas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seturut garis lurus dari pintu masuk utama, tepatnya di ujung pelataran yang bersisian dengan jalan menuju goa, tampak patung Pangeran Diponegoro berjubah dan bersorban putih, gagah menunggang kuda berwarna cokelat tembaga. Rerimbunan pepohonan semakin memperkuat imajinasi nuansa perjuangan Pangeran Diponegoro dengan laskarnya pada masa lalu. Di sebelah kanan patung, terpapar peta obyek wisata Goa Selarong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, pengunjung dapat mengetahui bahwa selain goa, ada pula air terjun dan sendang yang dapat dikunjungi sebagai bagian dari kawasan wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Goa Selarong" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/selarong1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di sebelah kiri kanan jalan penjaja minuman dan buah-buahan lokal, seperti sawo dan rambutan, dengan semangat menawarkan dagangannya dalam campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tapi, jangan bayangkan mereka seperti para pedagang di Borobudur yang terkesan memaksa. Pedagang yang ada di kawasan goa ini tak pernah memaksa, mungkin juga karena faktor usia. Saat saya meliput, tak ada seorang pun orang muda atau anakanak yang berjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati lapak-lapak pedagang, puluhan anak tangga yang menjulang ke puncak bukit menyambut siapa saja yang berkunjung. Untunglah, ada ruang lebar setiap 10 anak tangga, tempat untuk bersantai sambil menikmati panorama alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan penduduk setempat, pada saat hujan terdapat air terjun mengalir dari puncak bukit di seberang tangga. Kerena hari sedang cerah, maka saya hanya dapat membayangkan dan mengira-ngira keberadaan air terjun yang meluncur di punggung bukit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kamboja dan beberapa jenis pohon lainnya tumbuh di kedua sisi tangga, sehingga terasa teduh perjalanan ini. Akhirnya tibalah juga di pelataran puncak, tempat di mana terdapat dua goa persembunyian yang dijuluki Goa Selarong. Di sisi kiri adalah Goa Kakung, yaitu goa yang dulu ditempati oleh Pangeran Diponegoro. Sedangkan di sisi kanan adalah Goa Putri, goa yang ditempati oleh RA Ratnaningsih, istri sang Pangeran yang setia menyertai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung yang terlihat di sekitar kawasan goa hanya sedikit saja. Mungkin lantaran hari sudah siang. Seorang pemilik warung mengatakan, Goa Selarong hanya ramai pada saat hari libur clan hari Minggu, itu pun di pagi hari. Jadi lumrah bila hanya tampak satu dua rombongan keluarga yang sedang bersantai di dekat goa dan beberapa pasang muda-mudi yang tengah asyik bercengkerama di sudut-sudut kawasan goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Goa Selarong" height="183" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/selarong2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di sebelah timur Goa Putri terdapat anak tangga yang dibangun di punggung bukit. Karena penasaran, saya pun menyusurinya. Anak tangga ini membelok ke kiri, mengarah ke puncak bukit. Menginjak beberapa anak tangga terakhir, mulai tampak atap pendopo yang dibangun di puncak bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengamati sebentar, saya melanjutkan perjalanan ke Sendang Manik Moyo. Untuk mencapai sendang ini, pengunjung harus melewati jembatan kecil di atas kali kering yang merupakan tempat mengalirnya limpahan air terjun di saat hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di seberang jembatan, suasana cukup berbeda, tak tampak satu orang pun walau ada beberapa rumah yang terlihat di sepanjang jalan berlapis semen tersebut. Suasana cukup senyap, ditambah lagi beberapa rumpun pohon bambu yang berjajar mengangguk-angguk, serasa ingin mengisap setiap orang yang melaluinya masuk ke dimensi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, terdapat tanda panah menunjukkan jalan ke arah sendang. Saya sedikit ragu sebab jaIan itu adalah jalan tanah tanpa pembatas yang jelas. Selain itu, paparan cahaya matahari cukup minim karena rimbunnya pohon di jalan setapak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening, sunyi, jauh dari hiruk pikuk kota. Hanya terdengar bisikan dedaunan dan gemercik air yang mengalir konstan melalui undakan parit bilah-bilah bambu di sisi kanan jalan setapak. Lintasan yang harus dilalui agak menanjak dan berlumut sehingga harus hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Goa Selarong" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/selarong3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Rasa ragu terjawab ketika terlihat dataran dengan kolam bata persegi di tengahnya. Dari dekat, terlihat jelas dasar kolam sedalam satu meter yang terisi air setinggi 20 sentimeter itu. Terpancang pula di dekatnya tonggak kayu bercat putih dengan papan bertuliskan "Sendang Manik Moyo".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tapak Tilas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata lazimnya merupakan. tempat untuk mendapatkan kesenangan. Goa Selarong menawarkan nilai-nilai tersendiri bagi sebagian pengunjungnya. Selain membisikkan pesan-pesan perjuangan dan kemerdekaan, goa ini juga menjadi tujuan bagi para pengalap berkah. Mereka datang ke goa ini untuk "berwisata" batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalail Hariasta (51) yang berasal dari Kebumen, misalnya, mengajak istri dan keluarganya berkunjung ke Goa Selarong untuk menapak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro yang semasa hidupnya adalah seorang pahlawan sekaligus ulama. Dalail mengatakan, kunjungannya ke Goa Selarong merupakan rangkaian laku tapak tilas sekembalinya dari ibadah Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara batin dan rohani, juga secara kejiwaan, kami ingin merenungkan betapa agungnya Pangeran Diponegoro pada waktu itu yang membebaskan &lt;a href="http://adib.web.id/"&gt;masyarakat&lt;/a&gt; dari penjajah. Sekaligus kami juga ingin berdoa secara khusus untuk perjuangan Pangeran Diponegoro," jelas Dalail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;img align="right" alt="Goa Selarong" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/selarong4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Vandalistis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goa Selarong tidak mendapat kunjungan sebesar obyek wisata lain di Yogyakarta. Lebih disayangkan, tangan-tangan jahil mengotorinya. Berbagai karya vandalistis dalam rupa coretan-coretan grafis tampak dengan jelas di mana-mana, terutama di sekitar mulut goa clan pagar pembatas goa. Mungkin ini menunjukkan bangsa kita belum siap untuk menjadi bangsa yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan pada saat memeringati wafatnya Pangeran Diponegoro pada tanggal 8 Januari lalu, jika banyak orang berkunjung ke goa ini, mereka tifak meneruskan aksi pengotoran tempat-tempat bersejarah ini. Kita boleh becermin pada negara-negara maju, di mana tempat-tempat bersejarah mereka selalu bersih dan terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Lya&lt;br /&gt;Sumber : Kompas Klasika&lt;br /&gt;Foto :&lt;a href="http://adib.web.id/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;&amp;nbsp;visitingjogja.com&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://hendrik-perdana.blog.com/tag/diy/," style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;hendrik-perdana&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8665958371626356581?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8665958371626356581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/goa-selarong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8665958371626356581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8665958371626356581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/goa-selarong.html' title='Goa Selarong'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1923893332906317785</id><published>2010-06-29T11:09:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:13.795-07:00</updated><title type='text'>Purbasari Pancuran Mas</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Purbasari Pancuran Mas" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/purbasari.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Sarana Wisata Pendidikan termanifestasi dengan adanya Taman Aquarium (River World). Di bagian ini Pengunjung dapat menyaksikan berbagai jenis spesies ikan air tawar yang umumnya adalah Ikan langka dan dilindungi dari seluruh dunia. Setidaknya terdapat lebih dari 150 ekor ikan dari ± 30 jenis ikan air tawar. Diantara Ikan-ikan langka dan dilindungi tersebut antara lain: Arapaima gigas, Ikan Raksasa dari Perairan Amazone yang telah populer sebagai icon River World Purbasari Pancuran Mas, Belida dan Palmas, spesies ikan purba yang lambat dalam berevolusi sehingga wujudnya sangat unik.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piranha, si Ikan legendaris yang banyak menghiasi layar televisi karena kebuasannya, serta masih banyak ikan-ikan unik lainnya yang dapat anda saksikan di bagian ini. Selain Taman Aquarium, Purbasari Pancuran Mas (PPM) ini juga menghadirkan wahana bermain untuk anak-anak (Play Ground) yang dapat memacu kreativitas anak-anak dengan segala aktivitas bermainnya pada berbagai wahana yang ada. Lokasi ini berdekatan dengan kantin makanan dan kios makanan kecil dan souvenir yang menjual berbagai pernak-pernik khas Purbasari sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Purbasari Pancuran Mas" height="190" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/purbasari1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Tak hanya itu, di bagian barat Play Ground untuk pengunjung yang ingin berbasah-basah juga dapat menikmati kesegaran air alami di Water Boom dan dua buah kolam renang yang terdapat di Lokawisata ini. Water Boom dengan ketinggian menara 15m dan panjang lintasan ±70m yang meliuk-liuk siap mengangkat adrenalin para pengunjung yang mencobanya. Tak ada batasan usia untuk mencoba wahana ini, siapa saja dapat mencobanya dengan satu syarat, Berani. Hanya saja untuk anak-anak sebaiknya diawasi orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Water Boom terdapat dua buah kolam renang dengan kedalaman yang bervariasi. Mulai dari kedalaman 30 cm s/d 2 m tersedia disini. Kolam Bermain untuk anak-anak dengan kedalaman 50 cm juga tersedia di tempat ini. Tenggelam? Tak dapat berenang? Tak perlu khawatir, di lokasi ini tersedia persewaan pelampung dan Petugas Pengawas Kolam dan P3K yang siap menolong pengunjung yang mem-butuhkan pertolongan darurat. Anda tidak membawa pakaian renang? Jangan risau, disini ada persewaan pakaian renang. Tinggal pilih yang sesuai kemudian..Byar-Byur... Pokoknya Suegeerr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Purbasari Pancuran Mas" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/purbasari2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Lokasi yang selanjutnya adalah Taman Unggas (Bird Park). Dilihat dari namanya anda sudah dapat menerka apa isinya. Ya, disini terdapat sedikitnya 20 jenis unggas dari berbagai spesies. Mulai dari Merak sampai Ayam Bekisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma itu? Masih ada lagi, di Bird Park ini terdapat pula Hall (pendopo) yang Asri dengan daya tampung s/d 500 orang yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti Arisan, gathering instansi, seminar/workshop, syukuran dll. Disediakan pula fasilitas pendukung lainnya seperti Gazebo untuk tempat bersantai keluarga, Musholla yang representatif, Kios makanan kecil dan souvenir serta Kamar mandi / Toilet yang terjaga kebersihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Purbasari Pancuran Mas" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/purbasari3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Di bagian yang masih terus dikembangkan ini anda juga dapat menyaksikan Danau buatan “Telaga Fulus” yang nantinya akan digunakan untuk lokasi wahana sepeda air.Demi kepuasan pengunjung, manajemen Purbasari Pancuran Mas masih terus menggelar serangkaian program pengembangan baik fisik maupun non fisik di lokawisata ini secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan ini antara lain adalah perencanaan pembuatan Taman buah, Pembangunan telaga buatan juga tak lupa memulai perintisan balai Konservasi Rusa sebagai perwujudan komitmen Pelestarian flora &amp;amp; fauna yang dilindungi yang hingga kini telah berjumlah ±12 ekor, jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan pembangunan fisik yang terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pengunjung yang membeli tiket telah diasuransikan pada lembaga asuransi Jasa Raharja Putera sebagai wujud komitmen customer safety service dari manajemen Purbasari Pancuran Mas bagi semua pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Purbasari Group&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://purbasari-pancuran-mas.blogspot.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;purbasari-pancuran-mas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://purbasari-pancuran-mas.blogspot.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;purbasari-pancuran-mas&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://pspasatria.blogspot.com/2009/07/karyawisata-di-taman-wisata-purbasari.html" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;pspasatria&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://chokyaja.wordpress.com/2009/09/12/pesona-wisata-purbalingga/," style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;chokyaja&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1923893332906317785?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1923893332906317785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/purbasari-pancuran-mas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1923893332906317785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1923893332906317785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/purbasari-pancuran-mas.html' title='Purbasari Pancuran Mas'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-8246256522386904614</id><published>2010-06-29T11:02:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:19.943-07:00</updated><title type='text'>Museum Le Mayeur</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Museum Le Mayeur" height="109" hspace="6" src="http://liburan.info/images/stories/le.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Museum Le Mayeur ini terletak ditepi pantai Sanur, berupa bangunan dengan arsitektur Bali yang menampung kurang lebih 88 buah lukisan yang dibagi menjadi lima jenis koleksi berdasarkan media yang dipakai, yaitu Bagor (22 lukisan), Hard Boeard (25 lukisan), Trilek (6 lukisan), Kertas (7 lukisan) dan Kanvas (28 lukisan). Sebagian besar tema lukisannya adalah wanita Bali dengan bertelanjang dada. Bahkan ada yang menyebut bahwa Le Mayeur adalah Gaugin-nya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua lukisan yang dipamerkan merupakan &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;hasil karyanya selama sang pelukisanya tinggal di Bali, beberapa bahkan merupakan lukisan impresionis Le Mayeur setelah melakukan perjalanan dari Eropa, Afrika, India, Italia dan Perancis sebelum tiba di Bali. Tengok saja beberapa diantara-nya “Canal of Gindecca”, “Early Morning in the Harbour of Marseille”, “Istambul (Turkey)”, “Jaipur, India”. Dua lukisan terakhir dibuat tahun 1929.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Museum Le Mayeur" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/le1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Museum yang dinamakan sesuai dengan nama pelukisnya Adrien Jean Le Mayeur de Merpres (1880-1958) adalah pria berkebangsaan Belgia yang konon juga merupakan keturunan keluarga bangsawan. Le Mayeur menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1932 di usia-nya yang ke 52. Rencana awalnya adalah tinggal di Bali selama 8 bulan saja sekedar untuk menggali ide dan insipirasi dalam berkarya. Le Mayeur bertemu dengan seorang gadis Bali belia bernama Ni Pollok, penari Legong yang berasal dari Desa Kelandis yang kala itu masih berusia 17 tahun (beberapa cerita bahkan menyebutkan usia Ni Pollok adalah 15 tahun waktu mereka bertemu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi model lukisannya selama kurang lebih 2 tahun mereka akhirnya menikah dan Le Mayeur memutuskan untuk membangun tempat tinggal di tepi pantai Sanur yang waktu itu masih merupakan desa nelayan yang sunyi. Ni Pollok-pun diajarinya membaca dan menulis dan ditempa menjadi wanita Bali yang mandiri. Rencana awal untuk tinggal selama 8 bulan saja akhirnya menjadi 26 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Museum Le Mayeur" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/le2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Anda bisa melihat banyak lukisan yang menjadikan Ni Polok sebagai model tunggalnya, sebut saja “Pollok” yang dibuat tahun 1957 diatas kanvas 75x90cm, warnanya sangat indah dan berani. Lain lagi adalah “Disekitar rumah Pollok” (1957, kanvas 75x90cm) atau “Memetik Bunga untuk sembahyang / Picking flowers” (1957, 100x120cm). Konon beberapa cerita menyebutkan selama menjadi modelnya Ni Pollok harus rela berjemur selama berjam-jam dalam kondisi cuaca yang panas tanpa boleh menggerakkan anggota tubuhnya apalagi mengeluh, padahal beberapa lukisannya dilakukan dalam keadaan bertelanjang dada. Tidak semua lukisan dibuat dengan cat minyak, ada pula yang dibuat dengan cat air dan pensil pada kanvas dan tikar jerami yang halus. Mungkin pelukisnya ingin menunjukkan masa-masa dimana kanvas juga sulit untuk diperoleh, terutama pada saat pendudukan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil lukisan yang menggunakan Ni Pollok sebagai modelnya sempat dipamerkan di Singapura dan menuai sukses pada kala itu. Selain sebagai pelukis, Le Mayuer juga pandai menarik minat pembelinya. Setelah melukis seharian pada pagi dan siang hari, malam harinya ia mengadakan beberapa pertunjukan tari-tarian untuk menarik minat pembelinya. Itu sebabnya ada bagian rumah berupa pendopo yang dijadikan tempat menerima tamu dan bersosialisasi dengan pembeli, seniman lokal atau kunjungan dari kawan dan sanak saudara. Tak dipungkiri tahun-tahunnya menetap di Bali merupakan tahun yang paling produktif dalam hidup Le Mayeur. Dikabarkan ia sempat memberikan donasi untuk Perancis, Belgia dan Inggris setelah ketiga negara itu mengalami kebangkrutan akibat perang yang berkepanjangan di tahun 1941.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/le3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Pada tanggal tahun 1958 Le Mayeur terpaksa kembali ke Belgia untuk mendapatkan perawatan terhadap kanker yang dideritanya, dia meninggal pada tanggal 31 Maret tahun yang sama disana. Setelah itu Ni Pollok mengelola museum itu seorang diri. Karena mereka tidak memiliki keturunan dan ahli waris, sepeninggal Ni Pollok museum ini diserahkan kepada pemerintah untuk mengelola. Tiket masuk domestik sebesar Rp 2000 (dewasa) dan Rp 1000 (anak-anak) akan dikenakan pada anda. Untuk turis asing tiket masuk dewasanya adalah Rp 5000 dan Rp 2500 untuk anak-anak. Museum ini buka pada pukul 8.00-14.00 (Senin-Kamis), 8.00-11.00 (Jumat) dan 8.00-12.30 (Sabtu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Museum Le Mayeur" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/le4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sangat disayangkan karena kondisi museum tidak terlalu terjaga. Konon pemerintah Belgia pernah memberikan donasi ribuan USD untuk membantu perawatan museum ini. Pencahayaan yang kurang, tidak nampak tour guide ketika ada pengunjung datang, debu di beberapa furnitur tua dan penataan dari lukisan-lukisan yang dipasang adalah beberapa hal yang bisa diperbaiki dari pengelolaan museum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bukan penikmat lukisan anda tidak perlu kuatir karena bentuk bangunan yang berarsitektur Bali asli juga layak untuk dinikmati, selain itu museum ini penuh dengan koleksi pemiliknya berupa buku-buku tua, furnitur Bali dan beberapa ukiran lainnya. Ada pula toko souvenir kecil disamping bangunan utama bagi anda yang ingin sekedar membeli kenang-kenangan berupa kartu pos dan barang lainnya. Anda tidak diijinkan untuk mengambil gambar lukisan-lukisan didalam museum karena dikuatirkan akan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ninuk.A&lt;br /&gt;Lokasi : Jl Hang Tuah. Telp 0361 286 201&lt;br /&gt;Foto : Ninuk.A&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.navigasi.net/goart.php?tab=a&amp;amp;a=mumayeur" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;Navigasi.net&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-8246256522386904614?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/8246256522386904614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/museum-le-mayeur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8246256522386904614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/8246256522386904614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/museum-le-mayeur.html' title='Museum Le Mayeur'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-2021020815974735447</id><published>2010-06-29T10:59:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:22.838-07:00</updated><title type='text'>Air Panas Desa Banjar</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Air Panas Desa Banjar" height="106" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/banjar.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Pada awalnya saya mengira tempat ini lebih banyak dikunjungi oleh turis domestik atau malah turis lokal dari penduduk desa sekitar, tapi ternyata anggapan saya keliru. Walaupun dikelola dengan sederhana dibanding lokasi wisata lain di Bali dan tidak banyak dipublikasikan tempat ini ternyata mampu menarik wisatawan mancanegara yang tidak sedikit dan mereka tampak sangat menikmati tempat ini. Sebagian menyebutkan lokasinya ditengah pepohonan dan masih asri membuat mereka betah berendam dikolam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di Desa Banjar yang tidak jauh kawasan&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Pemuteran dan berjarak sekitar 25km dari Singaraja air panas ini harus dilalui dengan berjalan kaki karena kendaraan hanya bisa masuk dan parkir tepat didepan tempat penjualan tiket.&amp;nbsp;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Air Panas Desa Banjar" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/banjar1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Lokasinya sangat rimbun, hijau dan asri memungkinkan kita untuk berjalan berlambat-lambat menikmati suasana. Sepanjang perjalanan yang berjarak kurang lebih 300m untuk bisa mencapai lokasi kolam terdapat banyak penjual toko souvenir khas Bali selain penjual makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber air panasnya sendiri konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu tapi hanya pada saat pendudukan Jepang sumber air ini dibenahi dan ditata.&lt;br /&gt;Sumber air dan kolamnya sendiri tidak terlalu jauh, dinaungi oleh pohon beringin dan diberi pagar untuk keselamatan. Mungkin agar tidak ada pengunjung atau anak-anak yang iseng sehingga bisa terperosok didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Air Panas Desa Banjar" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/banjar2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Kolam air panasnya dibagi menjadi tiga bagian dengan tingkat ketinggian yang berbeda-beda. Di kolam pertama air panas dialirkan melalui mulut delapan pancuran naga. Air panas yang mengandung sulphur juga dialirkan ke kolam utama melalui mulut lima pancuran naga. Selain itu yang tidak kalah menjadi favorit dan kadang sampai ada yang rela antri adalah kolam ketiga dimana terdapat tiga pancuran air yang dialirkan dari ketinggian 3.5m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya pancuran membuat tubuh seperti di’pijat’ oleh air sehingga pengunjung rela berlama-lama berdiri dibawah pancuran air. Rata-rata kedalaman kolam adalah 1m, memang ini bukan kolam renang tapi lebih ke kolam pemandian untuk berendam. Hanya kolam terbesar memiliki kedalaman 1-2m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Air Panas Desa Banjar" height="173" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/banjar3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sebagaimana tempat pemandian air panas lain, air panas di Desa Banjar ini juga dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Suhu airnya dirasa cukup hangat untuk pancuran air yang terletak di daerah sejuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lokasinya ditempat terbuka pengunjung harus memakai baju renang (swimwear), tidak diperkenankan mandi tanpa busana atau mandi dengan menggunakan sabun atau shampoo dikolam. Lokasi tempat pemandian juga menyediakan ruang ganti pakaian. Ditepi lokasi kolam juga terdapat restoran buat anda sekeluarga selepas berenang atau sekedar menunggu anak-anak bermain dikolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya ada tiga kolam dan hanya satu yang paling besar, bisa dibayangkan betapa padatnya tempat ini apabila musim liburan tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Ninuk.A&lt;br /&gt;Lokasi : Desa Banjar&lt;br /&gt;Foto : Ninuk.A,&amp;nbsp;&lt;a href="http://images.travbuddy.com/1482391_12265850648782.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;travbuddy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.navigasi.net/goart.php?tab=a&amp;amp;a=apbanjar" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;navigasi.net&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-2021020815974735447?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/2021020815974735447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/air-panas-desa-banjar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2021020815974735447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/2021020815974735447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/air-panas-desa-banjar.html' title='Air Panas Desa Banjar'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-3171013165040232590</id><published>2010-06-29T10:50:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:53:28.672-07:00</updated><title type='text'>Percintaan Luc dan Ellie di Alas Purwo</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Alas Purwo" height="111" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/alas.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Apa jadinya jika cinta dua sejoli menyatu dengan cinta pada peri- kehidupan alam liar? Jawabnya: kenekatan pasangan Luc dan Ellie di pantai sunyi Plengkung, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, yang terkenal angker itu. Kami mengenal keduanya saat mereka minta tumpangan pada Mazda double cabin yang kami gunakan, Minggu pukul 14.00 di pos penjagaan Pancur, Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sudah tidur di pinggir pantai dua hari. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kami bikin api dan masak mi. Kami mau coba ke Plengkung untuk surfing,” kata Luc (23), anak muda yang mengaku dari London dan baru saja menggelandang di Pulau Dewata selama sepekan bersama istrinya, Ellie, asal Afrika Selatan.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam asli, liar, tapi berbiaya murah; itulah obsesi dan cara pendekatan Luc dan Ellie van der Walt (21) akan ”dunia” mereka. Demi menghemat biaya pula, tiga hari sebelumnya sejoli itu memilih menyeberang dengan feri dari Gilimanuk, Bali, ke Ketapang, Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sebenarnya sudah timbul menjelang masuk Hutan Purwo, saat kami melewati pos penjagaan pertama Rowobendo. Margo, penjaga tiket, bertanya, ”Mau berwisata atau mencari bahan berita, Mas. Kalau mencari bahan berita, tidak boleh. Kalau berwisata, boleh masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Alas Purwo" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/alas1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;”Kami pilih berwisata saja, Mas Margo,” jawab kami buru-buru. ”Ya, silakan. Soalnya kalau mau meliput harus bawa simaksi, surat izin masuk kawasan konservasi,” kata Margo sopan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Taman Nasional Alas Purwo meliputi luas areal sekitar 43.420 hektar (ha) dan hampir 40 persen merupakan hutan bambu. Tipe vegetasi utamanya hutan hujan tropis dataran rendah dan terdapat mamalia besar, banteng. Sedangkan mamalia kecil antara lain rusa, kijang, babi hutan, macan tutul, dan kera. Jenis burung yang sering dijumpai: ayam hutan, beo, kangkareng, jalak, puter, dan ketilang. Rombongan ekspedisi bahkan bersua dengan kijang, rombongan merak, lutung, monyet, serta puluhan rase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margo menerangkan, dari Pos Pancur—yaitu pos selanjutnya yang berjarak sekitar 8 kilometer—mobil dan motor tidak boleh masuk kecuali harus menyewa mobil pengelola kawasan itu, Rp 130.000 per mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Masalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pancur, pos kedua, inilah Luc dan Ellie bergabung. Keduanya rela terguncang-guncang di bak belakang sampai di Plengkung, pantai yang melengkung, dan ternyata amat sangat populer bagi kalangan peselancar dunia dengan sebutan G-Land. Disebut G-Land karena pantainya melengkung mirip huruf G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Alas Purwo" height="175" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/alas2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Konon di G-Land inilah gelombang besar terhimpun dan gelombang panjang bergulung bertalu-talu. Inilah satu dari empat tempat serupa di dunia yang masuk kategori ”impian” bagi peselancar sejagat. ”Memang, Pak, Plengkung ini sangat populer. Lihat saja di internet,” kata Nanang, petugas jaga Taman Nasional Alas Purwo di Pos Pancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan mendadak jadi kompleks. Bayangkan, tempat paling favorit bagi peselancar sejagat itu ternyata ada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Istilah taman nasional bagi sebagian besar penduduk pedesaan adalah teror karena beberapa yang terjadi di Indonesia, begitu satu kawasan dinyatakan sebagai taman nasional, kawasan itu steril dari penduduk, aktivitas apa pun. Petani pencari rumput pun harus menyingkir dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di Alas Purwo, taman nasional itu ”menyewakan” kepada empat investor untuk membangun cottage atau resor, yaitu Plengkung Indah Wisata alias Joyo’s Camp, Wanasasi Pramita Ananta atau Bobby’s Camp, Wana Wisata Alam Hayati (WWAH) alias Raymond’s Camp, dan Kenari Wisata alias Tiger’s Camp. ”Kontrak mereka 20 tahun untuk kawasan antara 2 hektar sampai 5 hektar. Kalau mereka melanggar, seperti salah satu resor, ya langsung dicabut. Tapi ini urusan orang atas, Mas,” kata salah satu petugas lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Alas Purwo" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/alas3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Masalah kedua, Luc dan Ellie adalah backpacker, pelancong miskin yang langsung mundur begitu ditodong tarif cottage Raymond’s Camp alias WWAH 45 dollar AS per malam. ”Itu terlalu mahal. Itu untuk orang kaya,” begitu gerutu Luc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ketiga: inilah kontradiksinya: sedikitnya 40 goa karst di Alas Purwo ini adalah kawasan sakral, lahan untuk bersemadi bagi pencinta selancar batin sejak zaman Majapahit. Nanang, anggota staf taman nasional itu, menyebut goa-goa tersebut adalah tempat bertapa para ”peselancar batin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kebetulan yang banyak orang Jawa dan orang lokal, Mas,” kata Nanang sambil menyebutkan sejumlah nama pejabat dan tokoh masyarakat yang ternyata pernah bertapa, antara lain di Goa Mangreng, Padepokan, Basori, Mayangkara, Istana, dan Goa Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena biaya menginap tak terjangkau itulah Luc dan Ellie duduk muram di karang pantai, beberapa meter dari cottage WWAH tadi. Di belakang mereka, beberapa orang dari WWAH menjual hotdog dan roti bakar lengkap dengan pemanggang listriknya di sana. Mereka juga menyediakan bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luc hanya mengelus-elus kaki istrinya yang bentol di mana-mana karena gigitan nyamuk. ”Saya ini pelukis dan pematung. Saya hanya ingin eksplor, eksplor mencari tempat-tempat sunyi dan liar,” kata Luc yang kumisnya mengingatkan pada tokoh perompak mbeling Johnny Depp dalam Pirates of The Caribbean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Alas Purwo" height="171" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/alas4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Setiba dari Bali, Luc dan Ellie sudah menginap di Alas Purwo, benar-benar tidur di alam terbuka, pinggir hutan yang berbatas laut, hanya mengandalkan sleeping bag. Pasangan suami-istri belia itu tidur di Pantai Triangulasi, tak jauh dari Pos Pancur. Di sekitar mereka berwisata ”ala Tarzan” itu, puluhan turis asing yang berduit minum bir dan bercengkerama menunggu gelombang pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke, oke. Kami ikut balik saja ke Pos Pancur. Kami bisa diantar ke goa-goa tempat bertapa? Kami mungkin akan tidur di sana,” kata Luc dan Ellie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik, malam ini saya akan cerita tentang goa-goa dan para pertapa itu. Silakan ke warung dulu,” kata Nanang menghibur Luc dan Ellie yang gagal menikmati ombak Plengkung seperti turis bule lain.…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : HARIADI SAPTONO&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://kompas.co.id/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;KOMPAS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/04/28/1217012p.gif" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;stat.k.kidsklik&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://sars4world.files.wordpress.com/2009/06/banteng-alas-purwo.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;sars4world&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://kabarburungkibc.files.wordpress.com/2009/04/gerbang-masuk.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;kabarburungkibc,&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Anbv9WNs150/Smh-JzikNMI/AAAAAAAAAA0/ftoeBmOLiGE/s400/alas+purwo+(335).JPG," style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;blogspot&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-3171013165040232590?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/3171013165040232590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/percintaan-luc-dan-ellie-di-alas-purwo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3171013165040232590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3171013165040232590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/percintaan-luc-dan-ellie-di-alas-purwo.html' title='Percintaan Luc dan Ellie di Alas Purwo'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-3700784724924933870</id><published>2010-06-29T10:44:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:55:21.022-07:00</updated><title type='text'>Menyingkap Misteri Gunung Lanang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Gunung Lanang" height="117" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/lanang.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Selama ini, Gunung Lanang populer sebagai tempat berburu wahyu. Setiap bulan Suro ritual berskala besar digelar disertai pagelaran wayang. Tetapi, ada misteri lain terkait asal mula gunung ini, yang nyaris tertutup oleh berbagai mitos lain. Gunung Lanang terletak di kawasan Pantai Congot, Kulonprogo. Gunung ini terkenal sebagai tempatnya para pelaku tirakat yang memburu pangkat dan derajat. Bahkan, wahyu keprabon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, realitas Gunung Lanang ini membuat &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;orang bertanda tanya. Pasalnya, berbagai bangunan yang ada di komplek petilasan Gunung Lanang ini diberi nama-nama berbau Hindu. Misalnya, Astana Jingga, Badraloka Mandira, Candi Wisuda Panitisan dan Tirta Kencana. Kecuali itu, di komplek Tirta Kencana juga didapati sebuah prasasti Ajisaka, terbuat dari semen berbentuk mirip sebuah pohon dengan dahan dan batangnya penuh aksara Jawa.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama berbau Hindu yang disematkan pada sejumlah bagian komplek Gunung Lanang, memiliki arti yang sungguh menggugah daya tarik mistis seseorang. Astana Jingga artinya sebuah tempat yang memancarkan sinar kuning kemerahan. Badraloka Mandira berarti sebuah bangunan dari batu bata yang memancarkan sinar keagungan. Sedangkan kata ‘Lanang’ diartikan sebagai lelaki, yang merujuk pada keyakinan bahwa Gunung Lanang tersebut merupakan petilasan seorang bangsawan dari Mataram Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Gunung Lanang" height="192" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/lanang1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Melihat nama-nama bercirikan Hindu dan maknanya, serta keyakinan sejumlah orang yang mengatakan Gunung Lanang sebagai petilasan bangsawan Mataram Kuno, tentu akan terhenyak jika kemudian melihat langsung petilasan ini. Sebab, segala nama dan ciri-ciri Mataram Kuno sebagaimana diyakini itu sungguh terasa bagai mitos yang dipaksakan. Sebab, tak ada satu pun ciri peninggalan zaman Mataram Kuno yang bisa didapatkan di tempat ini. Mengapa nama-nama itu disematkan, dikenal luas dan bagaimana sesungguhnya riwayat Gunung Lanang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nuansa Hindu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Lanang sebenarnya hanya sebuah bukit kecil di kawasan dusun Bayeman, Sindutan, Temon Kulonprogo, Jogjakarta. Pada puncaknya, didapati sebuah bangunan mirip monumen yang diberi nama Sasana Sukma. Puncak ini merupakan tempat dilakukannya berbagai ritual. Sebelum masuk ke puncak itu, di bawahnya terdapat bangunan terbuka yang terdiri dari empat trap. Tempat ini disebut Candi Wisuda Panitisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah barat Gunung Lanang, terdapat komplek bangunan Purna Graha atau Graha Kencana dan Tirta Kencana. Purna Graha merupakan tempat ritual khusus yang keberadaannya selalu terkunci untuk melindungi benda-benda yang dianggap berharga seperti pusaka. Tirta Kencana merupakan tempat air suci yang terbagi dalam dua bilik. Kedua bilik diberi genthong besar sebagai tempat menampung air suci. Dua bilik itu diberi nama Nawangwulan dan Nawangsih. Dua nama bidadari zaman Joko Tarub ini semakin membuyarkan kesan mistis zaman Mataram Kuno. Misteri apa yang sebenarnya tersembunyi di balik semua ciri fisik Gunung Lanang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="" height="181" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/lanang2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="306" /&gt;Prawiro Suwito (81), juru kunci Gunung Lanang yang masih sangat bugar kesehatannya, mengatakan kepada posmo, Gunung Lanang ini sudah dikenal sejak zaman Jepang. Di kala itu, Gunung Lanang adalah sebuah pasar yang ramai pada malam Selasa dan Jumat Kliwon. Bersamaan dengan itu, Gunung Lanang juga sudah dikenal keramat. Prawiro tak bisa menjelaskan bagaimana kemudian nama-nama Hindu itu disematkan di berbagai bagian komplek Gunung Lanang. Prawiro hanya menerima saja setiap bentuk sumbangan dari pelaku tirakat, yang hendak membangun kawasan Gunung Lanang berdasarkan wangsit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru kunci Gunung Lanang, menurut Prawiro, sudah berganti selama empat generasi. Prawiro sendiri sudah 15 tahun menjadi juru kunci di gunung itu. Menurutnya, juru kunci diwariskan secara turun-temurun. Tak seorang pun kuat menjadi juru kunci jika bukan dari garis keturunan juru kunci. Masyarakat setempat meyakini, Gunung Lanang adalah pengayomnya. Apa yang terungkap dari penuturan jujur Prawiro Suwito tentang riwayat Gunung Lanang ini, ternyata semakin membuat ciri-ciri Hindu sebagaimana tampak pada nama-nama bagian komplek gunung tersebut menjadi samar. Pasalnya, Prawiro justru mengemukakan fakta tutur yang sungguh lain dari mitos Gunung Lanang yang selama ini dikenal sebagai petilasan bertapa bangsawan Mataram Kuno.&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Petilasan Adipati Anom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Gunung Lanang" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/lanang3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Sedikit saja yang bisa digali dari penuturan juru kunci Gunung Lanang. Tetapi, sepenggal riwayat yang disampaikan Prawiro menampakkan titik terang terkait kebenaran asal-mula Gunung Lanang. Menurut Prawiro, Gunung Lanang sebenarnya adalah petilasan Adipati Anom, putra Sunan Mangku Rat I. Adipati Anom yang bersekutu dengan Belanda, disebutkan oleh Prawiro singgah di Gunung Lanang, setelah berhasil lolos dari kejaran para musuh di Cilacap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Prawiro ini mengungkap sejarah Mataram Hadiningrat, pasca Geger Trunojoyo di tahun 1675-1677 Masehi. Seperti diketahui, Mataram Hadiningrat di Pleret memang pernah runtuh oleh pemberontakan besar yang dipimpin oleh putra Adipati Cakraningrat di Madura, Trunojoyo. Runtuhnya Keraton Mataram di Pleret itu memaksa Sunan Mangku Rat I melarikan diri ke arah barat, bersama putra pangerannya. Sunan Mangku Rat I kemudian dalam Babad Ing Sengkala disebutkan wafat pada 10 Februari 1677 Masehi di Wanayasa, Banyumas. Sunan Mangku Rat I dimakamkan di Tegal Arum, sehingga kemudian dikenal pula dengan julukan Sunan Tegal Arum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal, Sunan Mangku Rat I telah menunjuk putranya, Adipati Anom, untuk menggantikannya sebagai raja dengan dukungan pihak Belanda. Dengan demikian, Adipati Anom segera kembali ke Jogjakarta, guna merebut kembali Keraton Mataram di Pleret yang saat itu sudah dikuasai oleh Adipati Trunojoyo. Menjadi logis keterangan Prawiro, jika pada saat perjalanan kembali dari Banyumas/Cilacap itu, Adipati Anom singgah di Gunung Lanang bersama seorang putri yang tidak diketahui namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawiro mengatakan, selama beberapa hari lamanya, Adipati Anom menetap di puncak Gunung Lanang. Sedangkan putri yang dibawanya dari Cilacap itu tinggal di sebelah barat Gunung Lanang, yang kini menjadi komplek Tirta Kencana. Prawiro mengatakan, Tirta Kencana itu dulu hanya sebuah Sendang bernama Sinongko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hubungan dengan Mataram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Gunung Lanang" height="191" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/lanang4.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Riwayat Gunung Lanang versi juru kunci tersebut, pada kemudian hari dikuatkan oleh kedatangan sejumlah kerabat Keraton Mataram di Jogjakarta yang bertirakat di gunung itu. Bahkan, Prawiro mengatakan, Sultan HB IX mendapatkan wahyu keprabon di Gunung Lanang. Banyak lagi menurut Prawiro, kerabat Keraton Mataram yang datang ke Gunung Lanang dengan menyamar. Hubungan antara Keraton Jogjakarta dengan Gunung Lanang ini juga dikuatkan lagi dengan adanya pemberian tombak pusaka dari Keraton Jogjakarta. Sayang, menurut Prawiro, tombak pusaka itu telah hilang dicuri orang dan hanya tinggal gagangnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawiro juga mengatakan, ketika Sultan HB IX jumeneng praja, kakek buyutnya yang menjadi juru kunci diberi nama keraton, Harjowiyono. “Nama asli buyut saya itu Singojoyo. Dari mbah buyut saya itulah diceritakan riwayat Adipati Anom yang setelah bertahta bergelar Sunan Mangku Rat II”, ujar Prawiro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, di sebelah selatan komplek Sendang Sinongko atau Tirta Kencana, terdapat bangunan tinggi yang disebut Gapura atau Astana Silongok. Bangunan ini menurut Prawiro digunakan oleh kerabat Keraton yang ingin menatap keluasan Laut Kidul. Diduga, bangunan ini dibuat di masa Sultan HB IX, sebagai sarana kontak batin dengan Ratu Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kesaksian mistis tentang didapatkannya wahyu keprabon Sultan HB IX di Gunung Lanang, pada masa berikutnya menarik sejumlah tokoh penting di negara ini. Prawiro mengatakan, seseorang yang mengaku utusan Pak Harto, pengusa ORBA, pernah datang bertirakat selama beberapa hari di Gunung Lanang. Prawiro juga menyebut pernah datangnya seseorang yang mengaku sebagai utusan Megawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Gunung Lanang tetap dilestarikan. Ritual besar diselenggarakan setiap malam 1 Suro. Dari para pelaku tirakat, diketahui godaan di Gunung Lanang ini cukup berat. Antara lain cobaan dari siluman Ular putih, Macan putih, Perkutut putih dan sejenisnya. Ada pun sang mbaurekso Gunung Lanang menurut Prawiro adalah Eyang Sidik Permana. Para pelaku tirakat yang berhasil ujubnya akan ditemui oleh Eyang Sidik Permana yang menurut Prawiro berjenggot panjang nyaris menyentuh tanah. Mengenakan udheng dan busana serba hitam. “Dari kesaksian lain, Sunan Kalijaga juga bisa muncul jika ujubnya terkabul”, pungkas Prawiro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : KOKO T.&lt;br /&gt;sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://derapkaki.multiply.com/journal/item/117" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;derapkaki&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.panoramio.com/photos/original/18500428.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;panoramio&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NMGKZ4-EuiE/SU4NRnETDPI/AAAAAAAABl4/AH6k9_gsyoQ/s400/DSC06061.JPG" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;blogspot,&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.krjogja.com/photos/ad331aab3268d6f4b26948ac5810db06.JPG" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;krjogja&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_V-lXge72bbQ/SE9lvuy_sEI/AAAAAAAAADs/oB_xJh207-c/100_5902.JPG" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;ggpht&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_qNNrP3Xq2fM/ScIZvq_uYmI/AAAAAAAABwI/lAQaDtnC0E0/s1600/a4.jpg" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;blogspot&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-3700784724924933870?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/3700784724924933870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menyingkap-misteri-gunung-lanang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3700784724924933870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3700784724924933870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/menyingkap-misteri-gunung-lanang.html' title='Menyingkap Misteri Gunung Lanang'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-3784283202372804149</id><published>2010-06-29T10:28:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:55:21.471-07:00</updated><title type='text'>Kampoeng Maen</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 524px;"&gt;&lt;tbody style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;tr style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;td colspan="2" style="font-size: 11px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" valign="top"&gt;&lt;img align="left" alt="Kampoeng Maen" height="118" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kampoeng.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="156" /&gt;Jika Anda mencari lokasi wisata yang bisa menghadirkan keceriaan sekaligus bisa membangun hubungan yang semakin erat antaranggota, datanglah ke Kampoeng Maen. Wahana-wahana di Kampoeng Maen sengaja dirancang agar aktivitas yang dilakukan mampu mempererat hubungan antar anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beragam jenis permainan yang bisa dipilih di Kampoeng Maen. Bagi yang ingin berpetualang bisa memilihkan si buyung masuk ke Kampoeng Petualangan. Kampung ini menawarkan beragam kegiatan permaianan yang bisa memacu adrenalin seperti flying fox untuk anak dan dewasa, permainan burma bridge, wall climbing berukuran mini, jalan repot, elvis walk, two line, dan low rope course.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin mengajak anak-anak belajar membuat dan mengenal jenis-jenis makanan, bisa memilih untuk masuk ke Kampoeng Rasa. Di sini anak dapat belajar tentang bagaimana proses dan cara membuat sebuah makanan dengan peralatan dapur yang ukurannya sudah disesuaikan, setiap masakan yang dibuat bisa langsung dinikmati pembuatnya. Pilihan makanan menu tradisional atau internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="right" alt="Kampoeng Maen" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kampoeng1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Bagi yang ingin merasakan suasana pedesaan sekaligus menjalani aktivitas masyarakat desa boleh menyambangi Kampoeng Tradisional. Di sini, kegiatan dan permainan tradisional bisa dipilih. Seperti membuat batik, seni celup kain jumputan, menganyam lidi untuk membuat piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampoeng Maen memiliki sebuah kampung yang dapat menambah pengetahuan. Kampung ini diberi nama Kampoeng Pengetahuan. Terdapat display pengetahuan bidang fisika yang dilengkapi dengan penjelasannya. Pengunjungnya pun bisa mempelajari tentang baterai tangan, tic tat toe, kincir angin, permainan yang tak kalah menarik adalah transfer bola dari tiang bambu ke ember. Sembari mempelajari teori beban dan gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="Kampoeng Maen" height="194" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/kampoeng2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="256" /&gt;Ajak anak-anak ke Kampoeng Karya, sehingga mereka bisa berkarya sesuai minatnya menghias taping, berkreasi dengan kantung plastik, hingga rancang bangun rumah. Anak-anak dapat merasakan sebuah profesi orang dewasa seperti menjadi presenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan lain yang bisa dilakukan adalah masuk ke Kampoeng Keluarga. Tak hanya seru, pilihan permainan di sini mengasah kemampuan kolektivitas dan daya pikir. Permainannya seperti susun menara, pukul kentongan puzzle bata, bakiak, dan sungai buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati setiap petualangan di Kampoeng Maen, pengelola menjualnya dengan dua pilihan, yaitu sistem paket dan satu lagi sistem per Kampoeng. Tinggal memilih sesuai dengan keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampoeng Maen&lt;br /&gt;Buperta Cibubur, Jalan Bumi Perkemahan,&lt;br /&gt;Cibubur, Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Travel Club&lt;br /&gt;Foto :&amp;nbsp;&lt;a href="http://irmaes.multiply.com/" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;irmaes&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Time+Traveller&amp;amp;y=cybertravel|2|0|3|2649" style="color: #f85703; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;cbn&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-3784283202372804149?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/3784283202372804149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kampoeng-maen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3784283202372804149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/3784283202372804149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/kampoeng-maen.html' title='Kampoeng Maen'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-78600367986386652</id><published>2010-06-29T10:07:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T00:55:31.323-07:00</updated><title type='text'>Ada Istana Kucing di Tanjung Kodok</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Setidaknya menjelang bulan Ramadan dan Syawal nama Tanjung Kodok ramai disebut orang. Di tempat itu para ulama mengintip rukyat guna menentukan datangnya bulan puasa dan hari Lebaran. Kini Tanjung Kodok menjadi makin meriah karena di tempat itu berdiri fasilitas wisata bernama Wisata Bahari Lamongan yang popular disebut WBL.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Ya, sampai empat tahun lalu kawasan Tanjung Kodok masih bisa dibilang senyap. Di jalur Pantai Utara Jawa Timur yang dilalui jalan raya Anyer-Panarukan bikinan Jenderal Daendels di zaman kolonial itu memang terdapat objek wisata Goa Alam Istana Maharani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; color: #484848; font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Truk-truk bermuatan berat juga berlalu-lalang antara Gresik dan Tuban. Bahkan, meski hanya enam kilometer dari Tanjung Kodok ada makam Sunan Drajat, salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang banyak diziarahi, kawasan Tanjung Kodok yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu belum bisa dibilang ramai.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Namun, kini suasananya sudah berbeda. Persis di pinggir laut di seberang Goa Maharani, telah berdiri tembok kokoh menyerupai benteng yang memiliki empat pintu gerbang. Di depan gerbang berdiri restoran dan pertokoan. Di depan restoran dan toko yang menyediakan aneka cendera mata itu pun terhampar halaman parkir yang sangat luas.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Jadi bila kita mengurangi kecepatan kendaraan yang kita kemudikan di atas penggalan jalan raya Anyer-Panarukan - sekitar 20 kilometer dari kota Tuban atau 65 km dari Surabaya, lalu berbelok memasuki halaman parkir--seorang juru parkir sudah akan menyapa, mengucapkan selamat datang sambil mempersilakan masuk. Itulah kawasan Tanjung Kodok yang dalam dua tahun ini sudah disulap menjadi kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL).&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Masyarakat Jawa Timur mengenal pula kawasan itu sebagai Jatim Park II karena pengembang kawasan itu sama dengan pengembang kawasan wisata Jatim Park I di kota Batu, Malang.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Rute Sembilan Wali&lt;/span&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="133" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Istanakucing1.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="205" /&gt;Kelompok investor yang mengembangkan kawasan wisata Jatim Park I, yaitu Pemda Jawa Timur dan sekelompok pengusaha swasta, rupanya menilai potensi wisata Tanjung Kodok cukup menjanjikan. Letak Lamongan yang berada di persimpangan antara Jawa Timur bagian selatan, bagian timur, dan bagian barat, termasuk Semarang dan Jawa Tengah, dianggap sangat strategis. Pengunjung Goa Maharani dan peziarah Makam Sembilan Wali juga dinilai cukup menunjang.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Seperti kita ketahui, setelah makam para wali di Jawa Tengah, rute wisata ziarah sembilan wali lazimnya akan diteruskan ke makam Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Lamongan, lalu Sunan Giri di Gresik, dan terakhir Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanannya dari makam Sunan Bonang ke makam Sunan Giri itulah peziarah bisa istirahat di Tanjung Kodok Beach Resort yang letaknya menyatu dengan WBL, sambil sekaligus berziarah ke makam Sunan Drajat yang cuma berjarak enam kilometer dari tempat itu.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Di Tanjung Kodok Beach Resort yang hingga kini pembangunannya masih terus disempurnakan itu sendiri sudah tersedia aneka paviliun dan vila dengan daya tampung antara tiga hingga delapan orang. Selain peziarah, keluarga yang gemar menikmati perjalanan serta siswa dari berbagai sekolahan juga dinilai merupakan pengunjung potensial kawasan wisata WBL.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;"Bagi masyarakat umum, nama Tanjung Kodok sendiri sudah sangat akrab sebagai tempat wisata," imbuh Ali Muchammad, Direktur Utama WBL.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Justru dengan dikembangkannya kawasan WBL itu, menurut Ali Muchammad, masyarakat Jawa Timur kini memiliki tujuan wisata yang lebih lengkap. "Kalau suka pegunungan bisa ke Batu, kalau suka laut bisa datang ke sini," katanya.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;img align="left" alt="" height="205" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Istanakucing2.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="181" /&gt;Unsur Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Mirip Dunia Fantasi di Ancol, Jakarta, kalau dihitung, saat ini sudah terdapat sekitar 34 wahana wisata yang dapat dinikmati di WBL. Wahana tersebut meliputi wahana misteri, semisal Rumah Sakit Hantu, wahana eksplorasi semisal Istana Bawah Laut dan Goa Insektarium, wahana permainan dan ketangkasan semisal menembak, motor-cross, ATV dan space shuttle, panggung hiburan, hingga wahana petualangan seperti playground dan bumi perkemahan.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Perlu waktu setidaknya satu jam untuk sekadar berkeliling tanpa berhenti di kawasan wisata seluas 17 hektar itu. Bila ingin menikmati sebagian fasilitas yang tersedia, kurang lebih dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Sebagaimana di Jatim Park I, unsur pendidikan juga terasa kental dalam penataan fasilitas wisata di WBL. Begitu beli karcis masuk seharga Rp 30.000 (hari biasa) atau Rp 40.000 (akhir pekan), dan kemudian melintas ke kiri dari arah gerbang mengikuti tanda petunjuk yang terpasang, pengunjung akan langsung tergiring masuk ke Rumah Kucing. Di tempat ini pengunjung, terutama anak-anak, akan diperkenalkan dengan 64 jenis kucing yang biasa dipelihara dan dilombakan.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;"Di antara 250 karyawan, kami punya sejumlah dokter hewan untuk merawat kucing dan kuda," tutur All Chandra, General Manager WBL.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Dokter-dokter itulah yang akan menjelaskan kepada pengunjung tentang latar belakang dan jenis kucing serta kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Menurut Ali Chandra, di Rumah Kucing itu kadang jugs digelar lomba kucing (kucing show) yang diikuti oleh peserta dari berbagai kota.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Selain kucing, di kawasan itu memang tersedia pula kuda lengkap dengan kandang yang dibentuk sedemikian rupa hingga mirip perkampungan koboi, dan lapangan untuk belajar menunggangi binatang tersebut.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Kemudian setelah Rumah Kucing, bahkan Rumah Sakit Hantu pun menyelipkan unsur pendidikan. Setelah pengunjung berkeliling ke bangsal-bangsal rumah sakit dan dikejutkan oleh gerakan mendadak aneka sosok pasien yang bentuknya menyeramkan, di pintu keluar seorang petugas siap menjelaskan kalau semua yang tampak mengerikan itu hanyalah kombinasi permainan antara motor listrik, efek lampu, dan sensor elektrik.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;"Jadi, sosok mayat itu bisa tiba-tiba bergerak kalau sensor yang dipasang membaca ada gerakan," tutur seorang petugas Rumah Sakit Hantu.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Karang Menjorok&lt;/span&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;img align="right" alt="" height="205" hspace="5" src="http://liburan.info/images/stories/Istanakucing3.jpg" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" width="154" /&gt;Unsur pendidikan itu tetap kental hingga menjelang gerbang keluar. Setelah melewati Kandang Kuda, pengunjung akan sampai ke suatu anjungan yang disebut Anjungan Wali Songo. Di anjungan ini disuguhkan miniatur makam atau mesjid yang didirikan oleh para wali. Latar belakang dan riwayat para penyebar agama Islam tersebut juga bisa dipelajari di tempat itu.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Karena letaknya persis di pinggir laut, dan namanya pun wisata bahari, tentu saja atraksi air menjadi porsi utama di Tanjung Kodok. Selain kolam renang air tawar dan air laut, tersedia setidaknya 11 jenis gerai untuk berbasah-basah ria, mulai dari water-boom hingga arena mancing, bermain speedboat hingga naik kapal pesiar, yang secara keseluruhan tarifnya dimulai dari Rp 5.000 hingga Rp 1.750.000.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Nama Tanjung Kodok sendiri diambil dari karang-karang menjorok yang menyerupai kodok. Di pinggir laut di salah satu sudut kawasan wisata itu masih bisa dijumpai Menara Rukyat, tempat para ulama menentukan tibanya bulan Ramadan dan Idul Fitri. Sejak dulu, pantai berair tenang itu memang menjadi tujuan banyak orang di Jawa Timur untuk melepaskan lelah sambil sekaligus menghimpun kesegaran baru, umumnya setelah mereka mengunjungi Goa Maharani yang terletak di seberangnya.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Kata penduduk setempat, di pantai itu sebagian dari pengunjung biasa melaut dengan menyewa perahu nelayan. Sebagian lainnya memilih duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan. Santai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-78600367986386652?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/78600367986386652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ada-istana-kucing-di-tanjung-kodok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/78600367986386652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/78600367986386652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/ada-istana-kucing-di-tanjung-kodok.html' title='Ada Istana Kucing di Tanjung Kodok'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2644188197166555151.post-1990677477992050338</id><published>2010-06-29T02:52:00.001-07:00</published><updated>2010-07-06T00:55:32.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hotel di Malang'/><title type='text'>'Wisata Bahari Lamongan', Primadona Baru Wisata Jatim</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: verdana, tahoma, arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 1px; -webkit-border-vertical-spacing: 1px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; color: #333333; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 16px;"&gt;Dulu publik pasti merasa masih asing kalau mendengar nama Pantai Tanjung Kodok dan Gua Maharani. Kedua objek wisata yang terdapat di kabupaten Lamongan ini sebelumnya tak begitu dikenal penghobi wisata jalan-jalan. Kalaupun ada yang sudah pernah kesana, mereka hanya singgah sebentar di dua obyek tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 1px; -webkit-border-vertical-spacing: 1px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; color: #333333; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 16px;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 1px; -webkit-border-vertical-spacing: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;Sekilas melihat batu berbentuk seperti kodok yang menjadi&amp;nbsp;&lt;i&gt;trade mark&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dari pantai itu dan berjalan sebentar dalam panasnya Gua Maharani. Minimnya fasilitas membuat para wisatawan hanya sambil lalu saat berkunjung kesana.&lt;br /&gt;Namun sekarang tak lagi seperti itu, bisa dibilang apa yang dilakukan pemkab Lamongan dengan menyulap dua obyek itu menjadi kawasan wisata terpadu 'Wisata Bahari Lamongan (WBL)' sungguh terobosan luar biasa.&lt;br /&gt;Daerah wisata yang bertempat di Jalan Raya Daendeles (Pantura) itu kini mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jatim. Kini, tempat itu menjadi salah satu katalog agenda wisata keluarga Jatim. Selain Jatim Park I di Batu, Sengkaling di Malang, atau Pantai Ria Kenjeran di Surabaya, warga Jatim bisa memilih WBL sebagai salah satu tempat tujuan melepas penat bersama keluarga.&lt;br /&gt;Awalnya kawasan yang disajikan dengan konsep&amp;nbsp;&lt;i&gt;one stop service&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu dibangun di atas tanah seluas 17 hektar. Untuk ke depanya area wisata itu akan dikembangkan lagi hingga 24 hektar.&lt;br /&gt;Pembangunan pertama area wisata itu mengembangkan kawasan wisata Tanjung Kodok yang disulap menjadi tempat wisata modern dengan aneka fasilitas wisata. Berdirinya WBL adalah hasil kerja sama antara Pemkab Lamongan dan PT. Bunga Wangsa Sejati yang sebelumnya membangun Jatim Park I di Batu. Dari kerja sama itu, kemudian dibentuk PT. Bumi Lamongan Sejati sebagai pihak yang mengelola WBL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 1px; -webkit-border-vertical-spacing: 1px;"&gt;&lt;div class="newspic" style="color: #333333; font: normal normal normal 13px/1.25em arial, sans-serif;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://media.kapanlagi.com/p/wbl1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang Satu WBL&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiket Rp10.000-Rp15.000 dan tiket terusan Rp25.000-Rp35.000, pengunjung dapat menikmati sedikitnya 20 macam fasilitas wisata.&lt;br /&gt;Aneka fasilitas wisata itu di antaranya adalah arena ketangkasan, insektarium, marina, kolam renang air tawar, kolam renang laut dengan pantai pasir putih buatan,&amp;nbsp;&lt;i&gt;bumper car&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;space shattle&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;kano&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;long boat&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;bumper boat&lt;/i&gt;, tagada, planet kaca, sarang bajak laut, arena pacuan kuda, dan sirkuit&amp;nbsp;&lt;i&gt;go kart&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Tak hanya itu, pengunjung akan disediakan tempat belanja komplet khas Jatim yang bisa dijumpai di&amp;nbsp;&lt;i&gt;souvenir shop&lt;/i&gt;. Di tempat tersebut tersedia produk unggulan, pasar ikan, buah dan sayur, serta pasar hidangan yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00. Daya tarik WBL tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap. Namun, daya tarik paling berharga terletak pada pemandangan lepas pantai ke Laut Jawa di utara WBL.&lt;br /&gt;Bisa dipastikan, daya tarik WBL semakin memikat saat perluasan tahap kedua kawasan itu rampung. Perluasan WBL mengembangkan kawasan wisata Goa Maharani yang terletak 300 meter sebelah selatan area Tanjung Kodok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="newspic" style="color: #333333; font: normal normal normal 13px/1.25em arial, sans-serif;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://media.kapanlagi.com/p/wbl2.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang Dua WBL&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, antara kawasan wisata Tanjung Kodok dan Goa Maharani disatukan dalam satu paket wisata bahari. Sebagai sarana penghubung, pengunjung bisa memanfaatkan kereta gantung, sebuah jaringan kereta gantung pertama di Jatim.&lt;br /&gt;Kini, pengembangan sedang difokuskan pada pembangunan hotel dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;convention hall&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di sebelah barat Tanjung Kodok. Bahkan, pembangunan hotel berbintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar itu sudah selesai 70%. Hotel dengan kapasitas 500 pengunjung disiapkan sebagai 'barak penginapan' di mana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar.&lt;br /&gt;Lokasi wisata WBL bisa ditempuh dengan kendaraan jenis apa pun. Sebab, letaknya tepat di pinggir Jalan Raya Daendels, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya satu jam perjalanan arah utara kota Lamongan dan satu setengah jam arah barat kota Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="newspic" style="color: #333333; font: normal normal normal 13px/1.25em arial, sans-serif;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://media.kapanlagi.com/p/masjid_wbl.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Masjid, sarana ibadah WBL&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 1px; -webkit-border-vertical-spacing: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari tempat itu, sekitar lima kilometer arah timur, pihak Pemkab Lamongan akan mengembangkan sebagai kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Intregated Shorbase (LIS).&lt;br /&gt;Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan ikan Brondong yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jatim. Kawasan wisata ini juga dekat dengan sentra kerajinan emas, batiktulis dan bordir desa Sendang Agung dan Sendang Duwur.&lt;br /&gt;Sungguh konsep bagus yang dikembangkan Pemkab Lamongan dan pengembang Jatim Park ini, wahana rekreasi yang memanfaatkan potensi dari Pantai Tanjung Kodok menjadi begitu menariknya. Tidak hanya memanfaatkan lokasi pantai tapi benar-benar melibatkan pantai sebagai salah satu wahananya. Salah satu alternatif menarik bagi kita terutama yang suka sekali dengan pantai, WBL menjawab semua keinginan kita. Satu catatan saja, jangan lupa pakai&lt;i&gt;sunblock&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan minum air yang banyak, karena hawa disana panas sekali.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Have fun guys!&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;(cax)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kapanlagi.com/a/old/wisata-bahari-lamongan-primadona-baru-wisata-jatim.html"&gt;http://www.kapanlagi.com/a/old/wisata-bahari-lamongan-primadona-baru-wisata-jatim.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2644188197166555151-1990677477992050338?l=infonesi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://infonesi.blogspot.com/feeds/1990677477992050338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/infonesi1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1990677477992050338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2644188197166555151/posts/default/1990677477992050338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infonesi.blogspot.com/2010/06/infonesi1.html' title='&apos;Wisata Bahari Lamongan&apos;, Primadona Baru Wisata Jatim'/><author><name>Jannati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
